Tempe Mengecil, Rakyat Terhimpit: Saat Pangan Pokok Kalah Sama Kurs Dolar
Agama | 2026-05-30 15:20:11Tempe Mengecil, Rakyat Terhimpit: Saat Pangan Pokok Kalah Sama Kurs Dolar
Oleh: Mariah Hati, S.Pd (Aktivis & Pendidik)
Mei 2026, pedagang tempe di Malang, Jakarta Barat, dan berbagai daerah serentak ngeluh. Pelemahan rupiah bikin harga kedelai impor melambung. Ujungnya? Ukuran tempe dikecilin, produksi dikurangi. Rakyat yang doyan tempe sebagai lauk murah meriah jadi ikut tercekik. [kumparan.com, 2026] [kompas.id, 2026]
Ironisnya, tempe yang dulu jadi simbol pangan mandiri rakyat kecil, sekarang nasibnya digantung kurs dolar. Ditambah harga plastik kemasan ikut naik, perajin makin terhimpit. Padahal data CNBC bilang warga RI doyan makan mie dan tempe, impornya aja tembus triliunan rupiah. [cnbcindonesia.com, 2026] Ketergantungan ini yang bikin rakyat kecil paling duluan jatuh saat rupiah goyah.
Rupiah Melemah, Perajin yang Menangis
Dalam sistem kapitalisme, nilai uang ditentukan pasar dan spekulasi. Rupiah melemah sedikit, harga pangan pokok langsung ikut limbung. Padahal tempe bukan barang mewah. Dia makanan rakyat. Tapi negara abai membangun kemandirian. Petani kedelai lokal nggak dikuatkan, lahan pertanian nggak dihidupkan. Ujungnya kita impor, lalu rakyat kecil yang jadi korban.
Lemahnya peran negara juga kelihatan dari minimnya perlindungan ke perajin. Saat harga naik, negara cuma bisa himbau "bijaklah". Tapi nggak ada jaminan stabilitas harga, nggak ada subsidi, nggak ada proteksi. Wajar kalau perajin milih ngecilin tempe daripada bangkrut.
Islam: Pangan Rakyat Bukan Korban Kurs
Berbeda dengan kapitalisme, Islam menempatkan pemenuhan kebutuhan pokok sebagai tanggung jawab negara. Negara wajib menjamin tiap individu dapat akses pangan pokok, termasuk melindungi usaha rakyat kecil seperti perajin tempe.
Dalam sistem Khilafah, mata uang berbasis emas dan perak bikin nilai uang lebih stabil. Nggak mudah dipermainkan spekulan. Lebih dari itu, negara aktif menghidupkan lahan pertanian, mendorong produksi kedelai mandiri, dan memutus rantai ketergantungan impor triliunan rupiah. [megapolitan.kompas.com, 2026]
Politik ekonomi Islam nggak mengejar keuntungan korporasi, tapi fokus pada kemaslahatan umat. Perajin tempe nggak akan dibiarkan terhimpit sendirian. Karena mereka bagian dari rantai ketahanan pangan umat.
Mengakhiri Ilusi "Tempe Tetap Murah"
Mengandalkan impor sambil berharap harga tempe tetap murah adalah ilusi. Selama sistem ekonomi masih kapitalistik, selama negara abai memandirikan petani, maka tiap rupiah melemah = rakyat makin lapar.
Reformasi kecil macam operasi pasar nggak akan menyelesaikan. Selama akar masalahnya sistem, maka tempe akan terus mengecil dan rakyat terus terhimpit.
Sudah saatnya kita bicara solusi sistemik. Sudah saatnya menuntut negara hadir sebagai penjamin pangan, bukan penonton saat rakyat kecil menangis. Karena hanya dengan penerapan Islam kaffah, pangan pokok rakyat bisa benar-benar aman dan mandiri.
Wallahua’lam bishawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
