Gaza Diblokade dan Terus Diserang, Di Mana Negara-Negara Muslim?
Politik | 2026-05-26 13:06:23
Oleh Vina Meilany
Aktivis Muslimah dan Pendidik Generasi
Zionis tidak mengenal batas dalam blokade atas Gaza. Setelah menyita kapa-kapal pembawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza, Zionis kembali menjadi sorotan internasional. CNN Indonesia, Jakarta (Kamis, 30/4/2026) - Pemerintah Italia dan Jerman melayangkan teguran keras kepada Israel untuk menghormati hukum internasional dan menahan diri dari "tindakan tidak bertanggung jawab".
Kecaman ini muncul setelah pasukan angkatan laut Israel mencegat armada kapal bantuan kemanusiaan (flotilla) di perairan internasional yang sedang menuju Gaza. "Italia dan Jerman mengikuti dengan keprihatinan besar perkembangan terkait Global Sumud Flotilla, yang disita tadi malam, di perairan internasional di lepas pantai Yunani," demikian pernyataan yang dirilis Roma dan Berlin.
Zionis melanggar hukum internasional dan banyak melakukan pelanggaran gencatan. Untuk membunuh ribuan warga di jalur Gaza menggunakan kelaparan dan pembatasan air sebagai senjata, Zionis juga membatasi bantuan yang masuk ke Gaza. Kebiadaban Zionis tidak berhenti sampai di sini, mereka menggunakan label "Teroris" untuk setiap bentuk solidaritas terhadap Palestina, label ini digunakan kepada siapapun yang memberi dukungan terhadap Palestina.
Berbagai aksi solidaritas internasional yang dilakukan relawan kemanusiaan, masyarakat sipil dan aktivis perdamaian lahir dari kepedulian atas penderitaan rakyat Gaza. Jadi tuduhan tersebut lebih pantas disebut alat propaganda politik dibandingkan dengan penegakan hukum yang di klaim Zionis.
Meskipun terang benderang kebiadaban Zionis, ironisnya tidak ada satupun penguasa negara-negara Muslim yang mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal tersebut.
Negara-negara Muslim terpecah belah menjadi nation state melalui serangan politik, akhirnya umat Islam membatasi gerak mereka pada kepentingan nasional masing-masing. Bentuk solidaritas terhadap Gaza hanya berhenti pada kecaman diplomatik dan bantuan simbolis. Hal ini membuktikan bahwa sistem negara bangsa (nation state) tidak dirancang untuk melindungi umat Islam, tetapi untuk menjaga eksistensi Zionis. Dan mereka tunduk pada sistem politik internasional sekuler dan kepentingan global, akibatnya berbagai bentuk penjajahan, penindasan dan pembantaian terhadap kaum Muslimin termasuk di Palestina tidak diselesaikan secara syar'i, melainkan dengan kecaman diplomasi.
Solusi Islam
Palestina adalah tanah kaum Muslimin yang wajib dilindungi sejak sistem Islam masih ada hingga keruntuhannya, Palestina tetap dijaga dengan darah-darah para syuhada.
Membiarkan blokade ini tetap berlanjut tanpa tindakan nyata adalah kemungkaran yang wajib diubah dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh kaum Muslimin. Allah Ta'ala telah mensyariatkan bahwa jika terjadi penjajahan, solusi syar'i-nya adalah Jihad Fii Sabilillah. Sebagaimana Firman Allah SWT :
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al-Baqarah : 190)
Kaum Muslimin di Gaza dan beberapa pemuda secara personal di negara-negara kaum Muslim telah memberikan nyawa mereka untuk membebaskan Palestina, tetapi kekuatan ini belum memberikan tekanan kepada Zionis.
Umat Islam di Palestina membutuhkan kekuatan negara untuk menegelamkan hegemoni Amerika Serikat dan kebiadaban Zionis. Yang mampu mewujudkannya hanyalah sistem Islam.
Untuk membebaskan Gaza, umat Islam harus mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Bersama kelompok Islam Ideologis memperjuangkan kembalinya sistem Islam, merupakan kewajiban umat Islam saat ini. Perjuangannya bukan hanya rasional melainkan membangun kepemimpinan politik Islam yang bertumpu pada ideologi sahih.
Islam memiliki kepemimpinan yang menerapkan syariat dan menjaga negara-negara Muslim dari penjajahan. Dalam Islam, penderitaan Gaza bukan hanya simpati tetapi untuk menggerakan umat, membangun kekuatan, dan menghadapi kepemimpinan, yang benar-bener menjadi pelindung (junnah).
Hanya sistem Islam yang secara syar'i memiliki kewenangan dan kewajiban untuk melindungi jiwa-jiwa kaum Muslimin yang ditindas oleh kekuatan zalim dengan Jihad Fii Sabilillah.
Wallahu'alam Bishawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
