Rajab dan Isra Miraj: Saatnya Membumikan Hukum Allah di Tengah Krisis Dunia
Dunia islam | 2026-01-16 09:31:18Bulan Rajab dan peristiwa agung Isra’ Mi‘raj bukan sekadar momentum spiritual yang diperingati secara seremonial setiap tahun. Lebih dari itu, ia adalah pengingat tentang hubungan langit dan bumi—tentang hukum Allah yang diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Ketika Isra’ Mi‘raj hanya dipahami sebagai kisah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dan perintah shalat semata, maka umat Islam telah kehilangan pesan terpenting dari peristiwa besar tersebut.
Isra’ Mi‘raj sejatinya adalah momen turunnya hukum dari langit untuk ditegakkan di bumi. Inilah pesan ideologis yang kerap terabaikan di tengah perayaan yang lebih menonjolkan sisi ritual dan seremoni.
Membumikan Hukum Allah, Bukan Sekadar Memperingati
Dunia hari ini diatur oleh sistem hukum buatan manusia yang berakar pada sekularisme dan kapitalisme. Sistem ini secara sadar menyingkirkan peran agama dari pengaturan kehidupan publik. Akibatnya, hukum Allah dipisahkan dari ekonomi, politik, dan tata kelola negara, sementara syariat dibatasi pada urusan ibadah individual.
Isra’ Mi‘raj seharusnya menjadi momen muhasabah kolektif: sampai kapan umat Islam membiarkan hukum Allah hanya hidup di mimbar, tetapi mati dalam realitas sosial dan politik? Membumikan hukum Allah berarti berani meninggalkan sistem sekuler kapitalisme yang terbukti melahirkan ketimpangan, penindasan, dan krisis kemanusiaan, lalu menggantinya dengan sistem yang berlandaskan wahyu.
Palestina dan Luka Umat yang Tak Pernah Sembuh
Tak bisa dilepaskan dari makna Isra’ Mi‘raj adalah Masjidil Aqsa—tanah suci tempat Rasulullah ﷺ memulai perjalanan menuju langit. Hari ini, tanah itu masih berada dalam penjajahan, menjadi simbol nyata keterpurukan politik umat Islam. Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi cermin dari tercerai-berainya umat dan hilangnya kepemimpinan yang mampu melindungi kaum tertindas.
Di berbagai belahan dunia lain, umat Islam menghadapi nasib serupa. Minoritas Muslim di Rohingya, Uighur, India, Filipina Selatan, dan wilayah lainnya mengalami penindasan yang berkepanjangan. Semua ini menunjukkan satu fakta pahit: tanpa kepemimpinan yang kuat dan berpijak pada nilai Islam, umat akan terus menjadi korban ketidakadilan global.
Persatuan Umat dan Kepemimpinan Islam
Sejarah Islam mencatat bahwa umat ini pernah bersatu di bawah satu kepemimpinan yang mampu melindungi kehormatan manusia, menegakkan keadilan, dan menjaga wilayah kaum Muslim. Persatuan itu tidak lahir dari nasionalisme sempit atau kepentingan politik pragmatis, melainkan dari kesadaran ideologis bahwa Islam adalah sistem hidup yang sempurna.
Rajab dan Isra’ Mi‘raj seharusnya membangkitkan kembali kesadaran ini: bahwa umat Islam membutuhkan kepemimpinan Islam yang menyatukan, bukan sekadar pemerintahan yang mengelola administrasi. Kepemimpinan yang menjadikan syariat sebagai rujukan utama dalam mengatur urusan rakyat dan hubungan internasional.
Perjuangan Pemikiran yang Konsisten
Perubahan besar tidak lahir dari emosi sesaat, melainkan dari perjuangan pemikiran yang konsisten. Di tengah dominasi sistem global yang sekuler, diperlukan peran kelompok dan gerakan Islam ideologis yang terus membimbing umat, mencerdaskan pemikiran, dan menjaga arah perjuangan agar tetap lurus dan bermartabat.
Perjuangan ini bukan perjuangan kekerasan, melainkan perjuangan kesadaran, dakwah, dan politik pemikiran. Perjuangan untuk mengembalikan Islam sebagai solusi kehidupan—bukan sekadar identitas budaya atau simbol ritual.
Keyakinan Akan Kebangkitan
Umat Islam bukan umat yang miskin sejarah. Umat ini adalah umat Rasulullah ﷺ, umat Khulafaur Rasyidin, umat yang melahirkan tokoh-tokoh besar yang membela kehormatan Islam dan kemanusiaan. Keyakinan bahwa umat Islam mampu bangkit bukanlah utopia, melainkan janji sejarah yang berulang ketika umat kembali pada prinsip Islam secara utuh.
Rajab dan Isra’ Mi‘raj adalah panggilan untuk bangkit. Panggilan untuk menyambut perjuangan besar—menjadikan Islam kembali memimpin peradaban, menegakkan keadilan, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Lebih dari itu, Rajab dan Isra’ Mi‘raj semestinya menggerakkan umat Islam untuk menyadari urgensi mengembalikan Khilafah Islam sebagai institusi politik yang menyatukan umat dan menegakkan hukum Allah secara menyeluruh. Khilafah bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan kebutuhan riil untuk menghentikan fragmentasi umat, mengakhiri ketundukan pada sistem sekuler kapitalisme, serta menghadirkan kepemimpinan yang adil dan berdaulat. Dengan Khilafah, syariat Islam dapat diterapkan secara kaffah, umat terlindungi dari kezaliman global, dan dunia kembali merasakan kepemimpinan yang menjunjung keadilan, kemanusiaan, serta tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
