Arogansi AS, Dunia Menuju Peralihan Kepemimpan Global
Politik | 2026-01-26 22:53:38
Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan ambisi untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark pada awal 2026, didorong oleh kepentingan keamanan nasional, potensi sumber daya alam (mineral tanah jarang) akibat pencairan yang penting untuk teknologi modern dan posisi strategis Arktik sebagai pengawas setiap aktifitas Cina dan Rusia melalui Pangkalan Luar Angkasa Pituffik. Keinginan ini memicu ketegangan diplomatik, dengan penolakan keras dari Denmark dan Greenland dengan penegasan Greenland tidak untuk dijual, serta memicu peningkatan kehadiran militer sekutu NATO di wilayah tersebut (ugm.ac.id, 15-1-2025).
Guru besar Departemen Hubungan Internasional UGM, Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, S.I.P., M.A., menilai keinginan Trump yang ingin merebut Greenland merupakan suatu hal yang perlu ditanggapi serius, namun menurutnya "merebut" bukanlah kebijakan yang realistis.
Di hadapan publik AS, menurut Nur, Trump menampilkan diri sebagai pemimpin yang siap “mengamankan aset”, demi keamanan nasional. Namun kepada sekutu, khususnya Denmark, ia mengirim sinyal tekanan agar negara itu lebih sejalan dengan agenda keamanan AS di kawasan. Sementara, kepada publik dunia yang lebih luas, Trump hendak memberi pesan kepada Rusia dan Tiongkok bahwa AS akan terus meluaskan hegemoninya.
Kendali AS dengan Ideologi Kapitalismenya, Merusak
Dunia di bawah kendali AS dan ideologi kapitalismenya telah membuat umat Islam terjajah, lemah, menderita, dan semakin sekuler. Hampir semua bencana ekologis di dunia akibat keserakahan kepemimpinan Kapitalisme global ini. Semakin hari AS makin menunjukkan arogansinya dengan melakukan serangan dan ancaman ke berbagai negara di dunia termasuk Venezuela kemudian berusaha menguasai Greenland, dan yang termutakhir, mengundang lebih dari 60 negara untuk bergabung dalam proyeknya Board of Peace (piagam perdamaian).
Banyak pihak menilai sebagai lelucon yang tak lucu samasekali, dunia tahu bagaimana sepak terjang AS, setiap krisis, perang, inflasi dan lainnya selalu ada AS di belakangnya. Ketamakannya tak berhenti di sana, dengan Board of Peace, dimana Trump kelak yang menjadi ketua abadinya meski sudah tidak menjabat Presiden AS lagi, Trump ingin melangkahi peran PBB yang selama ini sudah menjadi ikon global penjaga perdamaian.
Namun karena sebagian besar anggota masih tidak berpihak kepada AS dan Israel atas Palestina dan Gaza, Trump pun membuat lembaga tandingan. Benarkah Board of Peace benar-benar akan menjadikan Gaza sebagai kota baru yang bersih dan modern? Tanpa warga Gaza, dengan susunan pejabat elitnya para petinggi AS, Israel dan Inggris rasanya sulit meyakinkan wacana itu jadi nyata, bisa-bisa nasib Gaza mirip Greenland, yang karena kandungan kekayaannya AS merasa perlu mengamankannya. Ironinya, presiden kita bergabung dan dengan sukarela menandatangai piagam perdamaian itu, ditambah dengan pembayaran keanggotaan yang bernilai hampir RP17 triliun dari APBN kita. Sungguh menyakitkan hati.
Dunia membutuhkan Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat
Ideologi kapitalisme sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) telah merusak sendi2 kehidupan umat Islam, baik dalam hal akidah, muamalah, akhlak, ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan. AS menggunakan berbagai cara, termasuk melakukan aneksasi ke negara lain demi menguasai sumberdaya alam tanpa memperdulikan tatanan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia. Baginya, dunia adalah miliknya dan AS-lah penguasanya.
Namun sejatinya, permusuhan yang paling mendasar adalah kepada Islam. AS dengan lembaga tinktanknya, Rand Corporation telah jelas menjustifikasi Islam sebagai kekuatan global yang bakal menghadang setiap langkahnya menguasai dunia dan seisinya. Allah swt. pun berfirman yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (TQS ali Imran:118).
Berdasarkan dalil ini, wajib untuk saling mengingatkan di antara umat Islam, bahwa Allah melarang kaum muslim menjadikan kafir sebagai teman kepercayaan dan tempat bersandar. Alasannya mereka selalu menyebabkan kemudaharatan, menyusahkan kaum muslim, dan yang harus diwaspadai kebencian mereka di hati lebih besar dari yang mereka tampakkan di mulut.
Allah Maha Tahu, tak ada jalan lain melawan segala kezaliman ini kecuali dengan memegang teguh mabda (ideologi) Islam yg bisa menjadi modal kebangkitan dengan tegaknya kepemimpinan Islam utk melawan hegemoni AS. Ya, sistem dengan sistem, tak ada yang sebanding guna menghentikan AS kecuali tegaknya sistem Islam.
Sebuah kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah saw. di Madinah, dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin, dan para Khalifah yang banyak selanjutnya hingga berakhir tahun 1942 di Khilafah Turki Utsmani. Sepanjang 1300 tahun, dunia dipimpin Islam, menjadi mercusuar peradaban dunia, karenanya keberadaan Islam menjadi satu-satunya harapan mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat. Tak hanya melindungi kaum muslim dari kemungkaran, tapi juga seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, dan berbagai kerusakan atau bencana. Wallahualam bissawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
