Dunia: Yang Dekat, yang Rendah, dan yang Menipu Bagaimana Seorang Mukmin Memandangnya
Khazanah | 2026-01-28 15:37:44Kata dunia terdengar akrab di telinga kita. Ia menjadi ruang hidup, arena kerja, dan panggung ambisi manusia. Namun, sedikit yang merenung bahwa istilah dunia dalam khazanah Islam memiliki makna filosofis yang jauh lebih dalam dan menggugah kesadaran eksistensial manusia.
Secara etimologis, kata dunia berasal dari bahasa Arab ad-Dunyā (الدنيا). Dalam Kamus Ma’ani, kata ini memiliki beberapa makna: tempat cobaan, kehidupan yang hadir saat ini, dan fase sebelum kematian. Akar katanya berasal dari adnā–yudnī yang berarti “dekat”. Dunia disebut demikian karena ia dekat dengan akhirat dan dekat pula dengan kematian. Ada pula yang mengaitkannya dengan kata dinā’ah (الدناءة), yang bermakna rendah dan hina.
Mengapa dunia disebut dekat? Karena rentang hidup manusia di dunia hanyalah sekejap dibandingkan dua fase eksistensi lain: sebelum diciptakan dan setelah kematian. Kedua fase itu tidak berbatas waktu, sedangkan dunia hanya sebuah interval singkat yang sering kali terasa panjang karena manusia terbuai olehnya.
Rasulullah ﷺ mengingatkan Abdullah bin Umar dengan pesan yang sangat eksistensial:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
Pesan ini menegaskan bahwa dunia bukan rumah sejati, melainkan persinggahan. Seorang musafir tentu tidak membangun istana di tempat transit; ia hanya mempersiapkan bekal untuk perjalanan berikutnya.
Dalam Al-Qur’an, kata dunia dan akhirat sama-sama diulang sekitar 115 kali. Ini menunjukkan keseimbangan perhatian Islam terhadap kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dunia tidak sepenuhnya dicela, namun tidak pula dijadikan tujuan akhir.
Pemikir modern Hammudah Abdalati menjelaskan bahwa dunia adalah ciptaan Allah yang memiliki tujuan historis dan spiritual, bukan kebetulan kosmik. Al-Ghazali, dengan nada sufistik, menyebut dunia sebagai “kampung bagi orang yang tiada kampung dan harta bagi orang yang tiada harta”—sebuah sindiran tajam bagi mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi.
Lalu bagaimana orang mukmin memandang dunia?
Bagi seorang mukmin, dunia bukanlah tujuan final, melainkan ladang amal. Kebahagiaan bukan terletak pada akumulasi materi, tetapi pada ketenteraman hati yang diterangi iman. Dunia adalah tempat menyemai amal untuk menuai hasil di akhirat.
Ketika manusia di hari perhitungan tertunduk kebingungan, seorang mukmin berdiri dengan tenang karena ia telah menyiapkan bekal. Dunia baginya bukan panggung prestise, melainkan ruang latihan spiritual.
Rasulullah ﷺ bahkan menggambarkan dunia sebagai “penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Bagi mukmin, dunia penuh batasan: halal-haram, wajib-sunnah, dosa-pahala. Kebebasan diikat oleh tanggung jawab moral. Sebaliknya, bagi orang yang menolak iman, dunia adalah ruang bebas tanpa batas, tanpa orientasi transenden.
Namun batasan-batasan itulah yang justru menyelamatkan manusia. Dalam hadis lain ditegaskan bahwa Allah telah menetapkan batas, kewajiban, dan larangan sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Tanpa batas, manusia akan terperosok dalam kehancuran eksistensial.
Sebuah riwayat dari lembaran Suhuf Nabi Ibrahim menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang hina dan fana. Dunia dihiasi agar manusia tertipu, tetapi hakikatnya tidak memiliki nilai abadi. Yang abadi hanyalah cahaya iman yang menyertai manusia ketika dibangkitkan.
Maka, dunia bukan musuh, tetapi juga bukan tujuan. Ia adalah sarana. Ia bisa menjadi tangga menuju surga atau jurang menuju penyesalan. Segalanya bergantung pada cara manusia memaknainya.
Di tengah modernitas yang memuja produktivitas, kapital, dan eksistensi digital, refleksi tentang dunia menjadi semakin relevan. Dunia yang dekat dan singkat ini sering terasa panjang karena manusia lupa bahwa ia hanya musafir.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
