Ibu: Jihad Sunyi yang Menumbuhkan Sejarah
Khazanah | 2026-01-26 15:09:31
Di balik setiap tokoh besar, selalu ada seorang perempuan yang jarang disebut. Ia tidak berdiri di podium. Tidak menulis buku. Tidak mengisi seminar. Namun dari rahim dan pangkuannya, sejarah manusia dimulai. Namanya: ibu.
Di zaman yang gemar merayakan pencapaian publik, peran ibu sering terasa sunyi. Rumah dianggap pinggiran. Pengasuhan dianggap kerja tanpa prestise. Padahal, dalam pandangan Islam, di sanalah pusat peradaban dirintis.
Allah sendiri mengabadikan jerih payah ibu dalam Al-Qur’an:
“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Ayat ini seperti catatan langit yang tak pernah pudar. Bahwa kehamilan dan kelahiran bukan sekadar proses biologis, tetapi kerja eksistensial yang menyakitkan sekaligus suci.
Bahkan, Nabi ﷺ menyetarakan perempuan yang hamil dan menyusui dengan mujahid di medan jihad. Jihad yang tidak bersenjata. Tidak disiarkan. Tetapi menentukan masa depan umat.
Fitrah yang Terkalahkan oleh Gemerlap
Zaman ini pandai memikat. Karier dijadikan altar. Produktivitas dipuja. Rumah dipandang sebagai ruang stagnasi.
Perempuan didorong untuk menaklukkan dunia luar, tetapi sering lupa bahwa dunia paling penting justru berada di dalam rumahnya sendiri.
Padahal, Al-Qur’an memberi mandat yang tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini tidak sedang berbicara tentang prestasi duniawi, tetapi keselamatan abadi. Dan keselamatan itu, pertama-tama, ditanam di ruang keluarga.
Seorang ibu adalah madrasah pertama. Jika madrasah itu rapuh, generasi akan tumbuh tanpa akar.
Para Ibu yang Melahirkan Peradaban
Sejarah Islam mencatat, peradaban sering lahir dari ruang-ruang sunyi yang tak tercatat.
Ibunda Imam Syafi’i membawa anaknya kecil dari Gaza ke Makkah. Ia miskin, tetapi memiliki visi. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan ilmu dan Al-Qur’an. Di bawah asuhan ibunya, Syafi’i kecil tumbuh mencintai ilmu. Dari pangkuan seorang ibu yang sederhana, lahir seorang mujaddid fiqih yang pemikirannya hidup lintas abad.
Imam Ahmad bin Hanbal dibesarkan oleh seorang ibu tunggal. Sang ibu menanamkan keteguhan iman sejak kecil. Ketika Ahmad dewasa dan diuji dalam fitnah besar, keteguhannya seperti gema pendidikan ibunya. Ia tidak menjual iman, meski harus dipenjara dan disiksa.
Imam Bukhari kehilangan ayah sejak kecil. Ibunya menjadi guru pertama dan pelindung utama. Ketika Bukhari kecil mengalami kebutaan, ibunya berdoa dengan kesungguhan yang menggetarkan langit. Allah mengembalikan penglihatannya. Dari doa seorang ibu, lahirlah Shahih Bukhari, kitab hadis paling sahih dalam Islam.
Mereka tidak lahir dari sistem pendidikan modern. Mereka lahir dari rahim ibu-ibu yang hadir sepenuh hati.
Surga di Telapak Kaki yang Terlupakan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
Kalimat ini sering dikutip, jarang direnungi.
Surga tidak diletakkan di bawah podium.
Tidak di bawah jabatan.
Tidak di bawah angka gaji.
Surga diletakkan di bawah telapak kaki seorang ibu—di ruang yang sering dianggap biasa.
Mungkin karena di sanalah manusia belajar cinta pertama. Disiplin pertama. Iman pertama. Dan doa pertama.
Menjadi Ibu di Zaman yang Bising
Menjadi ibu hari ini bukan pilihan yang mudah. Dunia berisik. Media sosial gaduh. Narasi kesuksesan terus menekan. Seolah-olah perempuan yang tinggal di rumah telah gagal menaklukkan dunia.
Padahal, justru sebaliknya.
Ia sedang membangun dunia dari akarnya.
Karier bisa ditunda. Jabatan bisa dilepas. Tetapi masa emas anak tidak pernah kembali. Tahun-tahun awal kehidupan adalah lembaran kosong yang hanya bisa ditulis sekali.
Seorang ibu yang sadar akan perannya sedang menulis sejarah umat dari dalam rumahnya.
Penutup: Dari Pangkuan Ibu, Dunia Dimulai
Peradaban tidak selalu lahir dari gedung megah dan pidato panjang.
Terkadang, ia lahir dari dapur sederhana.
Dari kamar kecil.
Dari doa lirih seorang ibu di sepertiga malam.
Jika ingin membangun umat, bangunlah ibu-ibunya.
Jika ingin mengubah sejarah, hadirkan ibu yang sadar perannya.
Karena di pangkuan ibulah, sejarah manusia pertama kali belajar berjalan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
