Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dzikra Mufti

Masakan Ibu yang Tak Pernah Hilang dalam Jejak Memori

Sastra | 2026-01-07 05:26:42
Ilustrasi Memori yang Tak Pernah Menghilang, sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/perasaan-emosi-cinta-keterhubungan-697557/

Kehidupan dan ingatan berjalan berdampingan dalam keseharian manusia. Setiap peristiwa yang dialami akan meninggalkan jejak dalam memori, baik disadari maupun tidak. Sastra menjadi salah satu ruang tempat jejak-jejak itu direkam dan dihidupkan kembali. Melalui cerpen, pengarang menghadirkan pengalaman personal dan sosial dalam bentuk kisah yang dekat dengan kehidupan pembaca.

Salah satu ingatan yang sering muncul dalam kehidupan manusia yang bisa dituangkan dalam karya sastra adalah cerita tentang ingatan tentang keluarga, khususnya seorang ibu. Sosok ibu tidak harus digambarkan luas, namun melalui hal kecil, seperti masakan rumah, dapur, dan lain-lain bisa menjadi ruang besar yang tercipta dalam sebuah ingatan yang terus tumbuh dan berkembang, bahkan ketika raganya tidak lagi tidak terlihat kehadirannya.

Memori Kolektif

Pemikiran tentang memori telah ada sejak zaman Yunani kuno, namun dari segi perspektif sosial baru muncul pada akhir abad ke-19 dan abad awal ke-20. Menurut Halbwachs (1925) memori kolektif tidak sepenuhnya lahir dari masa lalu, melainkan terus dibentuk oleh pengalaman masa kini dan karena itu tidak pernah bersifat tetap. Memori kolektif juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa kini dan hanya akan bermakna bagi individu ketika diolah secara personal. Karena ingatan setiap orang bersifat tidak utuh, mengingat pun menjadi aktivitas yang melibatkan relasi sosial (Hartanti&Lukman, 2024).

Dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana dan cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin memori tentang sosok ibu hadir dalam gambaran sederhana. Memori manis yang sama-sama dibingkai dalam masakan ibu menghadirkan kenangan akan sarat kasih sayang sekaligus kehilangan sebagai media memori kolektif.

Media Memori Kolektif

Menurut Maurice Halbwachs (dalam Hartanti&Lukman, 2024), memori kolektif diwujudkan melalui berbagai media sosial, seperti gambar ingatan, bahasa, rekonstruksi masa lalu, pelokalan ingatan, serta ingatan keluarga. Media-media tersebut memungkinkan ingatan tidak hanya hidup dalam diri individu, tetapi bertahan dan diwariskan dalam suatu kelompok sosial.

1. Gambar dan Ingatan

Dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana gambar ingatan dalam cerita dibangun secara sadar melalui proses memasak bersama antara ibu dan anak, berikut kutipannya:

"Bukan begitu cara memecah kemiri, nanti hancur!"

"Memang apa bedanya, Bu? Toh, sama-sama akan dihaluskan juga." Saya menyanggah. Ibu menggeleng.

Sedangkan dalam cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin gambaran ingatan dalam cerita dibagun melalui ingatan yang muncul ketika Yudhis memasak sebagai simbol memori individual semata yang terbalut dalam bentuk bayangan masa kecilnya bersama mamak, terutama dalam hal memasak berikut kutipanya:

"Aku cuma bisa memasak oseng intalu iwak haruan. Belakangan aku tahu, Mamak ternyata meninggalkan satu buku catatan penuh berisi resep masakan yang sudah disesuaikannya dengan lidahku. Lidah yang tumbuh mengecap rasa dari piring makannya".

2. Bahasa dan Ingatan

Selain itu bahasa memegang peran penting dalam menjadikan memori bersifat kolektif. Dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana, dialog antara ibu dan anak berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai dan pengesahan ingatan. Nasihat ibu tentang kehidupan, kematian, dan peran perempuan menjadikan pengalaman memasak bukan sekadar aktivitas domestik, melainkan memori yang diakui dan dimaknai bersama, seperti kutipan di bawah:

“Ibu mengulas senyum tipis. "Nak, manusia itu seperti sayur dalam semangkuk gangan umbut. Usia yang paling tua serupa ubi kayu, keras, hambar. Usia sepertimu mirip dengan potongan waluh. Tidak terlalu keras dengan sedikit rasa manis. Paling muda ya tidak ubahnya umbut. Lembut dan manis. Semua sama akan lunak juga setelah dimasak. tidak peduli ia yang paling keras atau lembut. Kita pun sama, akan wafat juga. Tidak peduli sudah baya atau masih muda".

Sedangkan cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin bahasa berperan melalui penamaan dan penceritaan. Nama warung "Lidah Masakan Ibu" menjadi bentuk verbal yang mengukuhkan ingatan tentang ibu sebagai milik bersama, bukan hanya milik Yudhis sehingga memori ibu memperoleh pengakuan sosial dan menjadi bagian dari identitas keluarga, seperti kutipan di bawah:

“Raila tak memiliki wewenang menyanggah gagasan itu, karena segala macam yang bersinggungan dengan memasak berada di bawah kuasa Yudhis seorang. Meski begitu, Raila tentu kebingungan mengapa suaminya memberi nama sebuah warung makan atas sesuatu yang tidak mereka kenali-lidah ibu?".

3. Rekonstruksi Masa Lalu

Rekonstruksi masa lalu merupakan unsur penting dalam pembentukan memori kolektif. Dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana, rekonstruksi masa lalu yang terbangun bersifat anticipatory, yakni membangun ingatan untuk masa depan. Ibu secara sadar menciptakan memori yang kelak akan diingat dan direkonstruksi oleh anaknya setelah ia tiada sehingga dapat berfungsi sebagai bekal emosional dan identitas bagi tokoh anak, seperti kutipan di bawah:

“Saya melepas napas. "Saya hanya mau Ibu bahagia karena putrinya bisa memasak. Walaupun cuma satu, itu juga sajian untuk kematiannya".

Sedangkan cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin, tokoh Yudhis terus-menerus merekonstruksi masa kecilnya melalui pengulangan resep masakan ibu. Masa lalu tidak dihadirkan secara statis, melainkan terus dihidupkan kembali dan disesuaikan dengan kondisi masa kini, seperti kutipan di bawah:

“Mustahil ia meminta Mamak mengajarinya dalam semalam sebab ia bukan Roro Jonggrang yang meminta Bandung Bondowoso mengajarinya seribu resep dan teknik masakan dalam semalam. Tetapi, ketika Mamak masih hidup, Yudhis selalu suka memantau gerak-geriknya di dapur. Betapa ia mencintai dapur, seperti mencintai mamaknya sendiri”.

4. Pelokalan Ingatan

Pelokalan ingatan tampak jelas dalam kedua cerpen melalui ruang domestik. Dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana dan cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin, dapur dan masakan rumah berfungsi sebagai ruang simbolik tempat ingatan keluarga dilokalkan, meski dalam anggota keluarga hidup dengan alam berbeda, ruang tersebut tetap menjadi pusat memori bersama yang dapat diingat dengan cara masing-masing.

“Namun, perkiraan saya meleset saat mendapati ibu lunglai menyandar di pintu lemari. Tubuhnya masih terbalut mukena dengan tasbih di tangan. Lekas-lekas saya raba pergelangan tangan dan lehernya. Nihil, ibu telah tiada sebelum saya sempat berpamitan padanya” (Cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana).

“Kini ia paham, di dapur hanya ada ia yang masih kanak dengan Mamak yang telah tiada. Mereka berdua abadi bersama, menghidangkan oseng intalu iwak haruan di atas meja makan Yudhis dewasa yang tumbuh berkeluarga” (Cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin).

5. Ingatan Keluarga

Kedua cerpen tersebut memperlihatkan bahwa ingatan keluarga menjadi inti dari memori kolektif. Dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana dan cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin, ingatan tentang sosok ibu yang sengaja dibentuk dan diwariskan melalui masakan sebagai medium utama. Berikut kutipannya:

“Melihat raut wajah putrinya yang berubah muram, lekas-lekas ibu menyendokkan gangan ke piring saya seraya berujar, "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mari kita makan" (Cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana).

“Yudhis melanjutkan, "Tapi malam itu, malam ketika kami makan bersama seperti ini, Mamak menuliskan satu resep masakan sebelum ia tidur, resep itu adalah oseng intalu iwak haruan yang sejak dulu selalu jadi makanan favoritku. la menitipkannya ke Abah" (Cerpen Lidah Masakan Ibu karya Edwin).

Daftar Pustaka:

Hartanti, M. & Lukman, C., C. (2024). Memori Heroik dalam Selembar Batik. Aceh: Syiah Kuala University Press.

Kurniawan, A., D. (2017). Mememori Kolektif Mengenai PKO dan Komunisme di Media Sosial. Skripsi. Universitas Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image