Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (018) Hari Ini Lebih Berharga dari Kemarin

Khazanah | 2026-01-30 17:41:14

Malam sering menjadi ruang sunyi tempat kita bertemu dengan diri sendiri. Dalam keheningan, masa lalu datang seperti bayangan: kesalahan yang belum termaafkan, kegagalan yang belum terlupakan, dan luka yang masih terasa perih. Kita kerap terjebak di sana—mengulang penyesalan, merawat rasa bersalah, seolah hidup harus terus dihukum oleh kemarin.

Padahal, Islam tidak mengajarkan kita tinggal di masa lalu. Islam mengajarkan taubat, lalu melangkah. Kesalahan bukan untuk disangkal, tetapi untuk diperbaiki. Masa lalu bukan untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan pelajaran.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah menasihati: “Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore.” Nasihat itu bukan sekadar tentang waktu, tetapi tentang kesadaran. Jangan menggantungkan hidup pada hari esok yang belum tentu datang. Jangan menunda amal hanya karena berharap kesempatan lain.

Hari ini adalah amanah. Kemarin telah menjadi catatan yang tak bisa dihapus, esok masih rahasia yang belum tentu diberikan.

Allah Maha Pengampun, tetapi Dia juga Maha Menyaksikan. Taubat yang sejati bukan hanya tangis di sepertiga malam, tetapi keberanian untuk berubah di siang hari. Bukan hanya istighfar di lisan, tetapi perbaikan nyata dalam amal.

Hari ini bisa menjadi lebih baik dari kemarin jika shalat kita lebih terjaga, jika lisan kita lebih bersih, jika hati kita lebih lapang menerima takdir. Hari ini bisa menjadi lebih bernilai jika kita lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli pada sesama. Di sinilah taubat menemukan maknanya: bukan sekadar menyesali, tetapi memperbarui arah hidup.

Malam mengajarkan kita untuk berdamai dengan masa lalu tanpa mengulangnya. Malam memberi ruang untuk merenung: apa yang bisa diperbaiki esok hari? Apa yang harus ditinggalkan? Apa yang harus diperjuangkan kembali?

Dalam gelap, kita belajar bahwa Allah tidak menilai siapa kita kemarin, tetapi apa yang kita lakukan hari ini. Amal hari ini adalah identitas kita di hadapan-Nya. Seberat apa pun masa lalu, satu hari yang penuh kesungguhan bisa mengubah arah hidup seseorang.

Karena itu, jangan menunda perubahan. Jangan menunggu sempurna untuk beramal. Jangan menunggu bersih untuk kembali kepada Allah. Justru dalam ketidaksempurnaan itulah kita diminta untuk berjalan.

Malam menutup masa lalu dengan taubat, dan fajar membuka hari dengan amal.

Hari ini adalah kesempatan yang paling dekat dengan rahmat Allah.

Dan siapa pun yang mengisi hari ini dengan kebaikan, sedang menulis masa depan dengan cahaya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image