Mengapa Pohon Kelapa Sawit Tidak Efektif dalam Menahan Banjir?
Info Terkini | 2025-12-16 19:36:57
Image by wirestock on Freepik" />
Sawit juga termasuk pohon, namun mengapa tidak sama?
Banyak orang beranggapan bahwa selama suatu tanaman disebut “pohon”, maka fungsinya bagi lingkungan akan sama, termasuk dalam menahan banjir. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Pohon kelapa sawit, meskipun berukuran tinggi dan berbatang besar, memiliki karakteristik biologis dan ekologis yang sangat berbeda dibandingkan pohon hutan alami. Perbedaan inilah yang membuat pohon sawit tidak efektif dalam menahan banjir dan bahkan cenderung memperparah risiko bencana tersebut.
Secara tampilan, sawit memang terlihat kokoh. Batangnya tegak dan menjulang, seolah mampu berdiri kuat menghadapi alam. Sayangnya, kekuatan ini bersifat visual. Akar pohon sawit relatif pendek dan tidak menyebar luas ke dalam tanah. Berbeda dengan pohon hutan alami seperti beringin, trembesi, atau mahoni yang akarnya menjalar jauh dan dalam, sawit tidak cukup kuat mengikat tanah. Ketika hujan deras datang, tanah mudah jenuh air dan kehilangan daya cengkeramnya.
Masalah ini diperparah oleh sistem penanaman sawit yang umumnya bersifat monokultur. Dalam satu kawasan luas, hanya ada satu jenis tanaman tanpa variasi vegetasi pendukung. Akibatnya, tanah kehilangan lapisan penutup alami seperti semak, rerumputan, dan serasah daun yang tebal. Air hujan yang seharusnya diserap perlahan oleh tanah justru langsung mengalir di permukaan, mempercepat limpasan air menuju sungai dan pemukiman.
Struktur batang sawit juga memiliki keterbatasan. Sawit bukan pohon berkayu keras, melainkan lebih menyerupai tanaman raksasa dengan batang berserat. Daya tahannya terhadap tekanan air dan pergeseran tanah relatif lemah. Inilah sebabnya, di daerah rawan banjir atau longsor, pohon sawit sering tumbang atau tercabut bersama tanah di sekitarnya.
Apa Dampaknya?
Kondisi tersebut menimbulkan berbagai dampak nyata. Salah satu efek paling terasa adalah meningkatnya frekuensi dan skala banjir. Wilayah yang sebelumnya jarang tergenang air kini lebih mudah terendam, bahkan hanya setelah hujan dengan intensitas sedang. Sungai menjadi cepat meluap karena aliran air dari daratan tidak lagi tertahan oleh sistem perakaran yang kuat.
Selain banjir, erosi tanah juga menjadi masalah serius. Tanah lapisan atas yang subur terkikis dan terbawa aliran air, menyebabkan kualitas tanah menurun. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga berdampak pada produktivitas lahan itu sendiri. Ironisnya, lahan sawit yang dibuka untuk tujuan ekonomi justru bisa kehilangan daya dukungnya akibat kerusakan tanah.
Dampak lainnya adalah hilangnya fungsi penyangga ekosistem. Daerah resapan air berkurang, cadangan air tanah menipis, dan keseimbangan lingkungan terganggu. Masyarakat di sekitar perkebunan sering kali menjadi pihak yang paling merasakan akibatnya, mulai dari banjir yang berulang, jalan rusak, hingga ancaman longsor.
Perlu dipahami bahwa sawit bukanlah musuh, tetapi juga bukan solusi lingkungan. Dari sisi ekonomi, sawit memang memiliki nilai penting. Namun, jika bicara soal ketahanan terhadap banjir, menyamakan sawit dengan pohon hutan adalah kekeliruan besar. Pohon bukan sekadar soal jumlah dan tinggi, melainkan tentang peran ekologisnya dalam menjaga tanah dan air.
Pada akhirnya, banjir bukan hanya persoalan alam, melainkan hasil dari pilihan manusia. Mengganti hutan yang beragam dengan hamparan sawit mungkin tampak hijau dari kejauhan, tetapi hijau yang rapuh. Jika kita ingin lingkungan yang lebih aman dari banjir, maka keberagaman vegetasi dan pemulihan hutan alami tetap menjadi kunci, bukan sekadar menanam pohon yang cepat tumbuh dan menguntungkan secara ekonomi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
