Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sabit Wiramadi

Kebangkitan Hidup dan Pencarian Makna di Jalan Ilahi

Agama | 2026-01-30 18:47:11
Sumber: https://safinah.id/yaumul-bitsah-kebangkitan-fitrah-misi-ilahi-dalam-perspektif-imam-ali-khamenei/

Tidak sedikit manusia yang menjalani hidup dengan sungguh-sungguh, bekerja keras, beribadah secara rutin, dan berdoa dengan penuh harap, tetapi tetap merasakan hidupnya berjalan di tempat. Hari demi hari terus berlalu tanpa terhentinya makna. Waktu terus bergerak, namun seolah jiwa tertahan di ruang yang sama. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena arah hidup yang tidak pernah benar-benar ditinggikan.

Inilah yang sering disebut sebagai kehidupan yang biasa-biasa saja. Bukan kehidupan yang buruk, tapi juga jauh dari kebangkitan. Sebuah kondisi di mana manusia hidup, namun belum sepenuhnya hidup. Bisa jadi, kehidupan yang kita jalani ini tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan, justru disebabkan oleh cita-cita hidup kita yang biasa saja. Oleh karena itu, segala macam ikhtiar dan doa kita pasti biasa saja. Sehingga, kemajuan hidup kita juga hanya biasa-biasa saja.

Al-Quran mengingatkan bahwa stagnasi rohani semacam ini adalah suatu bahaya yang nyata. Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd : 11)

Ayat ini menegaskan bahwa kebangkitan hidup selalu dimulai dari kesadaran internal, bukan semata-mata perubahan kondisi eksternal.

Ketika Ibadah Kehilangan Daya Hidup

Salah satu ciri kehidupan yang belum bangkit adalah ibadah yang tidak lagi melahirkan kerinduan. Ibadah tetap dilakukan, namun tidak membekas dalam jiwa. Shalat tidak mendorong kedekatan, doa tidak melahirkan ketundukan, dan dzikir tidak menggetarkan kesadaran.

Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kualitas ibadah bukan pada bentuk lahirnya semata, melainkan pada dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah kita akan menjadi sia-sia jika tidak memiliki dampak yang berarti bagi kehidupan. serupa dalam Hadits Nabi SAW yang memiliki arti:

“Sebetulnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibadah yang tidak menghidupkan niat dan tujuan hanya akan menjadi rutinitas spiritual tanpa daya transformasi. Ia tidak salah, tetapi belum cukup untuk membangkitkan kehidupan. Hal tersebut terjadi karena kita beribadah hanya untuk menggugurkan kewajiban semata, bukan diresapi dan dimaknai dalam hati. Sehingga, ibadah kita hanyalah aktivitas formalitas yang menghasilkan tanpa pengaruh transformasi kehidupan yang signifikan.

Karakter Mulia yang Dibiarkan Tak Terjaga

Tanda lain dari kehidupan yang stagnan adalah lemahnya kesungguhan dalam menjaga karakter. Kejujuran mulai dinegosiasikan, tanggung jawab penundaan, dan adab dianggap tidak lagi penting selama target tercapai.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda dalam haditsnya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR.Ahmad)

Akhlak bukanlah merupakan pelengkap kehidupan beragama, melainkan menjadi fondasinya. Ketika karakter tidak lagi dijaga dengan sungguh-sungguh, maka kehidupan berjalan, tetapi kehilangan kehormatannya.

Ilmu yang Tidak Dipercaya Membawa Perubahan

Dalam kehidupan yang belum bangkit, ilmu sering dipandang sebagai tambahan, bukan kebutuhan mendasar. Belajar dilakukan sekedarnya, membaca dianggap sebagai pelengkap, dan berpikir kritis dianggap melelahkan.

Padahal Al-Qur'an dengan tegas mengangkat derajat orang berilmu. serupa firman Allah SWT yang berbunyi:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah : 11)

Ilmu sejatinya bukan sekedar alat untuk bekerja, namun sarana untuk membentuk kesadaran, memperkuat visi hidup, dan membimbing tindakan agar selaras dengan kebenaran.

Bekerja Tanpa Kesadaran Kualitas dan Kepercayaan

Banyak orang yang bekerja keras, namun melupakan kualitas dan amanah. Kita kadang lebih seering untuk fokus pada hasil jangka pendek dan hal tersebut membuat kita sering mengalahkan pentingnya kepercayaan jangka panjang. Padahal, dalam Islam, kualitas kerja adalah bagian dari iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sejujurnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. Al-Baihaqi)

Ketika kualitas dan amanah diabaikan, kehidupan memang tampak bergerak, namun sesungguhnya ia sedang kehilangan nilai substansi kehidupannya. Sehingga menjadikannya tidak memiliki arti dan manfaat.

Kesadaran: Awal Kebangkitan Hidup

Pada satu titik, manusia akan merasakan dampak buruk dari kehidupan yang berjalan tanpa arah tinggi. Muncul rasa hampa, jenuh, dan kesadaran bahwa hidup seolah-olah hanya berjalan di suatu tempat. Di titik balik itu lahir: keberanian untuk mengakui bahwa hidup harus diarahkan pada cita-cita yang lebih luhur.

Keputusan untuk menaikkan tujuan hidup—bukan sekadar sukses duniawi, tetapi kehidupan yang bermakna dan diridhai Allah—itulah tanda awal kebangkitan sejati. Awal kebangkitan hidup yang sejati dimulai ketika kita secara bertahap sudah berani memutuskan dan menentukan cita-cita hidup yang lebih tinggi, serta ingin segera keluar dari kondisi hidup yang biasa–biasa saja itu. Kesadaran manusia akan hidup yang berarti dan jauh lebih baik daripada sebelumnya merupakan motivasi kuat untuk bangkit dalam menjalani kehidupan.

Allah SWT berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu'minun: 115)

Cita-cita hidup yang luhur tidak lahir dari angan-angan kosong. Namun ia, tumbuh dari empat sumber utama sebagai berikut:

Pertama, kesadaran terhadap lingkungan pertumbuhan. Manusia yang bangkit menyadari bahwa lingkungan membentuk dirinya, dan karena itu ia memilih lingkungan yang mendorong nilai, bukan yang meninabobokkan.

Kedua, idealisme untuk menegakkan kehidupan yang terhormat di jalan kebenaran Tuhan. Idealisme bukan sikap naif, melainkan keberanian moral untuk hidup sesuai nilai ilahi, meski tidak selalu mudah dalam pelaksanaannya.

Ketiga, perangkat ilmu dan keahlian yang memampukan manusia berpikir jernih dan bertindak tepat. Ilmu yang digunakan untuk memberi arah, bukan sekadar keterampilan hidup.

Keempat, pengalaman hidup yang diolah menjadi hikmah. Bukan banyaknya pengalaman yang membentuk kedewasaan, tetapi kemampuan mengambil pelajaran darinya.

Dalam Al Qur'an, Allah SWT menekankan pentingnya hikmah, sebagaimana firman Nya yang berbunyi:

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.Barang siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah : 269)

Bangkit sebagai Pilihan dan Kesadaran

Kebangkitan hidup bukan peristiwa instan, melainkan pilihan sadar yang terus diperbarui. Ia menantang keberanian meninggalkan kenyamanan yang meninabobokkan dan kesediaan menempuh jalan yang lebih menantang, tetapi bermakna. Hidup yang bangkit adalah hidup yang terarah: ibadahnya menghidupkan, ilmunya membimbing, akhlaknya menjaga, dan cita-citanya menghadap ke langit. Dan pada akhirnya, kebangkitan sejati bukan diukur dari seberapa cepat kita melangkah, melainkan seberapa lurus arah yang kita tuju, menuju ridha Allah SWT.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image