Seri Ramadhan (2): Doa dan Revolusi Spiritual Ramadhan
Agama | 2026-02-23 14:38:12
Setelah membahas makna Ramadhan sebagai momentum transformasi spiritual pada tulisan sebelumnya, pembahasan kali ini menyoroti dimensi yang lebih mendasar dalam perjalanan seorang mukmin, yaitu doa sebagai inti hubungan manusia dengan Allah SWT. Jika Ramadhan adalah madrasah spiritual, maka doa merupakan ruh yang menghidupkan seluruh ibadah di dalamnya.
Spiritualitas Doa di Bulan Ramadhan
Ramadhan bukan sekadar bulan ritual tahunan yang datang dan pergi tanpa makna. Ia merupakan momentum spiritual yang menghadirkan revolusi batin, transformasi moral, serta pembaharuan hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam tradisi Islam, Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an, bulan pengampunan, bulan keberkahan, sekaligus bulan penguatan doa sebagai inti penghambaan manusia kepada Allah SWT.
Bulan suci ini mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah, bergantung sepenuhnya kepada pertolongan Allah SWT. Dalam konteks inilah doa menjadi sarana komunikasi utama antara hamba dan Tuhannya. Doa bukan sekedar permohonan, melainkan wujud ketundukan, pengakuan atas keterbatasan diri, dan penguatan spiritualitas seorang mukmin.
Allah SWT menegaskan kedekatan-Nya dengan manusia dalam Al-Qur'an yang memiliki arti:
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Al Baqarah ayat 186)
Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan Allah dengan manusia bukan sekadar konsep teologis, tetapi realitas spiritual yang harus dihidupkan melalui doa dan ketaatan.
Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan Allah dengan manusia bukan sekadar konsep teologis, tetapi realitas spiritual yang harus dihidupkan melalui doa dan ketaatan.
Ramadhan sebagai Bulan Turunnya Wahyu
Ramadhan memiliki kedudukan yang istimewa karena menjadi momentum turunnya Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS : Al Baqarah ayat 185)
Turunnya Al-Qur'an menandai dimulainya revolusi spiritual umat manusia. Wahyu tidak hanya membimbing manusia dalam aspek ibadah, tetapi juga membentuk etika, moral, dan peradaban. Dalam konteks ini, Ramadhan bukan sekedar momentum membaca Al-Qur'an secara ritual, melainkan menginternalisasi nilai-nilai wahyu dalam kehidupan sehari-hari.
Hakikat Doa sebagai Ibadah
Dalam Islam, doa merupakan bentuk ibadah yang paling mendasar. Allah SWT berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ ٦
“Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghafir ayat 60).
Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata: “Yang dimaksud doa dalam ayat diatas adalah doa yang bersifat permohonan, dan kata 'an 'ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada berdoa, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa”.
Ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang tidak berdoa karena sombong dan barangsiapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir. Adapun orang yang tidak berdoa karena suatu alasan tertentu, maka ia tidak terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap lebih baik daripada meninggalkannya karena dalil-dalil yang dimohon berdoa cukup banyak.
Dari Nu'man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Doa bukan sekedar permintaan, melainkan pengakuan atas ketergantungan manusia kepada Allah SWT. Setiap doa yang dipanjatkan seorang mukmin dicatat sebagai amal ibadah, bahkan ketika permintaannya tidak dikabulkan sesuai harapan.
Namun, doa tidak dapat dipisahkan dari ketaatan. Doa harus disertai kesungguhan, keikhlasan, serta komitmen menjalankan perintah Allah SWT. Tanpa ketaatan, doa kehilangan makna spiritualnya.
Adab dan Etika Berdoa
Islam mengajarkan etika berdoa yang mencerminkan kerendahan hati seorang hamba. Pertama, doa harus diawali dengan memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan pengakuan atas kebesaran Tuhan sebelum menyampaikan permohonan.
Kedua, doa harus dilakukan dengan kesungguhan dan penuh pengharapan. Allah SWT berfirman yang berbunyi:
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ ٥٥
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS : Al A'raf ayat 55).
Ketiga, doa harus dilakukan secara terus-menerus dan tidak tergesa-gesa. Kesabaran dalam berdoa merupakan wujud keyakinan terhadap kebijaksanaan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak terburu-buru dengan mengatakan: 'Aku telah berdoa tetapi belum dikabulkan.'' (HR. Bukhari dan Muslim)
Keyakinan dalam Doa dan Larangan Berputus Asa
Seorang mukmin tidak boleh putus asa dalam berdoa. Keyakinan terhadap pengabulan doa merupakan bagian dari keimanan.
Rasulullah SAW bersabda:
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ
“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa kalian akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi)
Doa yang tidak dikabulkan sesuai harapan bukan berarti ditolak. Dalam teologi Islam, Allah SWT dapat mengabulkan doa dalam tiga bentuk: segera dikabulkan, ditunda, atau diganti dengan kebaikan orang lain. Oleh karena itu, seseorang tidak akan mengalami kehancuran selama ia terus berdoa kepada Allah SWT.
Ramadhan sebagai Momentum Penguatan Doa
Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperbanyak doa. Rasulullah SAW bersabda yang memiliki arti:
“Tiga golongan yang tidak ditolak doanya: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi yang diangkat oleh Allah di atas awan, dibukakan baginya pintu-pintu langit, lalu Allah berfirman: 'Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti akan membantumu meski setelah beberapa waktu'.” (HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At-Tirmidzi)
Dalam hadits tersebut, salah satu golongan yang disebutkan adalah orang yang berpuasa sampai berbuka. Waktu berbuka puasa menjadi saat yang mustajab untuk berdoa. Sehingga siapa pun yang berdoa ketika ia berbuka puasa, maka doanya akan mudah dikabulkan dan tidak ditolak oleh Allah SWT. Selain itu, malam hari Ramadhan juga menjadi waktu yang penuh keberkahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Faktor Dikabulkannya Doa
Para ulama menjelaskan bahwa pengabulan doa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah faktor waktu, seperti malam Jumat, waktu berbuka puasa, dan setelah shalat fardhu. Kedua adalah faktor tempat, seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Dan yang ketiga adalah faktor kondisi orang. Ada beberapa orang yang jika ia berdoa bisa menjadi mustajab, seperti musafir, orang sakit, dan orang yang terzalimi memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT.
Pentingnya Makanan Halal dan Baik
Salah satu faktor penting dalam berdoa adalah makanan yang halal dan baik. Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya adalah:
“ Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta'ala memerintahkan kepada kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para rasul .51- dan Allah Ta'ala berfirman,'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu' –Qs al-Baqarah/2 ayat 172- kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan orang yang lama perjalanan; rambut kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangan ke langit, 'Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,' sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR.Muslim)
Makanan halal berarti diizinkan oleh Allah SWT, sedangkan makanan yang baik (thayyib) berarti bermanfaat bagi kesehatan dan tidak merusak tubuh. Oleh karena itu, Ramadhan juga menjadi momentum memperbaiki pola konsumsi agar selaras dengan nilai spiritual Islam.
Di antara hal sepele namun mulia yang menghasilkan amal yang baik bagi seorang mukmin adalah makanan yang baik dan berasal dari sumber yang halal. Dengan makan makanan yang baik, maka amal seorang mukmin akan berkembang.
Dalam hadits di atas terdapat isyarat bahwa amal tidak diterima dan tidak berkembang kecuali dengan memakan makanan yang halal, dan bahwa makanan haram itu merusak amal dan membuatnya tidak diterima. Setelah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik”, beliau bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para rasul.
Allah Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌۗ ٥١
“Wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan beramal shalehlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS : Al Mu'minun ayat 51)
Ayat Al Qur'an tersebut menunjukkan bahwa para rasul dan umat mereka masing-masing diperintahkan memakan makanan yang baik yang merupakan makanan yang halal. Mereka juga diperintahkan beramal. Jika makanannya halal, maka amalnya shalih dan diterima. Sebaliknya, jika makanannya tidak halal, bagaimana amal bisa diterima?
Setelah itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang doa. Bagaimana doa tersebut diterima dengan sesuatu yang haram? Itu sebuah perumamaan tentang tidak diterimanya amal jika makanan pelakunya haram.
Krisis Spiritual Manusia Modern dan Pemaknaan Ulang Ramadhan
Di era modern, manusia seringkali menjauhi hal yang baik bagi dirinya dan justru menyenangi hal yang merusak. Kesibukan dunia, kecanduan media sosial, dan orientasi materialistik menjauhkan manusia dari spiritualitas doa. Masjid-masjid seringkali lebih sepi dan kosong daripada tempat-tempat hiburan seperti konser, klub malam, dan berbagai tempat hiburan semacamnya.
Ramadhan hadir sebagai koreksi terhadap krisis tersebut. Ia mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kesadaran spiritual. Ramadhan sejatinya adalah madrasah spiritual yang membentuk manusia bertaqwa. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)
Ibadah puasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, namun juga bertujuan untuk membentuk karakter, memperkuat iman, dan mempererat kedekatan dengan Allah SWT.
Kesimpulan: Doa sebagai Jalan Keselamatan
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui doa, ibadah, dan amal saleh. Doa bukan sekedar ritual, melainkan revolusi spiritual yang mengubah manusia dari kelemahan menuju kekuatan iman. Seorang mukmin sejati memanfaatkan Ramadhan dengan memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, memperbaiki diri, dan meningkatkan ketakwaan. Dengan demikian, Ramadhan menjadi momentum kebangkitan moral dan spiritual umat.
Pada akhirnya, doa adalah jalan keselamatan manusia. Selama manusia terus berdoa kepada Allah SWT dengan keyakinan dan kesungguhan, ia tidak akan pernah kehilangan harapan. Ramadhan mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan sekedar konsep, tetapi pengalaman spiritual yang harus dihidupkan melalui doa, ketaatan, dan keikhlasan.
Tulisan ini merupakan bagian dari refleksi berkelanjutan tentang Ramadhan sebagai momentum pembaharuan spiritual umat. Pada tulisan berikutnya akan dibahas tentang dimensi Tarawih dan qiyamullail di malam Ramadhan sebagai momen untuk menghidupkan malam Ramadhan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
