Bayang Isu Alkoholisme di Kubu Trump
Info Sehat | 2026-04-28 16:27:30Penulis: Nurina Hasanatuludhhiyah
Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga
Dalam kisah peperangan adalah lelakon yang turut menyusun taktik, mengonsolidasi dukungan publik, dan membentuk narasi melalui media massa, meski tidak terjun langsung di medan pertempuran. Di perang yang dinamai Trump sebagai “operation epic fury” (secara harfiah = operasi kemurkaan dahsyat), pada kubu Amerika Serikat muncul figur Pete Hegseth. Seorang veteran perang, lulusan Harvard, mantan penyiar Fox News, sekaligus politisi sayap kanan, kombinasi yang tampaknya sempurna untuk posisi strategis di jantung pertahanan AS.
Jabatan Secretary of defense yang seringkali di media dikenal dengan sebutan sekretaris perang mulai dijabat Pete Hegseth sejak 25 Januari 2025, setelah melalui proses hearing kontroversial di Senat Amerika Serikat pada 14 Januari 2025. Dalam hearing tersebut, isu dugaan penyalahgunaan alkohol dan tuduhan kekerasan seksual menjadi sorotan tajam. Hegseth bahkan menyatakan di hadapan Senat bahwa dirinya tidak akan mengonsumsi alkohol apabila menjabat sebagai Secretary of Defense. Ternyata di balik profil yang ideal untuk jabatan ini, seorang Pete Hegseth dibayangi berbagai tuduhan serius. Menarik untuk dicermati bahwa dalam perspektif penulis sebagai seorang Indonesia, pejabat yang memegang kendali strategis pertahanan dan keputusan perang semestinya memiliki rekam jejak personal yang bersih dari kontroversi terkait perilaku dan penyalahgunaan zat. Kontroversi ini menarik karena membuka pertanyaan yang lebih luas: bila dugaan penyalahgunaan alkohol muncul bahkan di lingkar elite pertahanan negara, bagaimana dampak alkohol pada masyarakat umum?
Data survey nasional atas penggunaan obat dan Kesehatan di AS pada 2024 menyebutkan bahwa 1 dari 10 warga berusia di atas 12 tahun mengalami gangguan penggunaan alkohol. Dikutip dari laman National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, gangguan ini didefinisikan sebagai “ketidakmampuan untuk menghentikan atau mengendalikan penggunaan alkohol meskipun telah menimbulkan dampak buruk terhadap aspek sosial, pekerjaan, maupun kesehatan. Kondisi ini mencakup keadaan yang oleh sebagian orang disebut sebagai penyalahgunaan alkohol, ketergantungan alkohol, kecanduan alkohol, serta istilah umum yang dikenal sebagai alkoholisme”. Mari kita uraikan secara singkat bagaimana alkohol menimbulkan multi dampak tersebut.
Mabuk adalah istilah yang paling lekat asosiasinya dengan kata alkohol. Apa sesungguhnya yang terjadi pada fungsi otak pada kondisi mabuk akibat paparan alkohol? Alkohol mendepresi fungsi otak secara bertahap seiring meningkatnya konsentrasi alkohol di dalam otak akibat bertambahnya jumlah alkohol yang dikonsumsi. Semakin besar volume alkohol yang diminum, semakin tinggi kadar alkohol yang mencapai sistem saraf pusat, sehingga depresi fungsi otak meluas dari gangguan fungsi kognitif hingga penekanan pusat vital di batang otak.
Pada fase awal, alkohol menekan fungsi kortek prefrontal. Bagian otak ini berperan dalam fungsi eksekutif, yang meliputi perencanaan, pengambilan keputusan, pengendalian diri, regulasi emosi, pemecahan masalah, memori kerja, dan penyesuaian diri. Seseorang dalam pengaruh alkohol dapat bertindak impulsif, tidak mampu mengendalikan emosi, dan tentu saja tidak layak untuk mengambil keputusan. Dalam hearing senat, kontroversi Pete Hegseth yang pernah mabuk dan meracau “kill all muslims”, menjadi catatan gelap yang dikulik habis dalam proses penunjukannya sebagai sekretaris “perang”. Perilaku ini mencerminkan gangguan fungsi eksekutif akibat paparan alkohol. Posisi sentral dalam jajaran militer negara adidaya selayaknya menuntut optimalitas fungsi korteks prefrontal. Wilayah otak ini menopang kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, kematangan dalam perencanaan strategis, serta kapasitas moral untuk menahan impulsivitas emosi dan bias yang lahir dari pandangan politik partisan.
Dampak sosial dari gangguan penggunaan alkohol dapat ditarik pada tataran relasi antar individu khususnya ruang lingkup keluarga. Kekerasan domestik kepada pasangan dan anak kerap bersumber pada fungsi luhur otak yang suboptimal disebabkan paparan alkohol. Fungsi pengasuhan tak lagi sanggup diemban oleh orang tua yang tenggelam dalam penyalahgunaan alkohol, meninggalkan anak-anak dengan jiwa penuh luka. Trauma yang mengamplifikasi risiko serupa di generasi berikutnya. Tidak mengherankan jika angka penelantaran anak cukup tinggi di negara-negara dengan permasalahan penggunaan alkohol yang cukup tinggi. Sekitar satu dari 10 kasus anak yang mengalami penelantaran atau penganiayaan di AS, berkaitan dengan orang tua yang mengalami gangguan penggunaan alkohol.
Permasalahan kesehatan akibat alkohol melibatkan berbagai organ tubuh. Intoksikasi akut mengakibatkan penurunan kesadaran dan fungsi vital, hingga kematian. Paparan kronis alkohol mengakibatkan kerusakan area otak kecil (serebelum) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan. Sindrom Wernicke–Korsakoff adalah istilah khusus untuk kerusakan otak akibat paparan alkohol, yang ditandai gangguan memori berat dan defisiensi vitamin B1 (tiamin). Alkohol membentuk metabolit toksik, sehingga memicu kematian sel serta meningkatkan risiko kanker. Konsumsi alkohol kronis juga menyebabkan defisiensi berbagai zat gizi akibat gangguan asupan, absorpsi, dan metabolisme nutrien. Yang jamak dikenal adalah penyakit hati kronis alkoholik, yang dapat berujung pada kerusakan hati permanen. Namun hati bukanlah satu-satunya yang terdampak. Ada sistem kardiovaskular, pencernaan, sistem imun, endokrin dan reproduksi yang kesemuanya dapat mengalami kerusakan. Belum lagi dampak konsumsi alkohol terhadap perkembangan janin yang ditandai gangguan belajar dan perkembangan perilaku pada masa kanak.
Konsep bahwa alkohol dalam jumlah kecil bermanfaat untuk kesehatan jantung, kini sudah usang dan ditinggalkan. World health organization telah menyatakan bahwa tidak ada batas kadar aman untuk konsumsi alkohol. WHO merekomendasikan berbagai kebijakan pengendalian ketat terhadap alkohol, termasuk pembatasan akses, pelarangan iklan, dan peningkatan pajak alkohol sebagai upaya menurunkan dampak kesehatan masyarakat akibat alkohol. Rekomendasi ini telah diterapkan di negara kita.
Akar masalah penggunaan alkohol tentu multifaktor dan tak lepas dari pengaruh budaya normalisasi minuman beralkohol. Ada bahaya mengancam pada sebagian kecil masyarakat dengan kecenderungan adiksi yang tinggi. Proses penyembuhan adiksi alkohol juga tidak mudah. Ada nuansa stigma yang menyebabkan keterlambatan penderita mencari pertolongan. Ada sirkuit reward dan penguatan di area otak yang telah terganggu, ada ketergantungan fisik yang menyebabkan gejala putus alkohol yang menyiksa.
Sebagai bagian bangsa Indonesia kita patut bersyukur atas permasalahan penggunaan alkohol dalam level yang lebih rendah di negara kita. Data dan fenomena masalah ini di AS cukup sebagai warning, pengingat agar bangsa ini tidak terjatuh dalam jurang yang sama. Generasi muda patut kita jaga agar terhindar dari masalah penyalahgunaan alkohol maupun zat lainnya. Kecanggihan fungsi korteks prefrontal adalah Amanah Tuhan YME yang hanya dititipkan untuk manusia agar digdaya menjadi pemelihara kelestarian bumi dan peradaban manusia. Jangan biarkan alkohol merusaknya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
