Pendidikan Karakter yang Menggerakkan Generasi Indonesia Emas 2045
Eduaksi | 2025-12-12 17:39:22Belajar dari Langkah Kecil: Kisah Mahasiswa Menemukan Makna Pendidikan Sejati
Jangan biarkan diri kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Duduk berjam-jam di kelas, mendengarkan materi dari awal hingga akhir, lalu pulang tanpa melakukan apa pun—semuanya terasa datar, hambar, dan jauh dari kata bermakna. George Bernard Shaw pernah berkata, “Jangan menunggu kesempatan datang, tetapi ciptakanlah kesempatan itu sendiri.” Kalimat itu menjadi pengingat sekaligus penggerak bagi kami, para mahasiswa, untuk mengambil langkah berbeda. Kami memilih menciptakan kesempatan belajar yang lebih hidup melalui kegiatan field study. Kami ingin membuktikan bahwa pendidikan tidak berhenti di buku catatan atau slide presentasi dosen. Pendidikan yang sesungguhnya adalah ketika teori bertemu praktik, ketika ilmu berubah menjadi tindakan nyata yang memberi dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.
Perjalanan kami membawa kami ke TK Bahtera Kasih Bunda di Surabaya. Bukan sekadar sekolah biasa, tetapi tempat di mana nilai cinta tanah air diajarkan dengan cara-cara yang lembut, sederhana, dan sesuai dengan usia anak-anak.
Tema “Cinta Tanah Air” dipilih karena:
- sejalan dengan nilai karakter yang sudah ditanamkan sekolah,
- relevan untuk membentuk generasi berkarakter sejak dini,
- penting untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Dalam kegiatan ini, kami melakukan observasi, wawancara, dan interaksi langsung dengan kepala sekolah, Ibu Ismijati. Beliau menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak anak-anak berada di bangku taman kanak-kanak. Menurut beliau, masa usia dini adalah fase emas di mana nilai, kebiasaan, dan sikap dasar anak mudah terbentuk. Apa yang mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari akan menjadi fondasi karakter mereka kelak. Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh ditunda, apalagi dianggap sepele. Di TK Bahtera Kasih Bunda, konsep abstrak seperti Pancasila diajarkan bukan dengan hafalan yang kaku, tetapi lewat contoh nyata dalam keseharian: berbagi, menghormati guru, mencintai lingkungan, dan saling membantu. Nilai-nilai kebangsaan ditanamkan melalui rutinitas sederhana yang menyenangkan, bukan instruksi yang memaksa.
Dari kegiatan ini, satu hal menjadi sangat jelas: pendidikan karakter tidak bisa hanya disampaikan melalui kata-kata. Ia harus dihidupkan dalam tindakan. Anak-anak perlu merasakannya, melihat contohnya, dan mengalaminya secara langsung. Justru dari interaksi sederhana dengan anak-anak itulah kami belajar banyak hal. Senyum tulus, kejujuran spontan, dan keluguan mereka menjadi cermin bahwa karakter dibentuk melalui pengalaman, bukan hafalan. Field study ini menghubungkan dua dunia—dunia teori yang kami pelajari di kampus dan dunia nyata yang kami temukan di sekolah.
Melalui pengalaman ini, muncul keyakinan baru yang semakin kuat: perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jika nilai-nilai cinta tanah air ditanamkan sejak dini, Indonesia tidak perlu “cemas 2045”, tetapi justru siap melangkah menuju “Indonesia Emas 2045”. Anak-anak yang hari ini belajar mencintai tanah air adalah generasi yang kelak memegang tonggak masa depan bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
