Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Revyoni Parti Roha Situmorang

Tanpa Lihat Jam, Bagaimana Cara Mata Tahu Hari Sudah Malam dan Waktunya Tidur?

Medika | 2026-11-03 14:04:37
Ilustrasi seseorang yang mengantuk di malam hari. (AI Generated)

Pernah gak sih kamu mikirin, kenapa tiap kali malam datang, tubuh kita kaya punya tombol shutdown otomatis? Padahal seharian kita udah riwa riwi, mulai dari desak desakan pas berangkat kuliah, pusing ngerjain tugas di laptop, sampai macet macetan di jalan. Begitu rebahan di kamar malam hari, kelopak mata langsung kerasa berat banget.

Rasa kantuk yang datang tiap malam ini sebenarnya bukan cuma karena kita capek habis beraktivitas. Di balik layar, tubuh kita lagi menjalankan skenario canggih hasil kerja sama dua sistem utama: Sistem Saraf (si pengirim sinyal kilat) dan Sistem Endokrin (sistem kelenjar hormon). Biar gak pusing sama istilah medis dari kampus, yuk kita bedah gimana cara kerja tubuh kita sendiri dengan bahasa yang lebih santai!

Ada "Jam Waker" di Dalam Otak Kita

Di dalam otak manusia, tepatnya di area hipotalamus, ada bagian kecil bernama Suprachiasmatic Nucleus (atau singkatnya SCN). Biar gampangnya, anggap aja SCN ini adalah jam biologis utama tubuh kita yang kerjanya ngikutin sinyal cahaya yang ditangkap sama mata.

Pas siang hari, mata kita nangkep cahaya matahari yang terang, lalu sinyal ini langsung dikirim ke sistem saraf otak. Otak pun memberi perintah: "Woy, hari masih terang, jangan lemes!" Makanya kita bisa tetap fokus kuliah, kerja, dan jalan jalan. Tapi begitu matahari tenggelam dan suasana mulai gelap, mata berhenti nerima cahaya terang. Di sinilah SCN di hipotalamus langsung paham kalau jam kerja tubuh udah selesai dan saatnya istirahat.

Hormon Melatonin: "Obat Tidur" Alami Buatan Tubuh

Begitu sistem saraf ngasih laporan kalau di luar udah gelap, giliran Sistem Endokrin yang beraksi. Bedanya sama saraf yang pakenya sinyal listrik, sistem endokrin ini mainnya lewat cairan kimia bernama hormon yang dialirin lewat darah. Di otak kita ada kelenjar kecil namanya kelenjar pineal. Begitu dapet instruksi kalau hari udah malam, kelenjar ini langsung memproduksi hormon melatonin alias si hormon pemicu kantuk.

Pas hormon melatonin ini ngalir ke seluruh tubuh, efeknya langsung terasa secara beruntun. Suhu tubuh dan metabolisme diturunin biar pembakaran energi melambat. Otot otot yang tegang habis beraktivitas seharian mulai dilemasin. Selain itu, detak jantung dan napas kita juga jadi lebih halus dan teratur. Efek gabungan inilah yang bikin mata kita mulai keriyep keriyep, badan lemes rileks, dan akhirnya kita tertidur lelap.

Tapi Kenapa Kadang Malah Susah Tidur?

Nah, ini dia masalah anak muda jaman sekarang. Kita sering tanpa sadar ngacauin sistem canggih ini. Aktivitas malam hari kaya main HP, nonton film, atau scroll TikTok di atas kasur bikin mata kita kepapar blue light (cahaya biru) dari layar.

Cahaya terang ini bikin otak ketipu! Otak mikirnya hari masih siang. Alhasil, kelenjar pineal nahan diri dan gak mau ngelepasin hormon melatonin. Dampaknya pas kita bangun besok pagi, otak kerasa blank (brain fog) dan susah fokus pas ngelakuin aktivitas harian atau berkendara. Badan juga kerasa lemes karena daya tahan tubuh drop. Gak cuma itu, kita jadi gampang moodyan karena keseimbangan hormon lain seperti kortisol, yaitu hormon pemicu stres yang dihasilkan kelenjar adrenal, jadi ikut terganggu.

Rasa mengantuk di malam hari itu sebenarnya bentuk perhatian alami dari tubuh kita sendiri. Tubuh cuma minta waktu buat recharge baterai dan memperbaiki sel sel yang rusak. Jadi kalau nanti malam mata udah mulai kerasa berat, mending matiin lampu, jauhin HP, dan biarkan hormon tubuh bekerja secara alami.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image