Bukan Sekadar Angkringan: Cah Lanang dan Mimpi Besar di Balik Usaha Keluarga
Kuliner | 2026-11-03 14:16:01Dari usaha sederhana yang berawal dari keinginan menyediakan makanan terjangkau, Angkringan Cah Lanang kini membawa harapan lebih besar tentang kemandirian keluarga dan kesempatan kerja yang inklusif.
Di tengah semakin banyaknya pilihan kuliner, usaha angkringan masih menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk menikmati makanan dengan harga terjangkau. Konsep sederhana, suasana santai, dan beragam pilihan menu membuat angkringan tetap memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Namun, di balik sebuah usaha kuliner sederhana, terkadang terdapat cerita perjuangan dan harapan yang lebih besar dari sekadar mencari keuntungan.
Salah satunya adalah Angkringan Cah Lanang yang berlokasi di Kampung Kacipet, Desa Malang Nengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Sebuah usaha kuliner keluarga yang mulai berdiri pada 28 Agustus 2025. Usaha ini berawal dari ide sederhana seorang anak yang ingin menghadirkan tempat makan bagi anak-anak muda di lingkungan sekitarnya. Harapannya, masyarakat dapat menikmati makanan dengan harga murah tetapi tetap mengenyangkan.
Pemilik Angkringan Cah Lanang kemudian menyambut ide tersebut dan mulai mencari inspirasi dengan mengunjungi beberapa tempat usaha angkringan. Dari pengamatan tersebut, muncul keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda, terutama dari segi cita rasa makanan.
“Biasanya angkringan makanannya identik dengan kecap, tetapi saya ingin punya olesan sendiri dengan rempah-rempah yang lebih banyak supaya rasanya benar-benar terasa,” ungkap pemilik ketika menceritakan awal mula usaha tersebut.
Menariknya, racikan bumbu yang kini menjadi salah satu ciri khas Cah Lanang awalnya dipelajari secara mandiri melalui YouTube. Seiring berjalannya waktu, beberapa pelanggan bahkan mengira pemilik berasal dari Yogyakarta karena cita rasa bumbunya dianggap memiliki karakter khas masakan daerah tersebut. Padahal, pemilik mengaku bukan berasal dari Yogyakarta.
Menghadirkan Rasa Khas dengan Harga Terjangkau
Angkringan Cah Lanang menawarkan berbagai pilihan makanan dan minuman, mulai dari nasi bakar, ayam bakar, ikan nila bakar, lele goreng, gorengan, hingga aneka sate seperti ati ampela, telur puyuh, usus, kikil, dan kulit. Untuk minuman, tersedia susu jahe, es teh manis, es jeruk, kopi susu, matcha, dan beberapa pilihan lainnya.
Pada awalnya, nasi bakar menjadi salah satu menu yang paling diminati pelanggan. Namun, setelah menambahkan menu ayam bakar dan ikan bakar, kedua menu tersebut mulai mendapatkan perhatian lebih dari konsumen. Menurut pemilik, pelanggan menyukai ikan bakar yang disajikan karena memiliki cita rasa berbeda dibandingkan produk serupa di tempat lain.
Keunikan lainnya terletak pada penggunaan bumbu olesan yang terus ditambahkan ketika proses pemanggangan. Hal tersebut menjadi salah satu upaya pemilik untuk menjaga cita rasa makanan agar tetap memiliki karakter tersendiri.
Tidak hanya memperhatikan rasa, pemilik juga berusaha menyesuaikan harga dengan kondisi ekonomi masyarakat sekitar. Salah satu pelanggan menyampaikan bahwa harga makanan di Angkringan Cah Lanang tergolong murah dan rasanya enak. Pelanggan tersebut juga menyukai susu jahe dan gorengan yang tersedia.
Bagi pemilik, mempertahankan pelanggan bukan hanya tentang menawarkan harga murah, tetapi juga menjaga kualitas makanan. Ia mengaku tidak ingin mengurangi penggunaan rempah-rempah hanya demi menekan biaya produksi. Pemilik bahkan terbuka terhadap kritik dan masukan pelanggan agar kekurangan dalam pelayanan maupun produk dapat diperbaiki.
Membaca Kekuatan dan Tantangan melalui Analisis SWOT
Dalam menjalankan usaha, pelaku UMKM tidak cukup hanya mengandalkan produk yang menarik. Mereka juga perlu memahami kondisi internal dan lingkungan eksternal agar mampu bertahan menghadapi persaingan. Salah satu cara untuk melihat kondisi tersebut adalah melalui analisis SWOT, yaitu Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman).
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik, anggota keluarga yang terlibat dalam usaha, serta pelanggan, terdapat beberapa faktor yang dapat menggambarkan kondisi Angkringan Cah Lanang.
1. Kekuatan (Strengths)
Kekuatan utama Angkringan Cah Lanang terletak pada cita rasa dan bumbu olesan khas yang menjadi pembeda dari angkringan lainnya. Selain itu, harga yang relatif terjangkau, variasi menu, serta lokasi yang dekat dengan masjid dan jalan raya menjadi nilai tambah bagi usaha tersebut.
Dukungan keluarga juga menjadi kekuatan tersendiri. Kegiatan operasional usaha dijalankan bersama suami dan anak-anak, sehingga usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga menjadi kegiatan bersama untuk membangun kemandirian keluarga.
2.Kelemahan (Weaknesses)
Di balik keunggulannya, Angkringan Cah Lanang masih menghadapi keterbatasan tenaga kerja dan kapasitas tempat. Ketika jumlah pelanggan meningkat, pemilik terkadang kesulitan mengatur seluruh kegiatan pelayanan dan penyajian makanan.
Keterbatasan tenaga kerja juga membuat pemilik belum dapat menambah terlalu banyak variasi menu. Bahkan, rencana untuk menyediakan menu soto masih perlu dipertimbangkan karena harus disesuaikan dengan kemampuan operasional.
Selain itu, bahan baku tertentu seperti kulit ayam terkadang sulit diperoleh di pasar. Kondisi ini membuat pemilik harus berbelanja lebih awal agar kebutuhan bahan baku tetap terpenuhi.
3. Peluang (Opportunities)
Perubahan selera konsumen sebenarnya dapat menjadi peluang bagi Angkringan Cah Lanang untuk mengembangkan usahanya. Pemilik memiliki keinginan menambah pilihan menu sesuai minat pelanggan, salah satunya menu soto.
Selain pengembangan menu, peningkatan kenyamanan tempat juga menjadi peluang untuk menarik lebih banyak pengunjung. Pemilik berharap suatu saat dapat menyediakan fasilitas tambahan seperti musik dan Wi-Fi agar pelanggan merasa lebih nyaman.
Peluang lainnya adalah pemanfaatan layanan pemesanan makanan secara online melalui platform seperti Grab, Shopee, atau GoFood. Namun, rencana tersebut masih dipertimbangkan karena pemilik khawatir tidak mampu menangani pesanan tambahan ketika kondisi angkringan sedang ramai.
4. Ancaman (Threats)
Persaingan dengan usaha kuliner lain menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Di sekitar lokasi usaha terdapat berbagai pilihan tempat makan dengan menu yang beragam, sehingga pelanggan memiliki banyak alternatif.
Selain persaingan, perubahan harga bahan baku juga memengaruhi kegiatan operasional. Pemilik mengungkapkan bahwa harga ayam yang sebelumnya sekitar Rp45.000 saat periode libur sekolah pernah meningkat menjadi sekitar Rp50.000 hingga Rp55.000 menurut pengalamannya membeli bahan baku.
Ketika harga bahan baku meningkat, pemilik berusaha tidak langsung menaikkan harga makanan karena mempertimbangkan daya beli masyarakat sekitar. Salah satu penyesuaian yang terkadang dilakukan adalah mengurangi ukuran porsi, meskipun keputusan tersebut sesekali mendapat keluhan dari pelanggan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan antara harga jual, kualitas produk, dan biaya operasional merupakan tantangan penting bagi pelaku UMKM.
Strategi Bertahan: Menjaga Kualitas dan Berkembang Secara Bertahap
Dari hasil identifikasi SWOT, Angkringan Cah Lanang memiliki peluang untuk berkembang dengan memanfaatkan keunggulan yang sudah dimiliki sekaligus memperbaiki keterbatasan internalnya.
Strategi pertama adalah mempertahankan ciri khas produk. Bumbu olesan dan cita rasa yang menjadi identitas usaha perlu dijaga konsistensinya agar pelanggan tetap memiliki alasan untuk memilih Cah Lanang dibandingkan tempat makan lainnya.
Strategi kedua adalah melakukan pengembangan menu secara bertahap. Penambahan menu sebaiknya didasarkan pada masukan pelanggan dan kemampuan tenaga kerja yang tersedia. Dengan demikian, usaha tidak perlu terburu-buru mengikuti tren yang belum tentu diminati konsumen.
Strategi ketiga adalah meningkatkan kenyamanan tempat secara perlahan. Mengingat kapasitas tempat masih terbatas, penambahan fasilitas dapat dilakukan sesuai kemampuan keuangan usaha.
Strategi berikutnya adalah mempertimbangkan pemasaran digital dan layanan pesan antar ketika kesiapan operasional sudah memadai. Pemilik sendiri mengaku tertarik memanfaatkan aplikasi pemesanan makanan, tetapi tetap mengutamakan pelanggan yang datang langsung agar pelayanan tidak terganggu.
Dari berbagai strategi tersebut, dapat dilihat bahwa pengembangan usaha tidak selalu harus dilakukan dengan perubahan besar. Mempertahankan kualitas, memahami kebutuhan pelanggan, serta mengelola sumber daya secara tepat juga merupakan bagian penting dari keberlanjutan sebuah UMKM.
Lebih dari Sekadar Usaha, Ada Harapan untuk Masa Depan
Hal yang membuat kisah Angkringan Cah Lanang semakin menarik adalah tujuan keluarga dalam membangun usaha ini. Pemilik tidak hanya ingin memperoleh penghasilan, tetapi juga ingin melatih anak-anaknya agar memiliki kemandirian dan keterampilan dalam menjalankan kegiatan usaha.
Salah satu anaknya merupakan penyandang disabilitas pendengaran atau tunarungu. Pengalaman tersebut membuat pemilik memikirkan bagaimana masa depan anaknya ketika kelak ingin memasuki dunia kerja. Karena itu, keterlibatan anak dalam kegiatan usaha menjadi salah satu cara keluarga untuk membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan pengalaman bekerja.
Harapan tersebut ternyata tidak berhenti sampai di situ. Anggota keluarga yang terlibat dalam usaha juga menceritakan adanya impian untuk mengembangkan bisnis makanan yang lebih besar dan suatu saat membuka kesempatan kerja bagi orang-orang dengan kebutuhan khusus, termasuk penyandang disabilitas.
Impian itu tentu membutuhkan proses dan dukungan dari berbagai pihak. Saat ini, keluarga masih berusaha mengembangkan Angkringan Cah Lanang dengan sumber daya yang tersedia. Namun, keinginan untuk menciptakan peluang kerja yang lebih inklusif menjadi salah satu motivasi mereka untuk terus bertumbuh.
Pemilik juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak takut memulai usaha dan berusaha mandiri. Menurutnya, selama ada kemauan dan keinginan yang kuat, setiap orang memiliki kesempatan untuk membangun sesuatu dari awal.
Bukan Hanya Tentang Seberapa Besar Usaha Bertumbuh
Perjalanan Angkringan Cah Lanang menunjukkan bahwa sebuah UMKM dapat memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar aktivitas jual beli. Di dalamnya terdapat semangat keluarga, kreativitas dalam menciptakan produk, usaha mempertahankan pelanggan, serta harapan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Tentu, masih ada berbagai tantangan yang perlu dihadapi, mulai dari keterbatasan tenaga kerja, tempat usaha, hingga perubahan harga bahan baku. Namun, dengan mempertahankan kualitas dan menyusun strategi pengembangan sesuai kemampuan, usaha kecil seperti Cah Lanang tetap memiliki kesempatan untuk berkembang.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah usaha tidak selalu diukur dari seberapa cepat bisnis menjadi besar. Terkadang, keberhasilan juga terlihat dari kemampuan untuk bertahan, memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, dan menjaga mimpi agar terus tumbuh.
Angkringan Cah Lanang mungkin berawal dari keinginan sederhana untuk menyediakan makanan murah dan mengenyangkan. Namun, di balik setiap menu yang disajikan, tersimpan harapan keluarga tentang kemandirian, masa depan, dan kesempatan yang lebih luas bagi sesama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
