Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ayu citra abel Savitri

Soto Garing Bukan di Goreng

Kuliner | 2026-11-03 18:40:56

Siapa di sini yang baru dengar nama Soto Garing alias Toring?!

Mendengar nama soto garing, sebagian orang mungkin langsung membayangkan semangkuk soto yang digoreng sampai renyah. Ada pula yang mengira kuahnya dimasak hingga benar-benar mengering. Padahal, kuliner yang akrab disebut toring ini bukan soto goreng dan bukan pula makanan hasil tren sesaat

www.infoklaten.my.id

Soto garing merupakan salah satu sajian khas Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Keunikannya terletak pada penggunaan kuah yang sangat sedikit. Alih-alih memenuhi mangkuk seperti soto pada umumnya, kuah pada toring hanya digunakan untuk membasahi nasi dan lauk sekaligus menyatukan bumbunya.

Namanya memang unik, tetapi kisah di balik kelahirannya jauh lebih menarik. Toring memperlihatkan bagaimana sebuah inovasi sederhana di warung makan dapat tumbuh menjadi bagian dari identitas kuliner suatu daerah.

Apa sih Soto Garing itu?

Biasanya kita kenal soto yang mangkuknya banjir kuah hangat kan?! Nah Soto Garing justru yang khas itu cuma dikasih sedikit kuah kaldu — bahkan ada yang hampir nggak pakai kuah sama sekali!

Kuah kaldu dituangkan sangat sedikit, sekadar membasahi permukaan nasi dan isiannya. Pada beberapa racikan, kecap asin turut ditambahkan untuk memperkuat rasa. Setelah seluruh bahan diaduk, setiap butir nasi menyerap perpaduan kaldu, kecap, dan bumbu sehingga menghasilkan cita rasa gurih yang lebih pekat.

Isinya tetap lengkap banget: nasi, tauge, kol, seledri, suwiran ayam kampung, bawang goreng, lalu diberi bumbu rempah soto + kecap lokal yang bikin semuanya teraduk merata. Makanya namanya disebut "Garing" atau "Toring" karena terasa lebih kering dan bumbunya lebih medok nendang di lidah!

Kata garing dalam bahasa Jawa berarti kering. Namun, sebutan tersebut tidak harus dipahami secara harfiah. Toring bukanlah makanan yang sepenuhnya kering atau bertekstur renyah, melainkan soto yang tidak digenangi kuah. Bahkan, sebagian warung tetap menambahkan sedikit kaldu untuk mempertahankan aroma dan karakter sotonya

Asal Usul YangBikin Meleleh

Ceritanya bermula sejak tahun 1974 di kawasan Delanggu Klaten, tepatnya Warung Bu Yati milik Bapak Sudirman ! Dulu warung itu awalnya jual sop lalu beralih ke soto kuah. Lalu ada anak yang nggak mau makan soto banyak kuah, minta dibuat yang lebih garing. Selain itu banyak pekerja yang butuh bekal praktis biar nggak bocor pas dibawa ke tempat kerja — makanya dibuat kuahnya dikurangi! Awalnya cuma permintaan kecil aja, eh malah makin banyak yang suka sampai jadi ikon Klaten yang terkenal

Yang bikin makin penasaran: tiap warung punya racikan sendiri‑sendiri! Ada yang kasih sedikit kaldu, ada yang mengandalkan kecap lokal biar makin gurih. Banyak orang yang udah nyoba bilang: "Ini baru soto yang bikin nagih — bukan cuma hangat‑hangatan doang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image