Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Na'ilah Istiqomah Ammatullah

Silent Killer di Balik Junk Food Favoritmu

Info Sehat | 2026-11-03 13:01:55

Pemilihan makanan pada era pesatnya perkembangan teknologi dan tumpukan kesibukan tidak lagi dilihat dari sisi gizi yang terkandung dalam suatu makanan. Kurangnya pengetahuan tentang gizi dan padatnya kegiatan menjadi alasan utama mengapa mayoritas kita memilih makanan yang cepat saji dan praktis (junk food). Selain karena kedua hal tersebut, tempat yang nyaman, jarak yang dekat, rasa yang enak, ditambah dengan fasilitas Wi-Fi gratis menjadi daya tarik tersendiri bagi kita untuk memilih junk food sebagai makanan sehari-hari.

Pekerja dengan jam kerja tinggi akan memilih junk food dengan alasan hemat waktu, pelajar yang sedang istirahat cenderung memilih tempat yang dekat dari sekolah serta biaya makanan yang relatif terjangkau, tidak jarang juga ditemui mahasiswa yang mengerjakan tugas di tempat tersebut karena alasan Wi-Fi gratis. Faktor perkembangan teknologi seperti media sosial juga turut berkontribusi dalam perilaku pemilihan makanan; tersebarnya informasi di media sosial mendorong konsumen melihat adanya tren makanan terbaru dan menarik. Tempat makan dengan aesthetic view sering kali dipilih oleh Gen Z untuk mendapatkan foto terbaik mereka. Hal-hal tersebut yang kemudian menyebabkan frekuensi konsumsi makanan cepat saji menjadi tinggi.

Gambar ragam aneka junk food (sumber: id.pinterest.com)

Junk food dideskripsikan sebagai makanan yang memiliki kandungan gizi yang tidak seimbang. Kebiasaan mengonsumsi junk food dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Hal ini disebabkan oleh kandungan gizi yang berlebihan seperti burger, fried chicken, sosis, popcorn, pizza, minuman berkarbonasi, dan lain sebagainya yang sudah tidak asing lagi menjadi bagian dari makanan kita sehari-hari. Efek negatif yang dapat ditimbulkan akibat mengonsumsi junk food dapat berupa gangguan jangka pendek dan jangka panjang, yang mana keduanya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari hingga menyebabkan kematian.

Salah satu penyakit yang timbul akibat mengonsumsi junk food secara berlebihan adalah obesitas. Penyakit ini dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit lainnya; penumpukan lemak yang berlebihan pada orang obesitas meningkatkan risiko mengalami penyakit serius seperti stroke, diabetes melitus tipe 2, jantung koroner, dan lainnya. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan sekitar 40 tahun terakhir terjadi lonjakan kasus obesitas pada remaja sendiri sebanyak sepuluh kali lipat. Setidaknya terdapat 2,8 juta jiwa melayang di dunia setiap tahunnya disebabkan oleh obesitas. Sedangkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan hampir seperempat dari penduduk Indonesia tergolong kelebihan berat badan atau obesitas.

Di balik kekayaan rasa aneka junk food, terdapat kandungan yang sering luput dari perhatian kita. Rasa lezat, manis, atau gurih berasal dari kandungan garam, gula, lemak, serta kalori yang berlebihan. Junk food memiliki kandungan garam dan gula berlebihan namun rendah serat menyebabkan risiko obesitas yang tinggi pada tubuh. Kandungan garam yang tinggi menyebabkan produksi air liur dan enzim meningkat sehingga keinginan untuk terus mengonsumsi makanan tersebut sulit dihentikan. Ketika lemak jahat dan natrium dikonsumsi berlebihan, keseimbangan sodium dan potasium dalam tubuh terganggu, sehingga menyebabkan hipertensi. Selain itu, kolesterol tinggi dari junk food dimetabolisme di dalam hati; dalam jangka panjang hal ini dapat merusak organ hati dan memicu penyakit jantung dalam suatu rantai.

Tidak jarang pula ditemukan kandungan zat aditif berbahaya pada junk food berupa pengawet, pewarna, penyedap rasa, penambah aroma, maupun pengental. Kandungan zat aditif tersebut dapat menyebabkan efek negatif jangka pendek seperti kesulitan konsentrasi, mual, pusing, hingga jantung berdebar. Dalam jangka panjang tentunya kandungan-kandungan tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti tumor pada berbagai organ, kerusakan sel/kromosom, keracunan, kerusakan saraf, dan lain sebagainya. Pada seseorang yang jarang berolahraga serta mengonsumsi junk food, hal tersebut meningkatkan risiko obesitas hingga 2,27 kali lipat dibandingkan mereka yang rajin berolahraga.

Kemudian langkah apa yang dapat kita lakukan sebagai upaya menjaga diri dan orang-orang tersayang? Untuk mengatasi indera penglihatan, kita dapat menggunakan metode eat the rainbow, yaitu menyajikan beragam buah dan sayur berdasarkan warna untuk membuat makanan lebih menarik di mata. Kemudian untuk mengatasi indera penciuman dan perasa, kita dapat menggunakan berbagai bahan alami seperti daun salam, daun jeruk, dan daun pandan untuk aroma makanan, sedangkan bawang putih, bawang merah, cabai, kunyit, serai, ketumbar, dan cengkih untuk perasa. Sebagai pengental dan pengikat, kita juga dapat menggunakan santan, pati jagung, pati singkong, dan pati beras.

Waktu yang menjadi hambatan beberapa orang untuk memilih makanan sehat dapat diatasi dengan penerapan metode meal prep atau penyiapan makanan. Meal prep adalah proses pengaturan bahan-bahan makanan sehat yang siap pakai yang dapat diatur dalam durasi waktu tertentu sehingga menghemat banyak waktu. Metode ini dapat dilakukan dengan menggandakan porsi sekali masak untuk dikonsumsi dalam seminggu, seperti ayam ungkep, tahu tempe marinasi, dan sayuran potong.

Tidak hanya dari kandungan makanan, edukasi di kalangan masyarakat juga tidak kalah penting untuk mengurangi angka kebiasaan mengonsumsi junk food. Pendampingan dan edukasi secara berkala, praktik membaca label informasi gizi, serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat sekitar mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan seputar bahaya junk food, pentingnya gizi seimbang, dan juga olahraga rutin. Pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) juga bisa dimanfaatkan untuk menciptakan visualisasi seperti apa yang terjadi di dalam tubuh jika kita mengonsumsi junk food secara berlebihan, bisa berupa gambar maupun video. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat dilakukan sebagai upaya mengurangi konsumsi junk food.

Makanan yang terlihat bersih bukan jaminan makanan tersebut baik bagi tubuh kita. Aspek kandungan gizi dalam makanan yang tidak tampak dari penglihatan manusia juga sangat penting untuk diperhatikan. Maka mari ambil langkah dari diri sendiri untuk menjaga tubuh kita serta orang-orang tersayang kita.

REFERENSI

Andriani, Nuri, et al. "Perilaku Konsumsi Makanan Cepat Saji pada Remaja dan Dampaknya bagi Kesehatan." Public Health Journal, vol. 1, no. 2, 2024.

Fernandez, Melissa A., et al. "Meal Planning as a Strategy to Support Healthy Eating." Nutrition Science en Évolution, vol. 17, no. 3, 2020, pp. 12-16.

Fibrianto, Kiki, et al. Gizi Sensoris dan Kognisi Pangan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan dan Perilaku Konsumsi. Media Nusa Creative (MNC Publishing), 2025.

Kementerian Kesehatan RI. Hasil Utama Riskesdas 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018.

Mardhiyyah, Nida Putri, et al. "Kampanye Metode Eat the Rainbow untuk Mengatasi Ketergantungan Junk Food (Preventing Junk Food Addiction with ‘Eat the Rainbow’ Method Campaign)." 2024.

Nasution, Jamilah. "Bahan Pangan Pelengkap." Ilmu Bahan Makanan Pelengkap, 2026, p. 30.

Permatasari, Anggie Annisa, et al. "Dampak Makanan Cepat Saji bagi Kesehatan Tubuh pada Kalangan Remaja." Jurnal Ventilator, vol. 2, no. 2, 2024, pp. 110-120.

Putri, Valendira Nuraini, et al. "Multiple Correspondence Analysis (MCA) Faktor Risiko Status Obesitas pada Penduduk Dewasa (Data Survei Kesehatan Indonesia 2023)." Jurnal Riset dan Transformasi Kesehatan, vol. 1, no. 1, 2026, pp. 1-12.

Salim, Baiq Rissa Khaerawati, et al. "Obesitas sebagai Faktor Risiko Terjadinya Peningkatan Kadar Trigliserida dalam Darah: Tinjauan Pustaka." Intisari Sains Medis, vol. 12, no. 2, 2021, pp. 519-523.

Sudrajat, Agus, dan Catur Retno Lestari. "Hubungan Intensitas Paparan Media Sosial dengan Pola Konsumsi Junk Food pada Ibu Rumah Tangga." Indonesian Journal of Nutrition Science and Food, vol. 3, no. 2, Feb. 2024, pp. 16-22, e-journal.ivet.ac.id/index.php/IJNuFo/article/view/3114. Diakses 1 Nov. 2026.

Tanjung, Nadya Ulfa, et al. "Junk Food dan Kaitannya dengan Kejadian Gizi Lebih pada Remaja." Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat: Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat, vol. 14, no. 3, 2022, pp. 133-140.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image