Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Ketika Masa Depan Anak Diukur dari Dunia Kerja

Sekolah | 2026-09-13 07:08:00
Ilustrasi AI

Lulusan siap kerja tentu kabar baik. Tetapi, apakah siap kerja sudah cukup untuk disebut sebagai keberhasilan pendidikan?

Pertanyaan itu layak direnungkan ketika hubungan sekolah dan industri di Jawa Barat semakin diperkuat.

Pada 1 September 2026, sebanyak 32 SMK Negeri di Jawa Barat menjalin kerja sama dengan 64 perusahaan dari berbagai sektor. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendekatkan pembelajaran dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Perusahaan bahkan diharapkan menjadi ruang belajar bagi siswa agar memperoleh pengalaman praktis.

Gagasan itu kemudian diperluas. Pada 3 September 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa penyiapan tenaga teknis perlu dilakukan sejak kelas 10. Kompetensi siswa diharapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga lulusan lebih mudah memasuki dunia kerja. Pernyataan tersebut dimuat Portal Jabar pada 4 September 2026.

Secara sederhana, arah ini mudah dipahami. Sekolah memang tidak boleh berjalan terlalu jauh dari kenyataan. Anak-anak perlu memiliki keterampilan yang relevan. Dunia industri pun membutuhkan tenaga yang kompeten.

Namun, ada hal yang lebih dalam daripada sekadar hubungan antara sekolah dan perusahaan: apa sebenarnya tujuan akhir pendidikan?

Pertanyaan ini bukan untuk menolak kemitraan. Justru sebaliknya, ia merupakan bentuk kepedulian agar sebuah kebijakan tidak hanya dinilai dari hasil yang cepat terlihat.

Jika pendidikan terlalu kuat diarahkan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja, ada risiko ukuran keberhasilannya ikut menyempit. Lulusan dianggap berhasil ketika segera terserap. Jurusan dianggap tepat ketika sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Keterampilan dinilai terutama dari nilai gunanya bagi pekerjaan. Padahal, manusia jauh lebih luas daripada pekerjaannya.

Seorang siswa bukan hanya calon operator mesin, teknisi, programmer, tenaga administrasi, atau pekerja profesional. Ia adalah manusia yang kelak mengambil keputusan, membangun keluarga, hidup bermasyarakat, dan memikul tanggung jawab di hadapan Allah Swt. Di sinilah pandangan Islam memberikan pijakan yang berbeda.

*Pandangan Islam*

Allah Swt. berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ilmu dalam Islam tidak berhenti pada manfaat materi. Ilmu seharusnya menuntun manusia mengenal Penciptanya, memahami kehidupan, membedakan yang benar dan salah, serta menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk kemaslahatan.

Rasulullah saw. juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad) . Maka, keterampilan kerja tentu penting, tetapi ia bukan satu-satunya ukuran.

Pendidikan yang utuh semestinya melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, terampil, mampu berpikir, dan siap menghadapi perubahan. Dengan bekal seperti itu, lulusan bukan hanya mampu mengisi kebutuhan pekerjaan yang tersedia, tetapi juga mampu menciptakan gagasan, teknologi, usaha, dan solusi baru.

Di titik ini, kemitraan dengan industri dapat ditempatkan secara proporsional. Industri menjadi tempat praktik dan pengembangan kompetensi. Sekolah tetap memiliki mandat yang lebih luas dalam membentuk manusia. Negara pun memiliki tanggung jawab memastikan arah pendidikan tidak kehilangan visi besarnya.

Sebab, kebutuhan industri hari ini belum tentu sama dengan kebutuhan sepuluh tahun mendatang. Teknologi berubah. Profesi berganti. Bahkan pekerjaan yang sekarang dianggap penting bisa saja berkurang atau hilang.

Karena itu, anak-anak tidak cukup dibekali “keterampilan untuk pekerjaan hari ini”. Mereka perlu dibekali kemampuan belajar sepanjang hayat, berpikir kritis, berinovasi, sekaligus memiliki pijakan nilai yang kokoh.

Inilah refleksi yang patut menyertai penguatan integrasi SMK dan industri. Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan agar pendidikan tetap berada pada jalurnya.

Sebab sekolah bukan sekadar tempat mencetak tenaga kerja. Sekolah adalah tempat menyiapkan manusia untuk menjalani kehidupan dan mempertanggungjawabkan ilmunya.

Jika keduanya dapat berjalan bersama, keterampilan kerja dan pembentukan manusia, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga generasi yang siap memberi manfaat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image