Maulid Nabi Muhammad SAW: Saatnya Keteladanan Menjadi Perilaku
Agama | 2026-09-13 15:30:59Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah pada 2026 tidak hanya berlangsung melalui pengajian dan pembacaan selawat. Kementerian Agama meluncurkan Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan yang dilaksanakan serentak di berbagai daerah. Berdasarkan data Direktorat Penerangan Agama Islam Kemenag, kegiatan tersebut melibatkan 25.313 titik pelaksana dan 2.348.830 peserta dari 35 provinsi. Jumlah tersebut bahkan melampaui target awal 1.781.945 peserta.
Besarnya partisipasi menunjukkan bahwa Maulid Nabi masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar daripada seberapa meriah peringatannya: sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah SAW benar-benar terlihat dalam perilaku sehari-hari?
Pertanyaan tersebut penting karena inti keteladanan Nabi Muhammad SAW tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan. Al-Qur'an menggambarkan Rasulullah sebagai teladan yang baik bagi umat manusia, sementara akhlak menjadi salah satu bagian penting dari misi kenabian. Karena itu, Maulid seharusnya tidak berhenti pada mengenang kelahiran Nabi, tetapi menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali cara manusia berbicara, bekerja, memimpin, memperlakukan orang lain, dan menjalankan amanah.
Maulid Bukan Sekadar Seremonial
Secara historis, peringatan Maulid berkembang menjadi tradisi keagamaan di berbagai wilayah Muslim dengan bentuk yang beragam. Kajian tentang Maulid di Indonesia menunjukkan bahwa perayaan tersebut berinteraksi dengan budaya lokal sehingga menghasilkan tradisi yang berbeda-beda di setiap daerah. Penelitian mengenai tradisi Mauludan di Jawa, misalnya, menemukan adanya nilai spiritual, moral, sosial, dan persatuan dalam berbagai praktik masyarakat.
Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa Maulid bukan sekadar satu bentuk acara yang seragam. Di Indonesia, masyarakat dapat memperingatinya melalui pembacaan selawat, sirah Nabi, pengajian, santunan, kegiatan sosial, hingga tradisi budaya lokal.
Kajian sosiologi agama juga menunjukkan bahwa Maulid memiliki dimensi sosial karena praktik keagamaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan berkaitan dengan nilai serta norma yang berkembang di dalamnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan Maulid tidak seharusnya hanya dilihat dari banyaknya peserta, lamanya acara, atau kemeriahan dekorasi. Hal-hal tersebut dapat menjadi bagian dari peringatan, tetapi substansinya terletak pada apa yang terjadi setelah acara selesai.
Jika seseorang menghadiri Maulid, berselawat, mendengarkan kisah Rasulullah, kemudian kembali melakukan kebohongan, menghina orang lain, mengabaikan amanah, atau berlaku tidak adil, maka ada jarak antara pengetahuan keagamaan dan praktik kehidupan.
Di sinilah Maulid seharusnya menjadi ruang refleksi.
Keteladanan Nabi Relevan dengan Persoalan Masa Kini
Kementerian Agama pada peringatan Maulid Nabi 1448 H menekankan bahwa akhlak merupakan fondasi peradaban. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa transformasi yang dibawa Rasulullah berakar pada tauhid, ilmu pengetahuan, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pesan tersebut relevan dengan persoalan masyarakat saat ini.
Di lingkungan pendidikan, misalnya, keteladanan Nabi dapat diterjemahkan menjadi kejujuran dalam mengerjakan tugas dan ujian. Di dunia kerja, keteladanan dapat diwujudkan melalui disiplin, tanggung jawab, profesionalitas, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dalam kehidupan bermasyarakat, keteladanan dapat terlihat melalui kemampuan menghormati perbedaan dan membantu orang yang membutuhkan.
Hal yang sama berlaku di ruang digital.
Media sosial membuat seseorang dapat menyampaikan pendapat kepada banyak orang hanya dalam hitungan detik. Masalahnya, kecepatan tersebut tidak selalu diikuti kehati-hatian. Informasi yang belum terverifikasi dapat disebarkan, komentar kasar dapat ditulis tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, dan perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan.
Jika Maulid hanya dipahami sebagai momentum memperbanyak selawat, tetapi tidak mendorong perubahan dalam cara seseorang menggunakan lisannya dan media sosialnya, maka pesan keteladanan belum sepenuhnya diterapkan.
Keteladanan Nabi justru perlu hadir dalam persoalan-persoalan yang dekat dengan kehidupan manusia.
Penelitian mengenai etika dan moral dalam hadis Nabi juga menempatkan akhlak sebagai bagian penting dalam pembentukan perilaku manusia. Kajian tersebut memperlihatkan bahwa ajaran moral dalam hadis tidak berhenti pada teori, tetapi berkaitan dengan pembentukan karakter dan perilaku.
Dengan demikian, memperingati Maulid seharusnya mendorong pertanyaan sederhana: setelah mengenal akhlak Rasulullah, apa yang berubah dari diri kita?
Dari Mencintai Rasulullah Menuju Perubahan Sosial
Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak hanya diekspresikan melalui ucapan. Ia perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang memberikan manfaat kepada orang lain.
Contohnya dapat dimulai dari hal sederhana. Menjaga ucapan, menepati janji, menghormati orang tua dan guru, membantu tetangga, menyelesaikan pekerjaan dengan amanah, tidak merugikan orang lain, serta memperlakukan manusia dengan adil merupakan bentuk keteladanan yang dapat dilakukan siapa pun.
Kementerian Agama juga menekankan bahwa Maulid seharusnya tidak menjadi kegiatan seremonial semata. Dalam peringatan 1448 H di Sulawesi Tengah, Kakanwil Kemenag mengajak masyarakat menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memperkuat silaturahmi dan moderasi beragama.
Pesan serupa terlihat dalam rangkaian kegiatan Maulid di berbagai daerah. Kemenag Jawa Tengah, misalnya, menggelar Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani akhlak dan perjalanan hidup beliau.
Artinya, peringatan keagamaan dapat mempunyai dampak sosial ketika nilai yang dibicarakan diterjemahkan menjadi kebiasaan.
Kajian akademik mengenai tradisi Maulid juga menemukan bahwa praktik Maulid dapat mengandung nilai sosial, moral, spiritual, dan persatuan. Dalam tradisi Maulid Ad-Diba', misalnya, penelitian menemukan nilai seperti kejujuran, keramahan, keadilan, kesabaran, kerendahan hati, dan persatuan.
Nilai-nilai tersebut justru sangat dibutuhkan dalam masyarakat yang menghadapi berbagai perbedaan.
Indonesia memiliki keragaman agama, suku, budaya, dan pandangan. Karena itu, keteladanan Nabi dalam membangun kehidupan sosial yang berlandaskan akhlak dapat menjadi salah satu sumber inspirasi untuk menjaga hubungan antarmanusia.
Penutup
Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sebuah agenda tahunan. Ia merupakan kesempatan untuk kembali mengenal perjalanan Rasulullah, memahami nilai yang beliau ajarkan, dan menilai kembali perilaku diri sendiri.
Peringatan Maulid 1448 H di Indonesia menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat. Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan bahkan mencatat lebih dari 2,3 juta peserta di ribuan titik pelaksanaan.
Namun, angka partisipasi bukanlah tujuan akhir.
Nilai Maulid baru benar-benar terasa ketika selawat menghasilkan perilaku yang lebih baik, kisah Nabi melahirkan keteladanan, dan kecintaan kepada Rasulullah mendorong seseorang menjadi lebih jujur, amanah, sabar, adil, serta peduli terhadap sesama.
Pada akhirnya, Maulid tidak seharusnya hanya membuat kita lebih sering membicarakan akhlak Nabi, tetapi juga membuat kita lebih berusaha memiliki akhlak tersebut.
Sebab, mengenang Rasulullah adalah bagian dari kecintaan. Namun, meneladani beliau adalah bentuk kecintaan yang terlihat dalam kehidupan nyata.
Referensi
- Kementerian Agama RI. Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Menag: Akhlak Fondasi Peradaban. 2026.
- Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam Kemenag RI. Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nasional. 2026.
- Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Gema Selawat Kebangsaan Menggema, Kanwil Kemenag Jateng Ajak Perkuat Batin melalui Selawat dan Sirah Nabi. 2026.
- Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah. Jadikan Nabi Muhammad SAW sebagai Teladan dalam Kehidupan. 2026.
- Kementerian Agama Provinsi Lampung Timur. Peringati Maulid Nabi 1448 H, Kemenag Lampung Timur Ikuti Puncak Gema Selawat Kebangsaan. 2026.
- Kementerian Agama. Keputusan Bersama Menteri Agama tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026. 2025.
- Andrean, S., & Susanti, S. S. The Meaning of Mauludan Tradition in Local Javanese Islamic Rituals: Between Teachings and Customs. Mimbar Agama Budaya, 40(2), 2023/2024.
- Derani, S. Maulid dalam Perspektif Sosiologi Agama. Buletin Al-Turas, 20(1).
- Sila, M. A. The Festivity of Maulid Nabi in Cikoang, South Sulawesi: Between Remembering and Exaggerating the Spirit of the Prophet. Studia Islamika, 8(3).
- Huda, M. The Art of Maulid Ad-Diba' Between Tradition and Islam in the Archipelago from a Multicultural Education Perspective. Mimbar Agama Budaya, 41(1).
- Jurnal Riset Agama. Etika dan Moral dalam Pandangan Hadis Nabi Saw. 2021.
- NU Online. Sejarah Maulid Nabi Muhammad. 2019.
- NU Online. Maulid: Sejarah, Tradisi, dan Dalilnya. 2020.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
