Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Influenza yang Menguji Negara

Info Sehat | 2026-10-02 10:09:51
Ilustrasi AI

Yang perlu ditakuti bukan sekadar virus yang menular, tetapi sistem yang baru sibuk ketika masyarakat mulai ramai jatuh sakit.

Kabar tentang 65 kasus positif Influenza A di Kota Bandung patut menjadi perhatian. Dinas Kesehatan Jawa Barat menyebut angka tersebut diperoleh dari pasien yang menjalani pemeriksaan usap dan Whole Genome Sequencing (WGS) di Laboratorium Kesehatan Jawa Barat. Data itu disampaikan pada Jumat, 25 September 2026. Dinkes juga mengingatkan bahwa angka tersebut belum tentu menggambarkan seluruh kasus karena tidak semua orang menjalani pemeriksaan.

Pada waktu yang berdekatan, peningkatan keluhan saluran pernapasan juga terpantau di Kabupaten Bandung. Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) menunjukkan kasus influenza-like illness (ILI) meningkat 53,3 persen dan ISPA 36,38 persen dalam dua pekan terakhir September. Namun, tidak semua kasus tersebut dapat dipastikan sebagai Influenza A karena pemeriksaan khusus tidak dilakukan terhadap seluruh pasien.

Fakta-fakta ini penting ditempatkan secara proporsional. Masyarakat tidak perlu panik. Akan tetapi, kewaspadaan tidak boleh berhenti pada imbauan mencuci tangan, menjaga stamina, memakai masker ketika sakit, dan segera berobat. Di sinilah persoalan kesehatan perlu dilihat lebih jauh.

Penyakit menular selalu menguji kesiapan sebuah sistem. Apakah deteksi dini berjalan? Apakah pemeriksaan mudah dijangkau? Apakah laboratorium tersedia secara merata? Bagaimana dengan kapasitas puskesmas dan rumah sakit ketika jumlah pasien meningkat? Dan yang tidak kalah penting, apakah masyarakat mendapatkan perlindungan tanpa harus menanggung sendiri seluruh risiko kesehatan?

Selama kesehatan lebih sering didekati sebagai urusan pelayanan ketika orang sudah sakit, kebijakan mudah terjebak pada pola reaktif: kasus muncul, data dikumpulkan, imbauan disampaikan, lalu masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.

Padahal, perlindungan kesehatan semestinya dibangun jauh sebelum keadaan memburuk. Ini bukan tudingan kepada tenaga kesehatan yang selama ini bekerja di lapangan. Justru para tenaga medis membutuhkan dukungan sistem yang kuat agar tidak terus-menerus menjadi benteng terakhir ketika masalah sudah membesar.

*Perspektif Islam*

Dalam perspektif Islam, kesehatan bukan sekadar urusan individu. Ia berkaitan dengan tanggung jawab negara dalam menjaga jiwa manusia.

Rasulullah saw. bersabda: “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Makna hadis ini sangat luas. Kekuasaan bukan hanya soal membuat aturan, tetapi memastikan kebutuhan rakyat terlindungi. Kesehatan termasuk di dalamnya.

Allah Swt. berfirman: “Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”

(QS. Al-Ma’idah: 32)

Karena itu, sistem Islam menempatkan perlindungan jiwa sebagai perkara serius. Negara tidak cukup menyediakan rumah sakit ketika masyarakat sudah sakit. Negara harus membangun mekanisme pencegahan: surveilans penyakit, laboratorium yang memadai, riset, tenaga kesehatan yang cukup, edukasi publik, serta layanan kesehatan yang mudah dijangkau.

Ketika wabah atau penyakit menular meningkat, penanganan dilakukan berdasarkan data dan ilmu pengetahuan. Informasi disampaikan secara jujur agar masyarakat tidak panik, tetapi juga tidak meremehkan keadaan. Kelompok rentan mendapat perlindungan khusus. Sementara pembiayaan kesehatan tidak dibebankan semata-mata kepada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Di sinilah kita perlu mengevaluasi paradigma.

Rakyat tidak seharusnya dibiarkan berada dalam posisi “yang penting saya selamat sendiri” ketika menghadapi ancaman kesehatan. Sebab penyakit menular tidak mengenal batas rumah, pekerjaan, sekolah, ataupun status sosial.

Kasus Influenza A di Bandung mungkin masih dapat dikendalikan. Pemerintah juga menyatakan pemantauan terus dilakukan dan kondisi layanan rumah sakit masih tertangani. Namun, justru saat keadaan belum menjadi krisis inilah evaluasi paling penting dilakukan. Sebab negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu menangani krisis. Negara yang kuat adalah negara yang membangun sistem agar rakyat tidak terus-menerus menunggu krisis datang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image