Jalan Sunyi: Yang Salah Disanjung, Yang Benar Dikubur (Series Self Improvement)
Litera | 2026-02-07 18:38:43
“Ada hal-hal yang hanya bisa ditangkap dari yang tersirat. Kehidupan kerap hadir dalam wajah ambiguitas; batas antara benar dan salah tak selalu tampak tegas. Bahkan pandangan diri sendiri pun bisa kalut, kehilangan kejernihan. Pada akhirnya, ketakutan terbesar bukan sekadar salah memilih, melainkan tanpa sadar membela yang keliru hanya demi diakui—karena jalannya ramai, dan kesendirian terasa terlalu sunyi untuk dipilih”. (Memoar Jalan Sunyi Diana Pungky)
Ada masa ketika kebenaran tidak benar-benar kalah oleh kesalahan, tetapi oleh kelelahan manusia dalam menjaganya. Ia tidak tumbang karena tak punya dasar, melainkan karena terlalu sedikit yang mau berdiri bersamanya. Bersikap lurus di zaman yang riuh sering kali berarti siap kehilangan: kehilangan kenyamanan, kehilangan penerimaan, bahkan kehilangan rasa aman.
Kesalahan hari ini jarang hadir dengan wajah menakutkan. Ia justru datang rapi, dibungkus narasi indah, disertai alasan-alasan yang terdengar masuk akal. Perlahan, yang keliru menjadi biasa. Batas antara benar dan salah menipis, lalu kabur. Kita pun belajar berkompromi, bukan karena tidak tahu, tetapi karena lelah melawan arus.
Kebenaran, sebaliknya, tidak pandai menyesuaikan diri. Ia kaku bagi mereka yang mencintai kelonggaran. Ia menuntut kejujuran saat dunia lebih menghargai kepandaian menata citra. Maka banyak orang memilih menjaga jarak darinya bukan karena membencinya, tetapi karena takut dengan konsekuensinya.
Yang lebih menggetarkan, penguburan kebenaran sering tidak dilakukan oleh orang yang bodoh, melainkan oleh mereka yang paham. Mereka tahu mana yang lurus dan mana yang menyimpang. Namun demi aman, mereka memilih diam. Diam yang tampak tenang, padahal perlahan mematikan nurani. Diam yang dibungkus alasan bijak, tapi sejatinya adalah bentuk penundaan keberanian.
Kita sering bertanya, “di pihak siapa aku berdiri?” Padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah, “berapa banyak kebenaran yang sudah aku tukar dengan rasa aman?” Diam tidak selalu netral. Dalam banyak keadaan, diam adalah cara paling halus untuk ikut membenarkan.
"Petunjuk langit tidak pernah menjadikan ramainya manusia sebagai ukuran kebenaran. Yang lurus tetap lurus meski hanya sedikit yang menempuhnya. Dan yang bengkok tidak pernah menjadi benar hanya karena dirayakan. Jalan yang sepi bukan tanda ia salah—sering kali justru pertanda ia dijaga dengan kesungguhan".
Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan zaman. Zaman hanyalah cermin dari pilihan-pilihan manusia di dalamnya. Ia juga bukan ajakan untuk merasa paling benar. Ia hanya undangan untuk menoleh ke dalam diri, bertanya dengan jujur: ketika kebenaran membuat kita tidak nyaman, apakah kita masih bersedia memeluknya?
Sebab boleh jadi, yang hari ini terkubur bukan hanya kebenaran itu sendiri, melainkan keberanian kita untuk setia padanya. Dan jika keberanian itu terus dibiarkan terkubur, maka kelak kita tak lagi tersesat oleh kebisingan—melainkan oleh kebisuan hati kita sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
