Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Lulu Naura Nur Syahidah

Pasivitas yang Dirayakan dan Ambiguitas yang Ditolak

Sastra | 2026-01-02 14:18:05
Pexels: Foto oleh Wallace Chuck: https://www.pexels.com/id-id/foto/gelap-kelam-hitam-malam-3877720/

Cerpen Jemy Witney karya Agung M. Abul dan Kota Seribu Tafsir karya Mulla Shandri sama-sama menghadirkan kegelisahan terhadap cara manusia modern memaknai kebenaran. Keduanya tidak menampilkan konflik secara keras, melainkan menunjukkan respons masyarakat terhadap krisis makna melalui sikap tokoh-tokohnya. Perbedaan paling mendasar dan jarang dibahas terletak pada bagaimana dunia memperlakukan sikap tersebut. Jemy Witney dirayakan justru karena kepasifannya, sementara Sofyan menghadapi penolakan ketika berusaha mempertahankan ambiguitas. Perbandingan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan ketiadaan makna, melainkan kecenderungan manusia memilih sikap yang paling nyaman secara kognitif.

Pasivitas sebagai Moral yang Aman

Dalam Jemy Witney, tokoh utama digambarkan sebagai individu yang nyaris tidak pernah mengambil posisi tegas. Ia lebih banyak mendengar, mengangguk, dan diam. Jemy tidak melawan kebohongan politik, tidak mengoreksi wacana publik, dan tidak berusaha mengubah keadaan. Namun, justru sikap pasif inilah yang membuatnya dielu-elukan. Media dan masyarakat mengonstruksi Jemy sebagai figur moral “filsuf jalanan” yang dianggap bijak di tengah kebisingan zaman pascakebenaran.

Pasivitas Jemy berfungsi sebagai bentuk kebijaksanaan yang aman. Ia tidak mengganggu keyakinan siapa pun dan tidak memaksa refleksi mendalam. Dengan mengagumi Jemy, masyarakat dapat merasa tetap bermoral tanpa harus mengubah cara berpikir atau bertindak. Melalui tokoh ini, cerpen menampilkan kritik terhadap kecenderungan publik yang lebih menyukai simbol kebajikan daripada proses refleksi yang melelahkan.

Ambiguitas sebagai Gangguan

Sebaliknya, Kota Seribu Tafsir menghadirkan Sofyan sebagai tokoh yang aktif secara reflektif. Ia memasuki Bayt al-Tawil, sebuah kota yang dibangun atas keberagaman tafsir dan penerimaan terhadap ketidakpastian. Di kota ini, perbedaan pandangan bukan masalah, melainkan cara hidup. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Munculnya kelompok Ahl al-Wuduh dengan slogan “satu kota, satu tafsir” menandai perubahan arah yang signifikan.

Ambiguitas mulai dianggap sebagai gangguan terhadap ketertiban. Puisi dicurigai, diskusi dibatasi, dan perbedaan makna dipaksa tunduk pada satu kebenaran. Dalam situasi ini, upaya Sofyan membela ambiguitas tidak menjadikannya tokoh yang dirayakan. Ia justru dibiarkan menggantung tanpa kepastian apakah tindakannya membawa perubahan. Cerpen ini menegaskan bahwa ambiguitas menuntut kerja berpikir yang berat, kesabaran, kerendahan hati, dan kesiapan hidup dalam ketidakpastian, sesuatu yang sering kali dihindari.

Jika kedua cerpen ini disandingkan, tampak jelas bahwa pasivitas dan kepastian tunggal memiliki fungsi yang sama: memberikan kenyamanan kognitif. Dalam Jemy Witney, pasivitas dirayakan karena tidak menuntut refleksi atau perubahan. Dalam Kota Seribu Tafsir, ambiguitas ditolak karena memaksa individu terus berpikir dan meragukan apa yang sudah dianggap pasti. Dengan demikian, kedua cerpen ini memperlihatkan bahwa manusia modern bukan kehilangan makna, melainkan menghindari beban berpikir yang terlalu lama.

Perbedaan pendekatan tersebut berkaitan dengan latar belakang penulis masing-masing. Agung M. Abul, yang aktif sebagai seniman, kurator, dan pengarsip kebudayaan, menghadirkan Jemy Witney sebagai potret kehidupan pinggiran yang direkam tanpa intervensi langsung. Detail-detail kecil yang berulang menjadi medium kritik yang tidak menggurui. Pasivitas Jemy sejalan dengan cara Abul memperlihatkan ironi sosial: realitas dibiarkan berbicara sendiri, bahkan ketika stagnasi itu terasa absurd.

Sementara itu, Mulla Shandri menunjukkan kecenderungan reflektif dan intelektual dalam Kota Seribu Tafsir. Cerpen ini bergerak melalui alegori dan perenungan konseptual tentang tafsir, kebenaran, dan pengetahuan. Tokoh Sofyan merepresentasikan kegelisahan epistemologis terhadap dunia yang ingin serba pasti dan tunggal, sehingga konflik yang muncul bukan bersifat fisik, melainkan berupa penyempitan ruang berpikir.

Melalui perbandingan pasivitas Jemy dan ambiguitas Sofyan, kedua cerpen ini saling melengkapi dalam mengungkap problem yang sama. Jemy Witney menunjukkan bagaimana dunia dengan mudah merayakan sikap pasif yang tidak mengganggu, sedangkan Kota Seribu Tafsir menyingkap betapa sulitnya mempertahankan ambiguitas di tengah tuntutan kepastian. Dengan demikian, kedua cerpen ini menegaskan satu kritik penting: manusia modern tidak kekurangan makna, tetapi cenderung memilih makna yang paling nyaman untuk dipertahankan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image