Arkana dan Labirin Angka Terlarang
Sastra | 2026-01-31 11:50:36
Cerpen ini mengisahkan tentang Arga, seorang night manager baru di Hotel Grand Onyx, yang harus berhadapan dengan kenyataan bahwa logika matematika tidak berlaku di tempat kerjanya. Hotel tersebut secara sistematis menghilangkan lantai 4 dan 13 untuk mengakomodasi ketakutan irasional manusia, yaitu tetraphobia (ketakutan terhadap angka empat yang dalam budaya Asia identik dengan kematian) dan triskaidekaphobia (ketakutan masyarakat Barat terhadap angka tiga belas).
Awalnya, Arga meyakini bahwa penggunaan label 3A dan 12A hanyalah sekadar strategi bisnis demi menjaga psychological comfort tamu dan menghindari lost revenue. Namun, sebuah insiden glitch pada lift membawanya ke "ruang antara"—sebuah dimensi tersembunyi di mana angka-angka yang dihapus tersebut ternyata hidup dan menuntut tumbal. Melalui bimbingan Pak Broto, manajer senior yang misterius, Arga menyadari bahwa upaya manusia melakukan strategic rebranding terhadap ketakutan kolektif justru menciptakan sebuah labirin supranatural yang nyata. Cerpen ini mengeksplorasi batas tipis antara prosedur hospitality yang lazim dengan manifestasi takhayul yang menjadi bagian dari standard operating procedure yang mengerikan di Grand Onyx.
Rintik hujan menghantam kaca lobi Hotel Grand Onyx dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah langit sedang mencoba membocorkan sebuah rahasia. Di balik meja resepsionis yang terbuat dari marmer hitam dingin, seorang pria muda bernama Arga berdiri dengan kaku. Ini adalah malam pertamanya bekerja sebagai night manager.
"Ingat Arga, di hotel ini, logika matematika tidak berlaku," bisik Pak Broto, manajer senior yang wajahnya tampak seputih kertas di bawah lampu kristal lobi. Ia menyodorkan sebuah denah bangunan yang tampak ganjil. "Kita tidak memiliki lantai 4, dan kita tidak mengenal lantai 13."
Arga mengernyitkan dahi, mencoba mencerna instruksi tersebut. "Maksud Bapak, secara fisik lantai itu memang tidak ada? Tapi bangunan ini setinggi lima belas lantai, Pak."
Pak Broto tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Lantai fisiknya ada, tapi keberadaannya adalah tabu. Di sini kita bersiasat dengan takdir. Angka empat adalah tetraphobia—di telinga tamu-tamu Asia kita, sì terdengar persis seperti kata 'mati'. Kita tidak ingin mereka tidur di dalam peti mati, bukan? Jadi, kita ganti menjadi 3A."
Ia kemudian menunjuk angka selanjutnya di panel lift yang berlapis emas. "Dan lantai 13... itu adalah triskaidekaphobia. Penyakit kutukan bagi orang Barat. Mereka menganggapnya sebagai magnet petaka. Jadi, lift ini akan melompat dari 12 langsung ke 14, atau kau akan menemukan label 12A atau huruf 'M' sebagai penyamarannya."
"Hanya untuk kenyamanan psikologis dan strategi bisnis, kan, Pak?" tanya Arga, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini semua hanyalah prosedur hospitality yang lazim. "Agar tidak ada lost revenue karena kamar yang tidak laku?"
Pak Broto mendekat, aromanya seperti kertas tua dan cengkeh. "Secara administratif, iya. Tapi Arga, terkadang apa yang kita coba sembunyikan justru menciptakan ruang bagi sesuatu yang lain untuk menetap. Jangan pernah mencoba menekan tombol di antara 3 dan 5, atau mencari celah di antara 12 dan 14 saat lift sedang mengalami glitch."
Tepat saat itu, denting lift berbunyi. Ting!
Pintunya terbuka perlahan, menyingkap ruang kosong yang gelap di dalamnya. Seorang tamu wanita paruh baya dengan gaun cheongsam merah marun melangkah keluar dengan wajah pucat pasi. Ia mencengkeram tasnya erat-erat dan bergumam gemetar, "Kamar 3A... kenapa udaranya terasa begitu dingin, seolah-olah ada yang bernapas di tengkuk saya?"
Arga menelan ludah. Ia melirik panel lift. Lampu indikator menunjukkan angka yang seharusnya tidak ada. Bukan 3, bukan pula 3A. Sebuah simbol kuno yang tampak seperti angka 4 yang terbalik berkedip merah di sana.
"Selamat datang di Grand Onyx, Bu," suara Pak Broto memecah keheningan, datar dan mekanis. "Mungkin itu hanya masalah air conditioner kami yang terlalu optimal."
Malam merambat menuju pukul 02.00 pagi. Arga mencoba mengalihkan kegelisahannya dengan memeriksa laporan hunian kamar di komputer. Namun, peringatan Pak Broto tentang tetraphobia dan triskaidekaphobia terus terngiang seperti kaset rusak. Baginya, semua itu hanyalah takhayul yang dibungkus dengan bahasa pemasaran demi menghindari lost revenue.
Tiba-tiba, telepon di meja resepsionis berdering nyaring.
"Resepsionis, dengan Arga. Ada yang bisa dibantu?"
Hening sejenak, hanya terdengar suara statis yang berderak. Kemudian, suara parau seorang pria terdengar, "Saya di lantai 12A... tapi kenapa pintu darurat di sebelah kamar saya tertulis angka 13? Dan... ada suara ketukan dari balik dinding, padahal seharusnya di balik dinding itu adalah ruang hampa lift."
Darah Arga berdesir. "Mungkin itu hanya getaran pipa air, Pak. Saya akan segera mengeceknya."
Arga meraih kunci master dan melangkah menuju lift. Di dalam ruang sempit berlapis cermin itu, ia menatap panel tombol. Ia teringat kata-kata Pak Broto tentang glitch. Jarinya gemetar saat melewati tombol 3A dan 12A. Namun, saat lift melewati transisi antara lantai 12 dan 14, lampu indikator tiba-tiba mati. Lift berguncang hebat, menciptakan suara logam yang beradu—skritch!—seolah ada kuku raksasa yang menggaruk dinding luar kabin.
Pintu terbuka dengan bunyi denting yang sumbang. Arga melangkah keluar, tapi ia tidak berada di lantai 12A. Karpet merah yang biasanya cerah kini tampak kusam dan berbau apek, seperti aroma ruangan yang tidak pernah mendapat oksigen selama puluhan tahun. Di ujung lorong, seorang pria tua dengan jas hujan basah berdiri mematung.
"Permisi, Pak? Anda tamu dari kamar 1213?" tanya Arga, suaranya bergetar.
Pria itu berbalik perlahan. Wajahnya tidak memiliki fitur yang jelas, seolah-olah terhapus oleh kabut. "Tidak ada 12A di sini, Nak. Angka itu hanya penyamaran untuk ketakutanmu. Ini adalah lantai 13 yang sebenarnya. Tempat di mana semua kesialan yang kalian 'lompat' itu berkumpul."
"Ini tidak mungkin secara arsitektur!" seru Arga, mencoba mempertahankan logikanya. "Lantai ini hanya label! Secara fisik ini adalah lantai 14!"
"Kau terjebak dalam denial, Arga," bisik suara lain dari arah belakang. Arga berbalik dan menemukan wanita bergaun cheongsam tadi, namun kini matanya menghitam seluruhnya. "Di budaya kami, sì bukan sekadar bunyi. Ia adalah undangan bagi kematian. Kalian menggantinya dengan 3A, tapi kalian lupa menutup pintunya. Sekarang, 'Mati' ingin menagih tempatnya."
Arga berlari kembali ke lift, namun panel tombolnya telah berubah. Tidak ada lagi angka 1 hingga 15. Yang ada hanyalah deretan angka 4 dan 13 yang berkedip-kedip merah.
"Sial!" umpat Arga. Ia menekan tombol emergency call, tapi yang terdengar di seberang sana bukanlah suara rekan kerjanya, melainkan suara Pak Broto yang tertawa kering.
"Arga, sudah kubilang jangan mencari celah. Strategi bisnis kita hanya memindahkan masalah, bukan menghilangkannya. Saat tamu merasa tenang karena tidak melihat angka 13, kesialan itu tidak pergi ke mana-mana. Ia hanya bersembunyi di ruang antara, menunggu seseorang yang terlalu logis untuk masuk ke dalamnya."
Tiba-tiba, suhu udara merosot tajam. Arga melihat uap napasnya sendiri membeku di udara. Di dinding lift, muncul guratan-guratan kuno yang membentuk angka 4 terbalik—simbol yang ia lihat tadi. Pintu lift mulai menutup perlahan, namun di sela-selanya, jemari pucat dan kurus mencoba menahan pintu itu agar tetap terbuka.
"Tolong... pindahkan saya ke kamar lain," suara pria dari telepon tadi kini terdengar tepat di telinga Arga, dingin dan lembap. "Kamar 13 sangat sempit... rasanya seperti di dalam peti mati."
Arga terdesak ke sudut lift. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Grand Onyx bukan sekadar hotel dengan strategi pemasaran yang cerdik. Hotel ini adalah sebuah wadah yang sengaja menyisakan ruang hampa bagi segala sesuatu yang ditolak oleh dunia luar. Angka-angka terlarang itu tidak pernah hilang; mereka hanya diberikan labirin untuk berkuasa.
Malam semakin larut, dan atmosfer di Grand Onyx berubah menjadi mencekam. Arga, yang awalnya percaya bahwa semua ini hanyalah urusan hospitality dan lost revenue, kini berdiri gemetar di dalam lift. Sebuah kesalahan teknis—atau mungkin tarikan tak kasatmata—membuat lift berhenti tepat di antara lantai 12 dan 14. Panel digital di atas pintu berkedip liar, menampilkan angka 13 yang menyala merah darah, sebuah angka yang seharusnya telah dihapus dari denah bangunan.
"Sial, ini pasti hanya glitch," umpat Arga sambil menekan tombol darurat berkali-kali. Namun, pintu lift terbuka dengan suara menyeret yang berat.
Di depannya, sebuah lorong panjang yang tidak ada dalam peta hotel membentang luas. Karpetnya berwarna merah tua, dengan pola yang tampak seperti jalinan angka empat dan tiga belas yang saling mengunci. Udara di sana berbau tanah basah dan logam berkarat. Arga melangkah keluar, jantungnya berdegup kencang melawan triskaidekaphobia yang mendadak menyerang logikanya.
"Ada orang di sini?" teriak Arga. Suaranya seolah ditelan oleh dinding-dinding lorong.
Dari kegelapan di ujung lorong, muncul sesosok pria tinggi dengan setelan jas kuno. Wajahnya tidak memiliki fitur yang jelas, hanya lubang gelap di bagian mata. Ia membawa nampan perak dengan kunci kamar bernomor 4 dan 13.
"Anda mencari kamar yang hilang, Tuan?" suara pria itu bergema, terdengar seperti gesekan amplas. "Di sini, tetraphobia bukan sekadar ketakutan. Di sini, sì benar-benar berarti mati."
Arga mundur selangkah, namun pintu lift di belakangnya telah lenyap, berganti menjadi tembok marmer yang dingin. "Ini tidak mungkin! Pak Broto bilang ini hanya strategi bisnis! Kalian mengganti 4 menjadi 3A dan 13 menjadi 12A hanya untuk kenyamanan psikologis!"
"Manusia memang lucu," sosok itu mendekat, langkah kakinya tidak bersuara. "Kalian pikir dengan mengganti label, kalian bisa menipu takdir? Kalian hanya memberi nama baru pada lubang yang sama. Kamar 4 dan 13 tidak pernah hilang, mereka hanya menumpuk di ruang antara, menunggu seseorang yang cukup bodoh untuk mencari tahu."
Tiba-tiba, suhu udara merosot tajam. Arga melihat bayangan-bayangan tamu dari masa lalu keluar dari pintu-pintu tanpa nomor. Mereka semua berbisik dalam berbagai bahasa, meratapi angka-angka yang dilewati.
"Tolong saya!" teriak seorang wanita paruh baya yang tadi ia lihat di lobi, kini wajahnya tampak membusuk di balik balutan cheongsam merahnya. "Saya terjebak di 3A, tapi dindingnya terus berbisik bahwa ini adalah lantai empat! Lantai kematian!"
Klimaks pecah saat seluruh lampu di lorong itu meledak secara bersamaan. Dalam kegelapan total, Arga merasakan tangan-tangan dingin mulai menarik seragamnya. Ia berlari membabi buta, menabrak pintu-pintu kayu yang terasa seperti nisan. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: hotel ini bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah organisme yang bernapas melalui takhayul manusia.
"Pak Broto! Buka pintunya!" Arga menghantamkan tubuhnya ke sebuah dinding yang ia yakini adalah lokasi lift.
Di saat-saat terakhir, ia mendengar suara Pak Broto dari balik dinding, datar tanpa emosi. "Sudah kubilang, Arga. Jangan mencari celah di antara 12 dan 14. Sekarang, kau bukan lagi night manager. Kau adalah bagian dari inventaris lantai yang tidak ada."
Lampu merah di panel lift yang tak terlihat berkedip untuk terakhir kalinya. Angka 4 terbalik menyala, kemudian semuanya menjadi sunyi. Di meja resepsionis bawah, Pak Broto dengan tenang menghapus nama Arga dari daftar karyawan dan menuliskan satu catatan kecil di buku laporan: "Kamar 13 terisi lagi malam ini. Bisnis berjalan seperti biasa."
Kegelapan di lantai yang tak eksis itu mendadak menjadi pekat yang mutlak, seolah-olah ruang dan waktu sedang melipat diri. Arga tidak lagi merasakan lantai di bawah kakinya; ia merasa seperti mengambang di dalam kekosongan yang dingin. Namun, saat kesadarannya hampir hilang, sebuah sentakan hebat melempar tubuhnya ke depan.
Brak!
Arga tersungkur di atas lantai marmer yang keras. Cahaya lampu kristal yang hangat menusuk matanya yang perih. Ia terengah-engah, menghirup aroma cengkeh dan pembersih lantai yang familier.
"Bangun, Arga. Tidak elok seorang night manager tidur di lantai lobi saat jam kerja," suara itu datar, dingin, dan sangat dikenal.
Arga mendongak. Pak Broto berdiri di sana, merapikan letak papan nama di dadanya yang sedikit miring. Tidak ada emosi di wajah tua itu, seolah-olah kejadian mengerikan di antara lantai 12 dan 14 tadi hanyalah mimpi buruk yang lewat.
"Pak... saya tadi di sana. Lantai itu... lantai 13 itu nyata! Sosok itu, wanita dengan cheongsam itu—" Arga tergagap, mencoba berdiri dengan lutut yang masih gemetar hebat.
Pak Broto berjalan perlahan menuju meja resepsionis, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan marmer dengan ritme yang konsisten. "Secara arsitektural, itu hanyalah sebuah void. Ruang kosong. Secara bisnis, itu adalah solusi untuk lost revenue. Tapi secara metafisika? Itu adalah wadah bagi collective unconsciousness—ketakutan kolektif manusia."
"Tapi saya melihat mereka! Mereka terjebak dalam angka-angka yang Bapak hapus!" seru Arga frustrasi.
Pak Broto berhenti mengetuk. Ia menatap Arga dengan tatapan yang seolah menembus sukma. "Arga, dunia ini bergerak berdasarkan persepsi. Jika ribuan orang percaya angka empat adalah sì atau mati, maka energi itu akan terkumpul di sana. Jika jutaan orang menderita triskaidekaphobia, maka lantai tiga belas akan menciptakan gravitasinya sendiri. Kita tidak menghapus lantai itu untuk menghilangkan hantu; kita mengganti labelnya menjadi 3A dan 12A hanya agar mereka memiliki 'pintu' yang berbeda untuk masuk."
"Jadi Bapak sengaja? Menjadikan hotel ini perangkap?"
"Bukan perangkap, Arga. Ini adalah simbiosis. Hotel mendapatkan keuntungan karena tamu merasa aman secara psikologis, dan 'mereka' mendapatkan tempat untuk tetap ada tanpa mengganggu statistik hunian kamar kita. Itu adalah hospitality tingkat tinggi. Kita melayani yang hidup, sekaligus menyediakan ruang bagi yang tak terlihat."
Pak Broto menyodorkan sebuah kunci kuningan berat dengan ukiran angka 14 yang berkilau. "Kembalilah bekerja. Tamu di kamar 14 mengeluh mendengar suara gaduh dari lantai bawahnya—yang secara teknis adalah atap lantai 12. Katakan pada mereka itu hanya suara maintenance pipa air."
Arga menerima kunci itu dengan tangan dingin. Ia menyadari satu kebenaran pahit: di Grand Onyx, label hanyalah topeng. Bisnis tetap berjalan di atas fondasi takhayul yang dipelihara dengan rapi. Saat ia berjalan menuju lift, ia melihat bayangan dirinya di cermin lobi—namun bayangan itu tidak bergerak searah dengannya. Bayangan itu diam, menatapnya dengan mata yang kosong, seolah sedang menunggu giliran untuk naik ke lantai yang tidak pernah ada di dalam denah.
"Selamat bekerja, Arga," bisik Pak Broto dari kejauhan. "Dan ingat, jangan pernah menghitung anak tangga."
Arga menekan tombol lift. Saat pintu terbuka, ia tidak lagi melihat angka 4 atau 13. Hanya ada deretan angka yang 'normal'. Namun, di sudut panel, ia melihat goresan kecil menyerupai huruf 'M' yang tampak seperti bekas kuku manusia. Ia masuk ke dalam, membiarkan pintu tertutup, dan menyadari bahwa kini ia bukan lagi sekadar karyawan, melainkan penjaga gerbang dari sebuah labirin angka terlarang yang takkan pernah membiarkannya pulang.
Tiga bulan telah berlalu sejak malam di mana Arga menyadari bahwa Hotel Grand Onyx adalah sebuah organisme yang bernapas. Kini, ia tidak lagi gemetar saat melewati lantai 3A atau menggigil ketika harus mengantar layanan kamar ke lantai 12A. Ia telah belajar untuk menyesuaikan frekuensi dirinya dengan denyut bangunan ini.
Di sebuah senja yang muram, Arga berdiri di balkon lantai paling atas, memperhatikan kota yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Pak Broto muncul di sampingnya, menyesap kopi hitam dari cangkir porselen yang mahal.
"Kau terlihat lebih tenang, Arga," ujar Pak Broto tanpa menoleh. "Sudah bisa menerima bahwa tetraphobia dan triskaidekaphobia adalah bagian dari standard operating procedure kita?"
Arga tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini memiliki kemiripan dingin dengan mentornya itu. "Saya hanya baru menyadari satu hal, Pak. Kita tidak sedang membohongi tamu dengan mengganti angka-angka itu. Kita sedang melindungi mereka dari beban kenyataan."
"Jelaskan," tantang Pak Broto.
"Secara psychological comfort, tamu merasa aman karena mereka tidak melihat angka 13. Tapi secara esensial, angka itu tetap ada, terkompresi di antara dinding-dinding yang kita beri label 12 dan 14. Kita melakukan strategic rebranding terhadap ketakutan. Jika kita membiarkan lantai 4 tetap bernama lantai 4, maka energi sì itu akan meledak dan menghancurkan reputasi hotel. Dengan menamainya 3A, kita melakukan mitigasi risiko metafisika," jawab Arga lancar, menggunakan istilah-istilah perhotelan yang kini terasa ironis di telinganya.
Pak Broto terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan kertas perkamen tua. "Analisis yang cerdas. Kau mulai paham bahwa lost revenue bukan hanya soal uang yang hilang karena kamar kosong, tapi soal nyawa yang hilang jika kita tidak menyediakan 'ruang antara' bagi mereka yang tak kasatmata. Hotel ini adalah sebuah labirin yang adil; ia memberi ruang bagi yang hidup untuk beristirahat, dan memberi celah bagi yang mati untuk tetap eksis dalam anomali statistik."
Tiba-tiba, seorang resepsionis baru—seorang gadis muda yang tampak naif—berlari menghampiri mereka dengan wajah pucat.
"Pak... Pak Broto! Arga! Ada tamu di lobi," ucapnya terengah-engah. "Dia bersikeras ingin memesan kamar nomor 13. Dia bilang dia tidak percaya takhayul dan menganggap triskaidekaphobia adalah omong kosong modern."
Arga dan Pak Broto saling berpandangan. Sebuah kilat pemahaman melintas di antara mereka.
"Berikan dia kunci kamar 12A, tapi pastikan dia menggunakan lift sisi timur yang sedang glitch," perintah Arga dengan nada datar yang mengerikan.
"Tapi Kak, lift itu sering berhenti di lantai yang tidak ada di panel!" protes si gadis.
Arga mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Itulah intinya. Tamu itu ingin logika, maka kita akan memberinya logika yang melampaui angka. Jika dia tidak takut pada 13, maka biarkan 13 yang mengenalnya."
Setelah gadis itu pergi dengan langkah ragu, Arga kembali menatap panel lift di ujung koridor. Lampu indikatornya berkedip antara angka 3 dan 5, menciptakan bayangan angka 4 yang samar di dinding marmer.
"Bisnis adalah soal memenuhi permintaan, bukan?" gumam Arga.
"Tepat sekali," jawab Pak Broto sambil meletakkan cangkirnya. "Dan di Grand Onyx, permintaan akan ketakutan selalu memiliki occupancy rate seratus persen. Selamat datang di sisi lain dari labirin, Arga. Di sini, angka-angka tidak pernah berbohong, hanya manusianya yang terlalu takut untuk menghitung dengan benar."
Malam itu, laporan harian hotel kembali mencatat sebuah catatan kaki yang rapi: “Room 13 status: Occupied by perception. Revenue: Secured.” Di luar, rintik hujan kembali menghantam kaca, namun kali ini Arga tidak lagi merasa langit sedang membocorkan rahasia. Ia adalah bagian dari rahasia itu sendiri.
Pada akhirnya, Grand Onyx bukan sekadar tentang semen dan marmer, melainkan sebuah monumen atas kerapuhan logika manusia. Fenomena tetraphobia dan triskaidekaphobia yang dimanifestasikan dalam penghilangan lantai 4 dan 13 membuktikan bahwa di balik peradaban modern yang serba rasional, kita tetaplah makhluk yang dikendalikan oleh bayang-bayang masa lalu. Strategi bisnis untuk menjaga psychological comfort dan menghindari lost revenue hanyalah kedok materialistis dari sebuah kebenaran yang lebih purba: bahwa apa yang kita tolak keberadaannya justru akan mencari celah untuk menetap.
Amanat yang tersirat di balik labirin angka ini adalah bahwa mengganti label tidak pernah benar-benar menghapus substansi. Manusia sering kali sibuk melakukan rebranding atas ketakutan mereka, mengubah "kematian" menjadi "3A" atau "nasib buruk" menjadi "12A", seolah-olah dengan mengganti nama, mereka bisa menipu takdir. Namun, kenyataan tidak dapat dimanipulasi hanya dengan menekan tombol lift yang berbeda. Kita diingatkan bahwa ketakutan yang tidak dihadapi secara jujur hanya akan menciptakan "ruang-ruang antara" yang gelap dalam jiwa, menunggu waktu yang tepat untuk menjebak kita dalam anomali yang kita ciptakan sendiri. Keselamatan sejati tidak ditemukan dalam penghindaran angka, melainkan dalam keberanian untuk melihat angka apa adanya, tanpa beban takhayul yang menyesatkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
