Singgasana di Jantung Maelstrom: Bangkitnya Sang Pendusta
Sastra | 2026-01-21 20:07:26
Cerpen ini mengisahkan perjalanan mencekam kapal riset Oceanic Explorer yang terjebak di koordinat mematikan Segitiga Bermuda. Alih-alih menemukan jawaban ilmiah terkait methane hydrates atau anomali magnetik, Kapten Bramantyo dan mualimnya, Aris, justru berhadapan dengan kenyataan purba yang melampaui nalar manusia.
Cerpen ini menelusuri kengerian saat tabir antara dimensi sains dan nubuat akhir zaman menipis, mengungkap bahwa The Devil’s Triangle bukanlah sekadar fenomena alam, melainkan sebuah confinement atau penjara bawah laut yang mengurung entitas paling berbahaya dalam sejarah eskatologi: The False Messiah. Melalui perpaduan atmosfer lovecraftian horror dan narasi religius, pembaca diajak menyaksikan detik-detik retaknya The Great Chain—rantai pengikat Sang Pendusta—serta bagaimana manusia, tanpa sadar, menjadi carrier bagi frekuensi kegelapan yang siap menyapu daratan. Sebuah refleksi tajam tentang kesombongan teknologi di hadapan Al-Fitnah al-Kubra yang kini tidak lagi terbelenggu di jantung maelstrom, melainkan mulai bertahta dalam ketakutan kolektif umat manusia.
Matahari seakan tenggelam lebih cepat di koordinat 25° LU dan 71° BB. Di atas geladak kapal riset Oceanic Explorer, hawa dingin yang tidak wajar mulai merayap, menembus jaket tebal yang dikenakan Kapten Bramantyo. Di hadapannya, hamparan Samudra Atlantik tidak lagi menampakkan warna biru caraka, melainkan hitam pekat seperti tinta yang tumpah di atas kain beludru. Angin mendesis pelan, membawa aroma belerang dan besi berkarat yang menusuk hidung.
Bram melirik kompas magnetik di tangannya. Jarum kecil itu berputar gila-gilaan, seolah kehilangan arah atau mungkin sedang ketakutan.
"Masih belum ada sinyal dari pangkalan, Cap?" suara serak itu datang dari arah belakang.
Bram menoleh. Aris, sang mualim satu, berdiri dengan wajah pucat sambil menggenggam radio handy talky yang hanya mengeluarkan suara static statis yang statis.
"Nihil, Ris. Blackout total. Radar kita bahkan tidak bisa menangkap objek dalam radius satu mil, padahal langit sedang cerah," jawab Bram dengan nada datar yang dipaksakan tenang.
Aris mendekat ke pagar kapal, matanya menatap nanar ke arah pusaran air kecil yang muncul secara sporadis di permukaan laut. "Orang-orang menyebut tempat ini The Devil’s Triangle. Tapi catatan kuno yang saya baca di perpustakaan kakek semalam menyebut hal yang lebih spesifik. Ini bukan sekadar anomali magnetik atau methane hydrates."
Bram menaikkan sebelah alisnya, mencoba mencerna kegelisahan bawahannya. "Lalu apa? Lubang cacing? Pangkalan alien?"
"Bukan," Aris berbisik, suaranya nyaris hilang ditelan debu ombak. "Tempat ini adalah penjara. Sebuah confinement yang dibangun sebelum peradaban manusia mengenal teknologi. Pernahkah Kapten berpikir mengapa semua navigasi selalu gagal di sini? Karena ada sesuatu di bawah sana yang memancarkan interference yang tidak berasal dari bumi ini. Sesuatu yang sedang menunggu waktu untuk dilepaskan."
Bram terdiam. Ia teringat pada naskah tua yang pernah ia baca tentang Jazirah al-Masiikh. Sebuah tempat di mana sosok yang akan membawa fitnah terbesar di akhir zaman dikurung dalam rantai besi yang tak kasat mata.
"Maksudmu... sosok itu? Sang Pendusta?" tanya Bram, suaranya kini sedikit bergetar.
"Lihatlah ke bawah, Cap," Aris menunjuk ke arah air yang mulai berpendar hijau pucat. "Pendaran bioluminescence itu membentuk pola geometris. Itu bukan plankton. Itu adalah segel. Dan menurut pembacaan sonar terakhir sebelum mati total tadi, struktur di bawah kita bukan sekadar gunung laut, melainkan sebuah kastil atau citadel yang sangat luas."
Tepat saat Aris menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman rendah bergema dari dasar samudra. Kapal seberat ribuan ton itu berguncang hebat, bukan karena ombak, melainkan karena sesuatu yang besar di bawah sana baru saja menarik napas panjang.
Guncangan itu bukan sekadar getaran tektonik; itu adalah denyut jantung dari sesuatu yang masif. Kapal Oceanic Explorer miring ke kanan hingga sudut tiga puluh derajat, mengirimkan peralatan laboratorium di dek bawah hancur berkeping-keping. Di ruang kendali, lampu-lampu indikator berkedip merah sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan yang hanya diinterupsi oleh pendaran hijau pucat dari luar jendela.
"Kunci kemudi! Full astern!" teriak Bramantyo sambil berpegangan pada pilar baja.
"Tidak bisa, Cap! Mesin deadlock! Semua sistem kelistrikan tersedot ke bawah!" balas Aris dengan suara parau. Ia mencoba menyalakan senter, namun cahayanya redup seolah partikel foton pun enggan berpendar di area itu.
Bram melangkah ke arah jendela depan. Di bawah permukaan laut yang kini setenang kaca, pendaran hijau itu mulai membentuk pola hexagram raksasa. Di tengah-tengah pola itu, sebuah bayangan hitam berbentuk menara meruncing mulai naik perlahan. Bukan batu, bukan logam. Permukaannya tampak seperti kulit yang mengeras, berdenyut dengan irama yang membuat gendang telinga mereka terasa akan pecah.
"Itu bukan citadel biasa, Ris," bisik Bram dengan tenggorokan kering. "Itu adalah The Great Chain yang diceritakan dalam manuskrip Tamim ad-Dari. Lihat rantai-rantai itu!"
Dari kedalaman, muncul rantai-rantai sebesar tubuh paus yang melilit pilar tersebut. Rantai itu tidak terbuat dari besi, melainkan dari cahaya yang memadat, namun di beberapa bagian, cahaya itu tampak retak dan memudar menjadi abu-abu.
"Kapten, dengar itu?" Aris tiba-tiba menutup telinganya.
Awalnya hanya sebuah gumaman rendah, lalu berubah menjadi ribuan suara yang berbisik secara simultaneous. Suara itu bukan berasal dari telinga, melainkan bergaung langsung di dalam tempurung kepala mereka. “Ana al-Masiikh... Ana al-Masiikh...”
"Jangan didengarkan! Itu psychological warfare!" bentak Bram, meski ia sendiri merasakan dadanya sesak luar biasa.
Tiba-tiba, sebuah pusaran air raksasa—sebuah maelstrom—terbuka tepat di bawah lambung kapal. Kapal riset itu tersedot masuk ke dalam corong air yang melawan hukum fisika. Di dinding air yang berputar itu, Bram melihat bayangan-bayangan kapal dari berbagai era: sebuah galleon Spanyol yang kayunya tampak membeku, pesawat pembom era Perang Dunia II yang baling-balingnya masih berputar pelan tanpa mesin, semuanya terjebak dalam stasis waktu.
"Tempat ini adalah interdimensional rift," Aris berteriak di tengah suara gemuruh air. "Mereka yang hilang di Segitiga Bermuda tidak mati, Cap! Mereka dikumpulkan di sini sebagai saksi... atau mungkin sebagai tumbal untuk mempercepat hancurnya segel itu!"
Kapal mereka berhenti mendadak di dasar pusaran, menggantung di atas lapisan udara yang tipis di bawah laut. Di hadapan mereka, berdiri sebuah gerbang batu yang dipenuhi ukiran kuno yang meratap. Di balik gerbang itu, terlihat sepasang mata yang berpendar kuning keemasan, dipisahkan oleh jarak yang sangat lebar, menandakan makhluk di baliknya berukuran luar biasa besar.
"Kenapa kita tidak mati, Ris?" tanya Bram sambil menatap mata raksasa itu.
Aris menoleh, wajahnya kini terlihat sangat tenang, ketenangan yang mengerikan. "Karena dia butuh utusan, Cap. Seseorang harus kembali ke daratan untuk memberi tahu dunia bahwa The False Messiah tidak lagi merasa terpenjara. Dia hanya sedang menunggu kunci terakhir."
Tepat saat itu, sosok di balik gerbang itu menggerakkan tangannya. Rantai raksasa itu berdenting hebat, menimbulkan gelombang ultrasonic yang meledakkan seluruh kaca jendela kapal. Bram terjatuh, namun sebelum kesadarannya hilang, ia melihat tangan makhluk itu—tangan yang dipenuhi bulu kasar dan hitam—menyentuh permukaan air, menyebabkan laut yang tadinya asin berubah menjadi darah yang kental dan panas.
Bau darah yang kental dan hawa panas yang memancar dari laut yang berubah merah membuat paru-paru Bramantyo serasa terbakar. Di tengah hancurnya kaca-kaca jendela ruang kemudi, suara ultrasonic tadi berubah menjadi tawa rendah yang menggetarkan tulang sumsum. Aris masih berdiri mematung, namun matanya kini tidak lagi menatap ke arah gerbang, melainkan ke arah tangannya sendiri yang mulai gemetar hebat.
"Dia bukan sekadar menunggu, Cap," desis Aris dengan nada yang terdengar seperti rintihan. "Dia sedang melakukan calibration. Dia menyesuaikan frekuensi keberadaannya dengan dimensi kita!"
Tiba-tiba, dari balik gerbang batu yang dipenuhi ukiran meratap itu, muncul sebuah lengan raksasa yang tertutup bulu hitam kasar. Setiap helai bulunya tampak seperti kawat baja yang mampu menyayat logam. Tangan itu mencengkeram pinggiran gerbang, menghancurkan batu kuno tersebut menjadi debu yang langsung terserap ke dalam pusaran. Keheningan yang memekakkan telinga terjadi sesaat, sebelum akhirnya satu mata raksasa di balik kegelapan itu terbuka lebar, menatap tepat ke arah Oceanic Explorer.
"Aris! Cepat ambil emergency flare di bawah kursimu!" teriak Bram, mencoba melawan tekanan gravitasi yang tidak stabil.
"Untuk apa, Cap? Senjata manusia tidak berarti di hadapan The Grand Deceiver!" balas Aris histeris.
"Ini bukan untuk menyerangnya! Ini untuk memicu sensor thermal pada satelit cuaca jika mereka masih bisa menangkap sinyal kita! Kita harus meninggalkan jejak!" Bram merangkak di atas lantai yang licin oleh cairan merah serupa darah.
Tepat saat Bram meraih suar tersebut, kapal itu terangkat ke udara oleh kekuatan telekinesis yang masif. Mereka tidak lagi mengapung di air, melainkan melayang di dalam vacuum yang tercipta di pusat maelstrom. Makhluk itu—sang Dajjal—mulai menampakkan sebagian wajahnya. Hanya sebagian, namun cukup untuk membuat akal sehat Bram nyaris runtuh. Sebuah dahi yang lebar dengan guratan urat-urat yang membentuk simbol-simbol kuno yang secara otomatis diterjemahkan oleh otak Bram sebagai kata: Kafir.
"Kau lihat itu, Ris? Tulisan itu... itu benar-benar dia!" suara Bram tercekat di tenggorokan.
Makhluk itu membuka mulutnya, dan kali ini bukan lagi bisikan yang terdengar, melainkan ledakan suara yang mengguncang realitas. "Ana al-Masih al-Dajjal! Sebutkan namaku di daratan, wahai manusia yang malang! Katakan pada mereka bahwa masa penantian di Jazirah ini telah usai!"
Rantai cahaya yang melilit pilar-pilar itu tiba-tiba memercikkan api dingin, berderak hebat seolah dipaksa meregang hingga batas maksimal. Setiap kali rantai itu berdenting, sebuah gelombang kejut electro-magnetic pulse (EMP) menghantam kapal, menghanguskan sisa-sisa sirkuit elektronik yang ada.
"Kapten! Lihat lautnya!" Aris menunjuk ke luar.
Air laut yang merah darah itu mulai naik ke atas, membentuk pilar-pilar raksasa yang berputar mengelilingi kapal mereka. Ini adalah puncaknya—sebuah climax antara kekuatan kuno yang hendak lepas dan hukum alam yang mencoba menahannya. Kapal Oceanic Explorer terjepit di tengah-tengah benturan energi tersebut. Bram merasakan tubuhnya seakan ditarik ke dua arah berbeda.
"Tembakkan suarnya, Cap! Sekarang!" Aris berteriak sambil memeluk tiang kemudi.
Bram menarik pemantik flare gun. Cahaya merah terang melesat keluar, menembus kabut darah dan pendaran hijau pucat. Di saat yang sama, tangan raksasa berbulu itu melakukan satu sentakan kuat pada rantai cahaya terakhir yang tersisa.
CRAAAAKKK!
Bunyi patahnya segel dimensi itu terdengar seperti ledakan ribuan meriam. Langit di atas Segitiga Bermuda terbelah, menampakkan kilat hitam yang menyambar-nyambar. Dalam sepersekian detik sebelum kapal mereka terlempar keluar dari pusaran, Bram melihat mata kuning keemasan itu berkedip penuh kemenangan. Tekanan udara yang luar biasa membuat kesadaran Bram meredup, namun telinganya sempat menangkap kalimat terakhir yang diucapkan dengan nada sangat halus di dekat telinganya, seolah makhluk itu berdiri tepat di sampingnya.
"Sampai jumpa di gerbang dunia, utusanku."
Keheningan yang mencekam menyambut kesadaran Bramantyo. Ia terbangun di atas dek yang kini miring sempurna, namun tidak ada lagi guncangan. Lautan darah yang tadi mendidih telah berganti menjadi permukaan air yang tenang, seolah-olah tragedi beberapa saat lalu hanyalah sebuah hallucination kolektif. Namun, bau belerang yang tertinggal dan kaca ruang kemudi yang hancur berkeping-keping adalah bukti nyata bahwa mereka baru saja mengintip ke dalam neraka.
Bram terbatuk, memuntahkan air asin yang terasa pahit di pangkal tenggorokannya. Ia mencari sosok mualimnya. "Aris? Kau masih hidup?"
Aris ditemukan tersungkur di sudut ruang kendali. Ia tidak terluka secara fisik, namun pandangan matanya kosong, menatap lurus ke arah cakrawala di mana matahari mulai terbit dengan warna merah yang tidak wajar.
"Cap... lihat radar," bisik Aris. suaranya terdengar seperti gesekan amplas.
Bram merangkak menuju konsol yang secara ajaib kembali menyala dengan daya cadangan emergency power. Layar monitor tidak lagi menunjukkan static interference. Alih-alih titik koordinat, layar itu kini hanya menampilkan satu kata yang berulang-ulang memenuhi seluruh interface: KAFARA.
"Kita sudah keluar dari vortex itu, Ris. Kita selamat," ucap Bram, mencoba meyakinkan dirinya sendiri meski tangannya bergetar hebat saat memegang kemudi manual.
"Selamat?" Aris tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar pecah dan traumatis. "Kita tidak selamat, Cap. Kita dilepaskan. Dia membiarkan kita pergi karena kita adalah carrier. Kita membawa frekuensi miliknya ke dunia luar."
Tiba-tiba, radio handy talky yang sejak awal mati total mengeluarkan suara. Bukan suara pangkalan, melainkan sebuah transmisi global yang terdengar dari berbagai saluran frekuensi secara simultaneous. Berita-berita dari seluruh dunia melaporkan fenomena aneh: surutnya Danau Tiberias secara mendadak dan kegagalan panen massal di berbagai belahan bumi.
Bram menatap ke arah laut. Di bawah permukaan air yang kini kembali jernih, ia tidak lagi melihat pendaran hijau atau citadel raksasa. Semuanya lenyap. Segitiga Bermuda kini hanyalah hamparan air kosong. Namun, di pergelangan tangan Bram, terdapat bekas memar berwarna hitam berbentuk melingkar, seolah-olah sebuah rantai tak kasat mata pernah membelenggunya di sana.
"Dia sudah tidak ada di bawah sana, bukan?" tanya Bram lirih.
Aris berdiri, merapikan seragamnya yang compang-camping dengan gerakan mekanis yang menakutkan. "Dia sudah berjalan di antara kita, Cap. The Grand Deceiver tidak lagi membutuhkan penjara di dasar samudra. Dia telah menemukan singgasana baru di dalam ketakutan manusia."
Bram mengambil teropong dan melihat ke kejauhan. Di ufuk timur, ia melihat bayangan sebuah kapal pesiar mewah yang melintas, namun di atas kapal itu, burung-burung jatuh bergelimpangan dari langit seolah-olah udara telah berubah menjadi racun.
"Kita harus melaporkan ini, Ris. Semua naskah kuno, The Great Chain, dan apa yang kita lihat di Jazirah itu... dunia harus tahu siapa yang baru saja lepas," tegas Bram sambil mencoba melakukan reboot pada sistem komunikasi satelit.
Aris menoleh, menunjukkan senyum tipis yang menyayat hati. "Siapa yang akan percaya pada dua pelaut yang terjebak di tengah magnetic anomaly? Bagi dunia, kita hanyalah korban selamat yang mengalami psychosis. Dan itulah senjatanya yang paling mematikan: ketidakterlihatan."
Bramantyo terdiam, menatap matahari yang kini bersinar terik namun terasa dingin. Ia tahu, tugasnya bukan lagi melakukan riset kelautan. Ia kini adalah saksi dari sebuah eschatological event yang telah dimulai. Kapal Oceanic Explorer bergerak perlahan meninggalkan koordinat terkutuk itu, membawa dua manusia yang jiwanya telah tertinggal di dasar maelstrom, sementara di daratan sana, sang fitnah terbesar sedang mulai menyusun langkah pertamanya.
Kegelapan di atas Samudra Atlantik bukan sekadar ketiadaan cahaya; itu adalah entitas yang hidup. Di dalam ruang arsip bawah tanah milik Global Oceanic Research Institute, debu menari-nari di bawah pendar lampu neon yang berkedip. Di sana, seorang pria tua dengan jemari gemetar sedang membuka paksa sebuah peti kayu bertanda Classified: 1945 Project Magnet.
Di dalamnya tidak ada emas, hanya tumpukan kertas kusam yang tepiannya mulai hancur. Sebuah jurnal bersampul kulit hiu menarik perhatiannya. Di halaman pertama, tertulis dengan tinta merah yang telah menghitam: "Sesuatu yang dikurung oleh Tuhan, tidak seharusnya dicari oleh rasa ingin tahu manusia."
"Apakah Anda yakin dengan koordinat ini, Profesor?" suara seorang pemuda memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu, memegang berkas ekspedisi bertajuk Oceanic Explorer.
Profesor itu tidak menoleh. Matanya terpaku pada sketsa sebuah pulau yang tidak ada dalam peta modern. "Ini bukan soal yakin atau tidak, Aris. Ini soal apa yang memanggil kita. Kau merasa sering mendengar suara static interference di telingamu belakangan ini, bukan? Seperti ribuan lebah yang berbisik dalam bahasa Aramaic?"
Aris tertegun. Ia menyentuh telinganya yang memang berdenging sejak mereka merencanakan pelayaran ke wilayah The Devil’s Triangle. "Saya pikir itu hanya gejala tinnitus akibat terlalu lama di ruang mesin."
"Bukan," Profesor itu akhirnya berbalik, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. "Itu adalah telepathic resonance. Sesuatu di jantung maelstrom itu sedang terbangun. Dia sedang memindai frekuensi otak manusia yang paling rentan untuk dijadikan wadah."
Pria tua itu menyerahkan sebuah fotokopi naskah kuno yang ia sebut sebagai Manuskrip Tamim ad-Dari. Di sana, terdapat gambaran sebuah citadel yang tenggelam, dikelilingi oleh pilar-pilar yang disebut The Great Chain.
"Dengar, Aris," bisik Profesor itu dengan nada intens. "Dunia menganggap Segitiga Bermuda adalah fenomena methane hydrates atau distorsi ruang waktu biasa. Tapi mereka salah. Itu adalah gerbang confinement. Dan menurut pembacaan satelit terbaru, energi electromagnetic pulse yang terpancar dari sana sedang melemah. Rantai itu sedang retak."
"Lalu kenapa kita dikirim ke sana? Bukankah itu berbahaya?" tanya Aris, suaranya bergetar.
"Karena Kapten Bramantyo adalah satu-satunya orang yang memiliki garis keturunan untuk melihat The False Messiah tanpa langsung menjadi gila. Kalian bukan pergi untuk meneliti laut. Kalian pergi untuk memastikan bahwa The Grand Deceiver masih terbelenggu dalam stasis."
Aris menatap naskah itu. Di pojok bawah, terdapat sebuah peringatan yang ditulis dalam bahasa Arab kuno: Al-Fitnah al-Kubra. Fitnah terbesar.
"Jika kami gagal kembali?"
Profesor itu kembali menatap peti kayunya, suaranya kini terdengar seperti nubuat yang dingin. "Jika kalian tidak kembali, maka bukan laut yang akan menelan dunia, melainkan dia yang selama ini berdiri di atas singgasana di jantung maelstrom. Pergilah, Aris. Temui Bramantyo. Katakan padanya, jangan pernah sekali-kali mematikan sonar aktif, atau sesuatu di bawah sana akan menganggap keheningan itu sebagai undangan untuk bangkit."
Tragedi yang menimpaOceanic Explorer bukanlah sekadar catatan tentang anomali navigasi atau kegagalan mekanis, melainkan sebuah pengingat keras bagi kemanusiaan yang sering kali terlalu sombong dengan logika teknologinya. Segitiga Bermuda, dengan segala misteri methane hydrates atau distorsi ruang-waktu yang selama ini diperdebatkan, hanyalah tabir tipis yang menutupi kebenaran yang jauh lebih purba. Manusia sering kali terjebak dalam rasa ingin tahu yang semu (pseudocognitive curiosity), berusaha menyingkap rahasia alam tanpa menyadari bahwa ada batas-batas yang sengaja diciptakan demi keselamatan jiwa mereka sendiri.
Amanat yang tertinggal di antara puing-puing kaca ruang kemudi Bramantyo sangatlah jelas: ketidakpercayaan dunia pada hal-hal yang bersifat eschatological atau eskatologis justru menjadi celah terbesar bagi The Grand Deceiver untuk menyusup. Saat manusia menganggap legenda hanya sebagai dongeng pengantar tidur dan mengabaikan peringatan dalam manuskrip kuno seperti Tamim ad-Dari, pada saat itulah segel-segel batiniah mereka mulai retak. Kekuatan The False Messiah tidak terletak pada rantai yang patah di dasar samudra, melainkan pada kemampuan dirinya untuk bertransformasi menjadi collective indifference—sikap masa bodoh kolektif—di mana kejahatan tidak lagi dikenali sebagai kejahatan, dan sang pendusta dipuja sebagai pembawa solusi.
Kita harus menyadari bahwa confinement atau penjara sejati bagi sang pembawa fitnah bukanlah jeruji besi atau pilar-pilar di bawah laut, melainkan keteguhan iman dan kewaspadaan nurani manusia. Ketika Danau Tiberias mulai menyusut dan tanda-tanda alam mulai berbicara dalam bahasa yang tidak lagi mampu diterjemahkan oleh satelit, maka satu-satunya navigasi yang tersisa adalah kompas moralitas yang tak terpengaruh oleh interference duniawi. Jangan sampai kita menjadi carrier yang membawa frekuensi kegelapan ke daratan hanya karena kita gagal menjaga sonar spiritual kita tetap aktif. Sebab, pada akhirnya, musuh terbesar bukanlah makhluk berbulu kasar yang bangkit dari maelstrom, melainkan kekosongan jiwa yang membiarkan singgasana itu terbangun di dalam dada kita sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
