Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sarah Sahilah

Panggung Alienasi: Kritik Sistem Sosial dalam Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar

Sastra | 2026-01-05 21:31:24
Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/dinding-dicat-coklat-di-cahaya-redup-1055613/

Arifin C. Noer dikenal sebagai dramawan yang kerap menghadirkan tokoh-tokoh kecil yang terhimpit oleh kekuasaan dan sistem sosial yang tidak adil. Dua naskah dramanya, Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar, menampilkan bagaimana manusia kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Meski menggunakan pendekatan dramatik yang berbeda, kedua naskah ini memiliki kesamaan ideologi yang kuat, yakni kritik terhadap sistem yang menindas manusia.

Dalam pandangan Karl Marx, alienasi terjadi ketika manusia terpisah dari hasil pekerjaannya, dari proses hidupnya, dan dari dirinya sendiri akibat sistem sosial dan ekonomi yang menindas. Alienasi tidak hanya menjadikan manusia miskin secara materi, tetapi juga miskin secara kemanusiaan. Konsep inilah yang tampak jelas dalam Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar. Dalam Kapai-Kapai, tokoh Abu digambarkan sebagai manusia yang hidup dalam keterasingan total.

Ia menjalani hidup secara rutin, patuh, dan tanpa tujuan yang jelas. Abu bekerja dan bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Ia menerima dongeng, janji, dan ilusi kebahagiaan sebagai penghibur penderitaannya. Dunia dalam Kapai-Kapai terasa absurd dan berulang, seolah-olah hidup Abu tidak pernah bergerak maju. Dilihat dari pemikiran Karl Marx, tokoh Abu menunjukkan sosok manusia yang hidup dalam keterasingan. Ia tidak menyadari bahwa penderitaannya bersumber dari sistem yang menindasnya.

Kesadarannya dibentuk sedemikian rupa sehingga ia menerima nasib sebagai sesuatu yang wajar. Dongeng dan imajinasi dalam naskah ini berfungsi sebagai penutup realitas, membuat Abu tetap patuh dan tidak melawan. Dengan demikian, Kapai-Kapai menunjukkan alienasi pada tingkat kesadaran: manusia tidak hanya tertindas, tetapi juga dibuat tidak sadar akan memikirkannya. Berbeda dengan Kapai-Kapai, Sumur Tanpa Dasar menghadirkan konflik yang lebih nyata dan keras. Naskah ini menggambarkan manusia-manusia yang sadar bahwa mereka hidup dalam ketidakadilan, namun tetap tidak mampu keluar dari sistem tersebut.

“Sumur” menjadi metafora yang kuat untuk menggambarkan struktur sosial yang gelap, dalam, dan menjerat. Sekali jatuh ke dalamnya, manusia sulit menemukan jalan keluar. Dalam perspektif Karl Marx, tokoh-tokoh dalam Sumur Tanpa Dasar mengalami alienasi yang bersifat struktural. Mereka sadar akan penderitaan yang dialaminya, namun tidak memiliki kuasa untuk mengubah keadaan. Sistem sosial dan kekuasaan menempatkan mereka pada posisi yang selalu kalah.

Alienasi di sini tidak lagi bersifat ilusif seperti dalam Kapai-Kapai, melainkan hadir secara nyata dalam bentuk tekanan, konflik, dan kekerasan sosial. Jika dibandingkanan, kedua naskah ini menampilkan dua wajah alienasi manusia. Kapai-Kapai menampilkan manusia yang teralienasi dan tidak sadar, sementara Sumur Tanpa Dasar menghadirkan manusia yang teralienasi namun sudah sadar akan ketidakadilan yang menimpanya.

Perbedaan ini tidak menunjukkan pertentangan ideologi, melainkan menampilkan kedalaman kritik Arifin C. Noer terhadap sistem sosial. Melalui dua naskah ini, Arifin C. Noer menegaskan bahwa penderitaan manusia bukan semata-mata kelemahan akibat pribadi, melainkan hasil dari sistem sosial yang timpang. Kritik ini sejalan dengan pemikiran Karl Marx yang memandangnya sebagai persoalan struktural, bukan moral individu.

Manusia menjadi korban dari sistem yang memisahkan mereka dari kemanusiaannya sendiri. Dengan demikian, Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar dapat dibaca sebagai karya yang saling melengkapi dalam mengungkap alienasi manusia. Keduanya menunjukkan bahwa selama sistem yang menindas masih bertahan, manusia akan terus terjebak dalam lingkaran ketidakadilan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image