Jangan Pernah tidak Menyadari
Agama | 2026-02-03 00:07:04Abdul Hadi Tamba From Subulussalam City.
As..wr..wb..
Jangan Pernah Tidak Menyadari.
Dalam pandangan kami, perintah untuk "jangan pernah tidak menyadari siapa dirimu" adalah fondasi utama perjalanan spiritual (suluk) menuju Allah SWT.
Kesadaran diri (self-awareness / ma'rifat al-nafs) bukan sekadar mengenali nama atau jabatan, melainkan memahami hakikat keberadaan diri sebagai hamba yang lemah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Berikut adalah inti pandangan kami mengenai hal tersebut.
Kunci Mengenal Allah (Man 'Arafa Nafsahu)Ungkapan masyhur dalam tasawuf adalah "Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa rabbahu" (Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya).
Jika seseorang menyadari dirinya tidak memiliki daya upaya, ia akan menyadari hakikat Allah sebagai sumber kekuatan.
Jika ia menyadari dirinya fana (sementara/rusak), ia akan menyadari Allah yang kekal.
Mengenali Hakikat Diri.
Hamba dan CiptaanMenyadari diri berarti memahami bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah untuk beribadah dan mengabdi.
Kami mengajarkan untuk melepaskan sifat sombong, riya, takabur, dan dengki—penyakit hati yang timbul karena lupa akan hakikat diri yang sebenarnya rendah.
Kesadaran ini membawa manusia pada sikap zuhud (sederhana) dan selalu merasa butuh kepada Allah (fakir).
"Mati Sebelum Mati" (Ego yang Melebur)Menyadari diri berarti mengenali ego (nafs) dan penyakit penyakit hati di dalamnya.
Kami menekankan "mati sebelum mati", yaitu mematikan keinginan egois (egoisme/hawa nafsu) untuk mencapai kedekatan dengan Allah.
Ketika seseorang benar-benar mengenal dirinya (lemah dan butuh Allah), ia akan melihat bahwa (diri egois) lenyap dan menyadari bahwa Allah adalah pusat dari segala sesuatu.
Kesadaran dalam Setiap Napas (Dzikir).
Jangan pernah tidak menyadari diri berarti hidup dalam kesadaran penuh (awareness) setiap saat, yang dipupuk melalui zikrullah (mengingat Allah).
Ini adalah metode untuk menjaga hati agar tidak lalai dari tujuan penciptaan, sebagaimana firman Allah.
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri (QS. Al-Hasyr: 19).
Alat Kontrol Diri (Muhasabah).
Mengenal diri sendiri (aib, kelemahan, dan potensi diri) adalah alat kontrol untuk selalu memperbaiki akhlak.
Menurut Imam Al-Ghazali, ini melibatkan pengenalan diri lahiriah dan batiniah, serta menyadari tujuan hidup di dunia.
KesimpulanDalam pemikiran kami, melupakan diri (lupa bahwa diri adalah hamba) adalah awal dari kesombongan dan kejatuhan spiritual.
Sebaliknya, kesadaran terus-menerus akan siapa dirimu yang hamba, yang lemah, yang diciptakan akan menuntun pada pengenalan yang mendalam kepada Sang Pencipta Makrifatullah.
Dengan kerendahan hati saling berbagi mudah mudahan dengan safa'at dari Nabi kita Tercinta Muhammad SAW Suri Teladan Kita Sepanjang Zaman ada Manfa'at nya buat kita Saudara saudaraku.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
