Gambaran Kehidupan Sosial Tokoh Utama
Sastra | 2026-01-05 14:15:03
Drama Naskah Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar merupakan dua karya Arifin C. Noer yang sama-sama menampilkan persoalan manusia dalam kondisi keterasingan dan krisis eksistensial. Naskah kedua ini tidak menghadirkan konflik dramatis seperti pada umumnya, melainkan tekanan pergulatan batin tokoh yang terjebak dalam situasi hidup yang tidak memberikan kepastian makna. Melalui dialog, simbol, dan situasi dramatis yang cenderung absurd dan reflektif, Arifin C. Noer menggambarkan manusia sebagai subjek yang rapuh, terasing, dan mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan, baik dengan lingkungan sosial maupun dengan dirinya sendiri.
Meskipun ditulis oleh pengarang yang sama, Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar menampilkan perbedaan penekanan dalam penyajian konflik. Kapai-Kapai lebih menampilkan tokoh bernama Abu yang berhadapan langsung dengan lingkungan sosial yang asing dan tidak komunikatif, sementara Sumur Tanpa Dasar menempatkan tokoh yang bernama Jumena dalam ruang batin yang tertutup, sehingga konflik lebih banyak berlangsung secara internal (bergelut dengan dirinya sendiri). Perbedaan ini menjadikan kedua naskah relevan untuk dikaji secara bandingan guna melihat variasi mengungkapkan masalah kemanusiaan dalam teks drama.
Kajian terhadap hubungan tokoh dengan lingkungan sosial dalam naskah drama i dan Sumur Tanpa Dasar berpijak pada pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan ini digunakan karena kedua naskah menampilkan tokoh-tokoh yang hidup dan berkonflik dalam konteks sosial tertentu, baik secara langsung maupun melalui ketiadaan fungsi sosial itu sendiri. Analisis ini juga memperhatikan bagaimana struktur dan proses sosial mempengaruhi keberadaan tokoh dalam teks drama.
Menurut Swingewood (dalam Faruk, 2012), sosiologi sastra merupakan kajian ilmiah tujuan mengenai manusia dalam konteks sosialnya, yang mencakup struktur dan proses sosial yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Sosiologi sastra juga memperhatikan proses sosialisasi dan pembelajaran budaya yang digunakan individu untuk menyesuaikan diri dengan lembaga sosial tertentu. Dalam pengertian ini, karya sastra dipandang sebagai perantara yang merefleksikan sekaligus mengkritisi fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Wellek dan Warren (1990) membagi sosiologi sastra ke dalam tiga kategori, yaitu pengarang sosiologi, pembaca sosiologi, dan sosiologi karya sastra. Penelitian ini berada dalam ranah sosiologi karya sastra, karena fokus kajian diarahkan pada isi teks (naskah) drama dan representasi hubungan sosial yang dibangun di dalamnya, bukan pada latar belakang pengarang maupun aktivitas pembaca.
Berdasarkan landasan tersebut, analisis perbandingan hubungan tokoh dengan lingkungan sosial dalam naskah drama Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar menjadi penting untuk melihat bagaimana kegagalan hubungan manusia direpresentasikan melalui dua arah konflik yang berbeda, yaitu konflik manusia dengan dan masyarakat konflik manusia dengan dirinya sendiri.
Hubungan tokoh dengan lingkungan sosial dalam naskah drama Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar sama-sama menampilkan kegagalan hubungan antarmanusia. Namun, kegagalan tersebut muncul melalui proses yang berbeda. Kapai-Kapai menampilkan konflik antara individu dan masyarakat, sedangkan Sumur Tanpa Dasar lebih menekankan konflik internal tokoh dengan dirinya sendiri yang membuat lingkungan sosial menjadi tidak berfungsi.
Dalam Kapai-Kapai, lingkungan sosial digambarkan sebagai sesuatu yang asing, dingin, dan tidak komunikatif. Tokoh utama atau Abu hidup di tengah masyarakat, namun kehadirannya tidak benar-benar diakui secara simpatik. Interaksi sosial yang terjadi tidak membangun hubungan bermakna, melainkan justru mempertegas keterasingan Abu. Dialog-dialog yang berlangsung cenderung absurd, terputus, dan tidak saling menanggapi secara signifikan. Lingkungan sosial hadir bukan sebagai ruang dialog, melainkan sebagai kekuatan yang membungkam dan mengabaikan individu.
Sebaliknya, dalam Sumur Tanpa Dasar, lingkungan sosial nyaris tidak berperan secara signifikan dalam perkembangan konflik. Tokoh utama yaitu Jumena, lebih banyak bergulat dengan pikiran sendiri, dengan rasa hampa dan kerinduan batin yang terus berulang. Kehadiran tokoh lain tidak berfungsi sebagai lawan bicara yang setara, melainkan hanya sebagai pemicu atau latar bagi pergulatan batin Jumena. Relasi sosial kehilangan sebagai ruang interaksi manusia dan berubah menjadi bayangan yang samar. Dengan kata lain, konflik utama dalam Kapai-Kapai terletak pada kemungkinan terjadinya hubungan dengan masyarakat yang menghadapnya. Sedangkan dalam Sumur Tanpa Dasar konflik utama bukan lagi antara tokoh dan masyarakat, melainkan antara tokoh dan kesadarannya sendiri.
Dengan demikian, hubungan tokoh dengan lingkungan sosial dalam kedua naskah menampilkan pandangan kritis Arifin C. Noer terhadap kondisi manusia modern. Manusia digambarkan tidak hanya gagal membangun hubungan dengan sesamanya, tetapi juga gagal berdamai dengan batinnya sendiri. Perbedaan arah konflik ini menyuguhkan pembacaan banding karena menunjukkan bahwa keterasingan dapat bersumber baik dari tekanan sosial maupun dari pengangguran internal tokoh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
