Ramadhan di Tengah Luka: Korban Banjir Sumatera Masih Merana
Info Terkini | 2026-02-25 10:08:53
Oleh: Ina Winahyu
Kondisi dan nasib para korban banjir Sumatera sampai saat ini masih memprihatinkan. Mereka masih terus menata kembali kehidupannya setelah porak-poranda akibat banjir besar November 2025 lalu. Dengan segala keterbatasan dan minimnya bantuan pemerintah, mereka bertahan dan menyimpan asa untuk kembali ke kehidupan normal seperti sedia kala, walau di bulan Ramadhan ini kondisinya belum kunjung membaik. Hampir tiga bulan pascabanjir, warga Desa Salah Sirong, Kec. Jeumpa, Kab. Bireuen, Prov. Aceh, masih mengalami pemadaman listrik. Akses jalan menuju desa amblas sehingga menyulitkan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk memasang tiang, kabel, dan peralatan lainnya guna pemulihan suplai listrik (Kompas.com, 20 Februari 2026).
Sementara itu, empat desa di Kec. Bintang, Kab. Aceh Tengah, yakni Jamur, Konyel, Atu Payung, dan Serule, juga kembali terisolasi akibat akses jalan provinsi terputus total karena hujan deras yang melanda wilayah tersebut, padahal baru sekitar dua bulan dapat dilalui setelah sempat tertutup bencana banjir dan longsor November 2025 lalu (Kompas.com, 20 Februari 2026).
Selanjutnya, para korban banjir di Kab. Bireuen, Prov. Aceh, yang rumahnya mengalami kerusakan parah masih bertahan di tempat-tempat pengungsian yang saat ini mulai kekurangan obat-obatan, di tengah kondisi tubuh yang mulai melemah dan sakit. Mereka mulai terserang penyakit gatal-gatal, flu, demam, dan batuk (Kompas.com, 3 Desember 2025).
Kondisi tersebut diperparah dengan lambatnya bantuan pemerintah. Warga hanya bisa bergantung pada bantuan masyarakat karena mereka belum dapat bekerja kembali. Hal ini berdampak pada rapuhnya ketahanan pangan para korban bencana. Dampak bencana yang parah, wilayah yang luas, serta lamban dan minimnya bantuan pemerintah membuat korban bencana semakin dalam posisi sulit dan menderita.
Di sisi lain, pemerintah mengklaim sudah melakukan berbagai kebijakan untuk rekonstruksi pascabencana, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa warga tidak mendapatkan ri’ayah yang memadai. Lambat dan minimnya bantuan pemerintah menandakan negara tidak sepenuhnya menjalankan tugasnya sebagai raa’in yang benar-benar mengurus warga sehingga wilayah yang terkena bencana tidak kunjung pulih. Inilah yang sering dipraktikkan pemimpin kapitalistik hari ini, hanya pencitraan dan tidak solutif. Pemimpin hari ini kurang peka terhadap kebutuhan rakyat. Dalam mengambil kebijakan pun terkesan setengah hati, tidak bersungguh-sungguh dalam meri’ayah.
Ramadhan yang sedang dijalani seharusnya dapat membawa ketenangan bagi rakyat, namun tidak demikian bagi para korban bencana. Ketidaktersediaan bahan pangan, sandang, papan, dan fasilitas umum yang memadai seperti air bersih, listrik, serta akses jalan yang terputus cukup membuat mereka tidak tenang dan terkendala dalam aktivitas serta ibadahnya. Suasana Ramadhan yang tenang dan optimal dalam beribadah masih menjadi harapan yang belum terwujud bagi mereka hari ini.
Dalam Islam, negara sangat memperhatikan kondisi dan nasib warga, baik fisik maupun ibadah. Ramadhan seperti yang sedang berlangsung ini akan disuasana-kan secara baik agar rakyat dapat optimal dalam beribadah. Negara menaruh perhatian khusus dan serius pada wilayah bencana dengan menetapkan kebijakan strategis, menggelontorkan dana dengan anggaran khusus, dan mengerahkan SDM agar rekonstruksi berjalan cepat. Ri’ayah negara melalui kebijakan dan pengelolaan anggaran untuk wilayah bencana bersifat efektif dan solutif, bukan untuk pencitraan. Dalam penyiapan dana untuk rekonstruksi bencana, negara tidak membatasi anggaran. Anggaran dapat diperoleh dari pos-pos pemasukan negara yang bersifat tetap seperti ghanimah, kharaj, jizyah, fa’i, dan hasil pengelolaan kepemilikan umum, maupun dharabah (pajak) yang sifatnya temporer tergantung kebutuhan negara. Semuanya akan dikelola negara melalui baitul mal yang mengalokasikan sesuai kebutuhan rakyatnya, termasuk kebutuhan yang mendesak seperti rekonstruksi pascabencana.
Imam (pemimpin) dalam Islam bertugas sebagai raa’in (pengurus/pelayan) yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam (pemimpin) adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya” (HR Bukhari dan Muslim).
Pemimpin dalam Islam juga disebut sebagai junnah (pelindung/perisai). Sebagaimana dalam hadis, “Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung” (HR Muslim).
Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah untuk mengurus, melayani, dan melindungi rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin akan berpikir keras dan berupaya maksimal dalam memenuhi kebutuhan rakyat untuk mensejahterakannya. Visi pemimpin bukan untuk berkuasa, berlaku sewenang-wenang, atau memperkaya diri dan kroninya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
