Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rosidin

Berkunjung ke Masa Lalu: Welas Asih Khalifah Umar RA kepada Rakyat

Agama | 2026-05-19 15:58:53

Pada tahun 18 H, terjadi paceklik berupa kemarau panjang, gagal panen, binatang mati dan manusia mengalami kelaparan. Inilah yang disebut 'Am Ramadah yang berlangsung selama 1-6 tahun. Disebut 'Am Ramadah karena kondisi tanahnya gersang dan menghitam akibat kemarau panjang. Pada 'Am Ramadah, hujan tidak turun, sehingga menyulitkan pertanian dan peternakan, seperti ternak menjadi kurus, bahkan mati. Kondisi ini diperparah wabah Pes di Syam yang mengakibatkan terhentinya perdagangan lintas negara.

Terhentinya impor kebutuhan dari Syam, mengakibatkan kenaikan harga kebutuhan pokok (sembako). Misalnya, harga satu bejana susu adalah 40 dirham atau setara 119 gram perak (1 dirham = 2.975 gram).Warga desa (Baduwi) mengalami dampak terburuk, seakan-akan warga yang hidup tersisa sepertiga populasi. Mereka terpaksa melakukan urbanisasi ke Kota Madinah.

Khalifah Umar RA bertindak all out dalam menangani Tahun Paceklik, sampai-sampai mendapat testimoni rakyatnya: Seandainya Tahun Paceklik tidak segera berakhir, kami yakin Khalifah Umar RA akan wafat akibat kelelahan mengurusi umat. Di sini, rakyat bisa menilai siapa pejabat yang sibuk bekerja (produktivitas) dan siapa yang terlihat sibuk bekerja (faux productivity). Khalifah Umar RA ikut merasakan derita rakyat dengan cara tidak pernah makan di rumah istri maupun anak beliau, agar menu yang dikonsumsi, sama persis dengan menu yang dikonsumsi oleh rakyatnya.

Khalifah Umar RA menolak diberi fasilitas makanan yang melebihi standar makanan rakyatnya. Sehingga beliau menolak makan saat diberi hidangan keju oleh sang istri, padahal dari harta pribadi.Khalifah Umar RA berkata: "Bagaimana rakyatku bisa mendapatkan perhatianku, jika aku tidak mengalami penderitaan seperti mereka?" Beliau pun terbiasa kelaparan. Bahkan beliau menyerukan gaya hidup hemat kepada seluruh pejabat negara dan keluarga mereka, sebagai bagian dari solidaritas sosial (takaful).

Khalifah Umar RA menetapkan skala prioritas anggaran untuk memberi makan berupa daging unta kepada warga desa (Baduwi) yang mengalami kelaparan. Kebijakan ini mirip dengan langkah bijaksana yang ditempuh Presiden Habibie yang mengutamakan penyelesaian krisis ekonomi dibandingkan memaksakan program idealisme pribadi.

Khalifah Umar RA membantu warga hingga Baitul Mal kehabisan dana. Lalu beliau minta bantuan kepada para gubernur dan pejabat, seperti Abu Ubaidah ibn al-Jarrah yang membawa 4.000 ekor unta yang penuh muatan makanan, lalu dibagikan kepada warga. Bandingkan dengan kondisi di Indonesia yang semakin banyak pejabat overload jabatan demi monopoli rezeki, padahal janji kampanyenya adalah menyejahterakan rakyat.

Khalifah Umar RA memerintahkan penggalian teluk yang menghubungkan Mesir dan Madinah untuk mempercepat proses distribusi makanan, sehingga harga makanan di Madinah menjadi stabil, yaitu sama dengan harga di Mesir. Inilah bedanya dengan proyek ambisius para pejabat di Indonesia yang tidak meringankan beban rakyat, justru memperberat beban. Seperti Whoosh & IKN (Jilid 1) lalu MBG & KMP (Jilid 2).

Khalifah Umar RA memberikan voucher (cek) kepada warga untuk membeli makanan dengan harga murah atau di bawah harga pasar. Kebijakan ini menunjukkan pentingnya program strategis yang riil bermanfaat bagi rakyat pada skala mikro, bukan sekadar "angka positif" pada skala makro. Satu orang berpenghasilan 1 milyar rupiah dan empat temannya berpenghasilan 2.5 juta rupiah, maka rata-rata penghasilan mereka berlima adalah 202 Juta rupiah. Terlihat Wah, padahal Zoonk!

Khalifah Umar RA menyeru umat muslim agar beristighfar dengan membacakan Surat Nuh Ayat 10 dan Hud Ayat 52, karena beliau menilai bahwa Tahun Paceklik ini akibat maraknya perzinahan dan merebaknya hakim maupun pejabat zhalim.Sebagai solusi jalur langit, Khalifah Umar RA mengimami shalat Isya' di masjid, lalu pulang ke rumah. Di rumah, beliau terus-menerus shalat hingga akhir malam. Setelah itu, beliau keluar dari rumah dan berkeliling ke rumah-rumah warga hingga waktu sahur, disertai doa: “Ya Allah, mohon jangan Engkau binasakan umat Nabi Muhammad di bawah kepemimpinanku”.

Khalifah Umar RA mengurusi sendiri pembagian makanan untuk orang-orang yang kelaparan, serta meminta data lengkap tentang jumlah anggota keluarga yang tidak ikut antri. Pernah dijumpai data bahwa warga yang diberi makanan secara langsung adalah 7.000, sedangkan jumlah warga yang menunggu di rumah adalah 40.000. Jadi, Khalifah Umar RA tidak hanya menempuh strategi berbasis jalur langit melalui ibadah, melainkan juga menerapkan strategi berbasis jalur bumi melalui kebijakan tepat guna.

Khalifah Umar RA membagikan gandum, daging unta dan selimut kepada orang-orang desa (Baduwi) yang memilih tinggal di rumah mereka di pedesaan. Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, mohon turunkan rezeki mereka di atas gunung-gunung”. Sungguh, inilah keteladanan sesungguhnya yang ditunjukkan oleh seorang pejabat berkualitas terhadap warga desa yang tinggal di pelosok-pelosok gunung, hutan, sawah hingga pantai.

Khalifah Umar RA jugatidak menerapkan hukum potong tangan bagi pelaku tindak pencurian, padahal dalil Al-Qur'an dan Hadisnya sudah jelas. Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwa di tengah krisis, pemerintah seharusnya memberi relaksasi hukum kepada rakyat, seperti meringankan pajak; bukan malah membebani rakyat dengan regulasi baru yang semakin mencekik perekonomian rakyat.

Khalifah Umar RA menyeru umat muslim untuk melaksanakan shalat Istisqa' dan meminta Sayyid ‘Abbas RA untuk berdoa agar Allah SWT berkenan menurunkan hujan. Kemudian turunlah hujan yang mengakhiri penderitaan. Dengan demikian, ulama dan tokoh masyarakat harus dilibatkan dalam setiap penyelesaian masalah rakyat, bukan malah dijauhi, apalagi dikriminalisasi.

Sebagai sejarah, Tahun Paceklik (‘Am Ramadah) terasa mudah diselesaikan oleh Khalifah Umar RA dengan berbagai kebijakan berbasis Ilahi dan kemaslahatan umat. Namun sebagai sebagai realita kekinian dan kedisinian, rakyat Indonesia mendambakan figur pemimpin yang meneladani Khalifah Umar RA. Tulisan ini hanyalah satu suara hati di antara puluhan-ratusan juga suara hati yang tidak tersampaikan secara tersurat.

Referensi

(1) Musthofa dan Ahmad Iqbal Fathoni, "Krisis Ekonomi Era Sayyidina Umar: Tinjauan Solusi dan Dampaknya", ILTIZAM, 1(1), 2023: 131-152

(2) Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari

(3) Al-Muqtathafat karya K.H. Marzuqi Mustamar

Penulis

Dr. Rosidin, M.Pd.I

Dosen STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image