Tadabbur Ramadhan (043) Janji yang Pernah Kita Ucapkan
Khazanah | 2026-02-25 17:16:16
Memasuki pekan kedua Ramadhan, biasanya semangat mulai melambat. Saf tarawih tak serapat awal bulan. Tilawah tak seintens hari-hari pertama. Rasa lelah mulai terasa, ritme ibadah mulai menurun. Di sinilah kita perlu diingatkan pada sesuatu yang jauh lebih tua dari usia kita—sebuah janji yang pernah kita ucapkan.
Allah berfirman dalam Qur'an, QS. Al-A’raf: 172:
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi.”
Sebelum kita lahir ke dunia, sebelum nama kita dipanggil oleh orang tua, sebelum kaki ini menginjak bumi—kita pernah bersaksi. Kita pernah mengatakan, “Ya Allah, Engkau Tuhan kami.” Itulah syahadat pertama kita. Syahadat fitrah. Syahadat yang lahir bukan dari tekanan, bukan dari tradisi, tetapi dari kesadaran ruhani di hadapan Rabb semesta alam.
Ramadhan pekan kedua adalah momentum evaluasi: apakah hidup kita masih setia pada janji itu?
Jangan sampai ibadah hanya ramai di awal, lalu redup di tengah. Karena kesetiaan bukan diuji saat semangat membuncah, tetapi saat energi mulai melemah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis shahih riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.”
Artinya, Allah tidak menuntut ledakan sesaat. Allah mencintai konsistensi. Janji itu tidak ditepati dengan euforia, tetapi dengan keteguhan.
Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang pembuktian. Setiap rakaat tarawih adalah pernyataan ulang: “Ya Allah, aku masih mengakui-Mu sebagai Tuhanku.” Setiap lembar tilawah adalah tanda bahwa janji itu belum aku lupakan. Setiap sedekah adalah bukti bahwa aku ingin tetap setia.
Fitrah kita telah mengenal Allah sebelum dunia mengenalkan kita pada kesibukan. Maka ketika semangat mulai menurun, jangan cari motivasi di luar—kembalilah pada fitrah. Ingat janji itu. Ibadah bukan beban tambahan, tetapi jalan pulang menuju kesaksian pertama kita. Konsistensi adalah bentuk kesetiaan. Dan kesetiaan adalah bukti cinta.
Bayangkan jika Ramadhan ini berlalu, sementara janji itu kembali kita abaikan. Betapa malunya ruh ini kelak ketika kembali menghadap Allah, sementara dulu kita pernah berkata, “Benar, Engkau Tuhan kami.” Maka sebelum malam-malam berlalu tanpa makna, sebelum lembaran Ramadhan terlipat satu per satu, mari perbarui kesaksian itu dengan amal nyata. Jangan biarkan janji purba itu hanya menjadi kenangan ruhani. Jadikan ia cahaya yang menuntun hidup—hingga kelak kita kembali kepada-Nya dalam keadaan setia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
