Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Reka Ramadhani

Tren Whippink di Kalangan Gen Z: Antara Gaya Hidup dan Ancaman Kesehatan

Gaya Hidup | 2026-04-02 15:05:55

Oleh: Reka Ramadhani Putri Mahasiswa Program Studi FISIP Universitas Bangka Belitung

Fenomena penggunaan “whippink” atau gas dari tabung whipping cream charger (nitrous oxide/N O) saat ini semakin marak di kalangan Generasi Z. Awalnya, zat ini dikenal sebagai bahan yang digunakan dalam dunia kuliner, khususnya untuk membuat krim kocok pada makanan dan minuman. Namun seiring perkembangan zaman dan pengaruh gaya hidup modern, fungsi-fungsi tersebut mulai bergeser. Banyak anak muda yang kemudian memanfaatkannya sebagai sarana rekreasi instan karena dianggap praktis, murah, dan memberikan efek “senang” dalam waktu singkat. Hal ini menjadikan “whippink” sebagai salah satu tren baru yang dianggap kekinian di kalangan remaja.

Penyebaran tren ini tidak lepas dari peran besar media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan lainnya menjadi tempat utama di mana konten-konten terkait penggunaan “whippink” tersebar luas. Video singkat yang menampilkan orang-orang menghirup gas dari balon lalu tertawa lepas sering kali dianggap lucu dan menghibur. Terlebih lagi, tidak sedikit yang berpikir sebagai hal yang wajar dan aman untuk dicoba. Rasa penasaran, ditambah dengan keinginan untuk mengikuti tren atau Fear of Missing Out (FOMO), membuat banyak remaja akhirnya ikut mencoba tanpa benar-benar memahami dampak yang mungkin terjadi. Dalam konteks ini, media sosial berperan sebagai katalis yang mempercepat penyebaran perilaku tersebut di kalangan anak muda.

Namun, di balik kesan santai dan menyenangkan itu, para ahli kesehatan memberikan peringatan serius terkait penggunaan nitrous oxide yang tidak sesuai untuk fungsinya. Zat ini memang dapat memberikan efek euforia sementara, namun juga memiliki dampak negatif bagi tubuh. Penggunaan dalam jangka pendek bisa menyebabkan pusing, mual, hingga kehilangan kesadaran. Sementara itu, jika digunakan secara berulang atau dalam jangka panjang, nitrous oxide berpotensi merusak sistem saraf, mengganggu fungsi otak, serta memicu ketergantungan secara psikologis. Kondisi ini tentu sangat berbahaya, terutama bagi remaja yang masih berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik maupun mental.

Seorang tenaga kesehatan menyatakan bahwa penggunaan nitrous oxide di luar fungsi medis atau industri sangat tidak dianjurkan. Efek “bahagia saat” yang dirasakan sebenarnya hanya berlangsung singkat, tetapi risiko yang ditimbulkan bisa berdampak jangka panjang. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara manfaat yang dirasakan dengan potensi bahaya yang mengintai. Sayangnya, kurangnya informasi dan edukasi membuat banyak remaja tidak menyadari risiko tersebut secara utuh. Mereka cenderung melihatnya hanya sebagai hiburan biasa tanpa mempertimbangkan konsekuensi kesehatan yang serius.

Selain berdampak pada kesehatan individu, fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran dari sisi sosial. Orang tua dan tenaga pendidik melawan tantangan baru dalam mengawasi perilaku dan aktivitas digital anak-anak. Akses yang mudah terhadap produk ini di pasaran semakin memperparah situasi, karena remaja dapat dengan mudah mendapatkannya tanpa pengawasan yang ketat. Kurangnya literasi kesehatan di kalangan generasi muda juga menjadi faktor yang mempercepat penyebaran tren ini. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah, untuk memberikan edukasi yang tepat dan meningkatkan kesadaran akan bahaya penyalahgunaan zat tersebut.

Pemerintah dan instansi terkait diharapkan dapat mengambil langkah konkret, seperti memperketat pengawasan distribusi serta memberikan regulasi yang lebih jelas terkait penjualan produk ini. Selain itu, kampanye edukasi kesehatan juga perlu digencarkan agar generasi muda lebih bijak dalam menyikapi tren yang berkembang di media sosial. Pada akhirnya, tren “whippink” menjadi pengingat bahwa tidak semua hal yang viral itu aman untuk diikuti. Di tengah arus gaya hidup modern yang serba cepat, penting bagi setiap individu, khususnya Gen Z, untuk tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan diri dibandingkan sekadar mengikuti tren pada saat itu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image