Kreativitas Anak Bukan Sekadar Ide: Ia Butuh Energi untuk Menjadi Nyata
Edukasi | 2026-10-06 12:43:57Pernah melihat anak begitu bersemangat membuat sesuatu?
Ia mengambil kertas, mengeluarkan krayon, meminta gunting, lalu tiba-tiba ingin membuat rumah. Lima menit kemudian berubah menjadi roket. Belum selesai, muncul ide membuat kebun binatang.
Namun beberapa menit berikutnya, semua ditinggalkan.
Kertas berserakan. Krayon terbuka. Gunting tergeletak. Sang anak malah beralih bermain dengan mainan lain.
Orang tua mungkin menghela napas. “Katanya mau bikin sesuatu. Kok belum selesai sudah pindah lagi?”
Di sinilah kita sering melihat kreativitas hanya dari ide. Padahal, memiliki ide dan mewujudkan ide adalah dua hal yang berbeda.
Seorang anak bisa memiliki imajinasi luar biasa, tetapi untuk mengubah imajinasi menjadi gambar, lagu, bangunan, cerita, atau permainan, ia membutuhkan sesuatu yang tidak kalah penting: energi.
Bukan sekadar tenaga tubuh, melainkan juga energi untuk berpikir, mencoba, bertahan ketika mengalami kesulitan, dan dorongan untuk terus melakukan sesuatu yang disukai.
Ide Hebat Bisa Mati di Dalam Kepala
Bayangkan seorang anak ingin membuat rumah-rumahan dari kardus. Ia sudah membayangkan pintu, jendela, bahkan garasi untuk mobil-mobilannya.
Tetapi ketika kardus sulit dipotong atau bangunannya roboh, ia berhenti.
Apakah anak itu tidak kreatif?
Belum tentu.
Bisa jadi idenya ada, imajinasinya ada, tetapi energi untuk menghadapi prosesnya belum cukup.
Dalam seri CORE Kreatif episode keempat, energi disebut sebagai salah satu sifat penting bagi jiwa kreatif. Energi menjadi semacam percik api yang membuat gagasan tidak berhenti sebagai gagasan.
Sebab kreativitas bukan hanya “Aku punya ide!”, tetapi juga “Aku mau mencoba mewujudkannya.”
Di antara dua kalimat itu terdapat proses panjang: mencoba, gagal, memperbaiki, mencoba lagi, bahkan mungkin merasa bosan sebelum akhirnya menemukan cara yang tepat.
Karena itu, ketika anak belum menyelesaikan sesuatu yang dibuatnya, kita tidak selalu perlu buru-buru menyebutnya malas. Mungkin ia lelah, tantangannya terlalu sulit, kehilangan minat, atau membutuhkan cara berbeda untuk menjaga energinya
Ada Anak yang Tidak Kehabisan Ide, Hanya Kehabisan Energi
Orang dewasa pun mengalaminya. Ada saat ketika kita memiliki banyak gagasan, tetapi tubuh terasa berat untuk mengerjakannya.
Anak-anak juga demikian.
Energi fisik menjadi bagian penting dalam proses belajar dan berkarya. Anak yang mengantuk atau terlalu lelah tentu akan lebih sulit berkonsentrasi.
Karena itu, membangun kreativitas tidak selalu berarti menambah aktivitas anak. Kadang justru berarti memberi ruang untuk berhenti.
Ada saatnya anak perlu berlari, bermain, diam, dan tentu saja tidur.
Energi kreatif tidak tumbuh dari tubuh yang terus dipaksa bekerja.
Namun ada jenis energi lain yang tak kalah penting: hasrat atau ketertarikan terhadap sesuatu.
Perhatikan anak ketika melakukan hal yang benar-benar disukainya. Ia bisa berlama-lama menyusun balok, mengulang lagu yang sama, menggambar berkali-kali, atau bertanya tentang sesuatu tanpa bosan.
Mengapa?
Karena ada sesuatu yang membuatnya ingin terus melanjutkan.
Inilah energi yang berkaitan dengan passion—dorongan untuk melakukan sesuatu yang disukai.
Bagi anak, ketertarikan itu tidak harus langsung disebut bakat. Anak boleh menyukai bernyanyi hari ini, kemudian tertarik menggambar beberapa bulan berikutnya. Tugas orang tua bukan buru-buru menentukan masa depannya, tetapi memperhatikan apa yang membuat matanya berbinar dan membuatnya ingin mencoba lagi.
Jangan Padamkan Api Kecil Itu
Ada ironi dalam pengasuhan. Kita ingin anak kreatif, tetapi prosesnya terkadang dipenuhi terlalu banyak instruksi.
“Harus selesai.”
“Jangan begitu.”
“Bikin yang bagus.”
“Jangan berantakan.”
Tanpa sadar, kegiatan yang semula menyenangkan berubah menjadi tugas.
Padahal kreativitas membutuhkan ruang untuk bereksperimen.
Ketika anak menggambar matahari berwarna hijau, misalnya, kita bisa saja langsung mengatakan bahwa matahari seharusnya kuning. Tetapi bagaimana jika kita bertanya, “Kenapa mataharinya hijau?”
Pertanyaan sederhana itu membuka pintu menuju imajinasi.
Tidak semua hasil karya anak harus diperbaiki. Tidak semua permainan harus diarahkan. Terkadang, yang dibutuhkan kreativitas hanyalah kesempatan untuk terus menyala.
Energi Membuat Anak Mau Mencoba Lagi
Karya pertama tidak selalu berhasil. Bangunan bisa roboh, gambar bisa tidak sesuai bayangan, lagu bisa salah lirik, dan pesawat kertas bisa gagal terbang.
Dari kegagalan kecil itulah anak belajar bahwa usaha tidak harus langsung sempurna.
Ia belajar mencari cara lain dan mencoba kembali.
Dalam CORE Kreatif disebutkan ungkapan yang dinisbatkan kepada Thomas Alva Edison bahwa keberhasilan membutuhkan inspirasi sekaligus kerja keras. Pesannya sederhana: gagasan membutuhkan usaha agar menjadi kenyataan.
Dalam dunia anak, “kerja keras” tidak harus berarti bekerja seperti orang dewasa. Bisa sesederhana menyusun balok sekali lagi setelah roboh, menggambar ulang sesuatu yang tidak sesuai keinginan, atau mencoba menyanyikan lagu yang tadi salah.
Kecil bagi kita, tetapi besar bagi perkembangan mereka.
Maka, jangan hanya bertanya kepada anak, “Apa idemu?”
Sesekali tanyakan pula:
“Apa yang membuatmu ingin melakukannya?”
Sebab di balik sebuah karya ada rasa ingin tahu, kesenangan, ketekunan, dan energi untuk mencoba lagi.
Tugas orang tua bukan membuat api kreativitas menyala dengan paksa. Tugas kita adalah menjaganya agar tidak padam.
Dan mungkin, dari percik kecil itulah suatu hari lahir sebuah karya, penemuan, atau gagasan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.
(Setyoadi Purwanto, Dosen STPI, Trainer & Inspirator Elsalima)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
