Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Milatul Chanifah

Janji: Lima Pusaka yang Dibawa Bahar

Sastra | 2026-10-06 19:03:03

“Ada lima pusaka tersebut.

Pertama, selalu hormati dan bantu tetanggamu.

Kedua, selalu lindungi yang lemah dan teraniaya.

Ketiga, senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri.

Keempat, bersabarlah atas apa pun ujianmu.

Kelima, bersedekah, bersedekah, dan bersedekahlah.”

Kutipan tersebut terdapat dalam novel Janji karya Tere Liye. Itu adalah kalimat Buya yang diberikan kepada Bahar saat Bahar akan meninggalkan sekolah agama. Bahar dimasukkan kedalam sekolah agama itu oleh neneknya, Bahar sangat keras kepala, suka berjudi, mabuk, nakal, dan sering berkelahi, Bahar tidak suka berada di sekolah agama tersebut, sehingga dia sering membuat masalah di tempat itu, berharap akan dikeluarkan. Puncaknya itu saat Bahar menghidupkan meriam bambu yang menyebabkan kebakaran di sekolah tersebut, dan tidak sengaja membakar Gumilang, santri yang terjebak didalamnya.

Buku novel Janji karya Tere Liye

Pesan-pesan yang diberikan oleh Buya tersebut kemudian benar-benar ditepati oleh Bahar. Lima pesan itu bukan hanya menjadi nasihat yang ia dengar sebelum meninggalkan sekolah agama, tetapi menjadi pegangan yang ia bawa sepanjang hidupnya. Dari sinilah makna judul Janji terasa, karena janji yang diucapkan Bahar kepada Buya benar-benar ia tunjukkan melalui perbuatannya.

Pesan pertama adalah membantu dan menghormati tetangga. Hal ini terlihat ketika Bahar membantu Mas Puji yang sedang terjebak dalam masalah dan membantu melunasi utangnya. Masalah yang dihadapi Mas Puji tidak mudah untuk diselesaikan, tetapi Bahar tetap mau membantu. Bahkan, ketika masalah tersebut semakin besar dan Mas Puji terlibat dalam kasus pembakaran pasar induk, Bahar rela menggantikannya dan masuk penjara. Bahar sebenarnya bisa saja memilih untuk tidak ikut campur karena itu bukan masalah yang ia lakukan sendiri. Tetapi Bahar memikirkan Mas Puji yang memiliki keluarga, biarlah Bahar yang masuk penjara, dia tidak memiliki keluarga, dan masuk penjara mungkin juga bisa mengurangi penyesalan Bahar kepada Gumilang. Bagi saya, kejadian ini menjadi salah satu bukti paling jelas bahwa pesan Buya benar-benar ia ingat.

Pesan kedua adalah melindungi orang yang lemah dan teraniaya. Hal ini terlihat ketika Bahar berada di penjara. Selama di sana, Bahar sering mendapat perlakuan buruk dari sipir penjara. Namun, ketika sipir tersebut kemudian dianiaya oleh napi lain, Bahar tetap memilih untuk menolongnya. Bahar tidak membalas perlakuan buruk yang pernah diterimanya, tetapi justru membantu ketika sipir tersebut berada dalam keadaan teraniaya. Bagi saya, kejadian ini menunjukkan bahwa Bahar benar-benar memegang pesan Buya untuk melindungi orang yang lemah dan teraniaya, bahkan ketika orang tersebut pernah memperlakukannya dengan buruk.

Pesan ketiga adalah selalu jujur dan tidak pernah mencuri. Hal ini terlihat ketika Bahar bekerja di tambang emas ilegal. Di sana, Bahar menemukan bongkahan emas di dalam lubang tempatnya bekerja. Sebenarnya Bahar bisa saja mengambil emas tersebut untuk dirinya sendiri, tetapi Bahar memilih untuk memberikannya kepada orang lain. Bagi saya, kejadian ini menunjukkan bahwa Bahar tetap berusaha memegang kejujuran, meskipun ia memiliki kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Kemudian ada pesan untuk bersabar atas apa pun ujian yang datang. Pesan ini terasa lebih berat ketika Bahar kehilangan Delima, istrinya, dalam kerusuhan tahun 1998. Delima meninggal dalam keadaan yang sangat tragis, yaitu terjebak di dalam bangunan toko emas yang terbakar yang diamuk oleh masa, dan tentu saja membuat Bahar sangat terpukul. Ia marah dan sulit menerima kenyataan. Bahar merasa tidak terima, kenapa istrinya yang meninggal, kenapa bukan dia, dan lagi-lagi Bahar selalu teringat dengan Gumilang, Bahar berpikir Tuhan menghukumnya dengan ini. Bagian ini menurut saya cukup manusiawi karena Bahar tidak langsung bisa menerima semuanya begitu saja. Ia tetap merasa sedih dan marah. Namun, pada akhirnya ia mampu melewati masa tersebut dan kembali menjalani hidupnya. Dari sini saya melihat bahwa kesabaran bukan berarti tidak pernah marah atau sedih, tetapi tetap bisa bangkit setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan.

Pesan terakhir adalah bersedekah. Setelah Bahar berdamai dengan hidupnya, Bahar pergi ke Jakarta untuk memulai hidup baru, dia mendirikan rumah makan, Bahar sering memberikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia tidak hanya menggunakan hasil usahanya untuk dirinya sendiri. Salah satu bagian yang menurut saya cukup menyentuh adalah ketika Bahar rela menggunakan uang yang sudah disiapkannya untuk pergi haji demi membantu anak-anak panti yang sedang mengalami kesulitan.

Saat Bahar keluar dari sekolah agama, Bahar tidak langsung berubah menjadi orang baik setelah mendapat nasihat Buya. Ia tetap memiliki masalah dan tetap mengalami banyak hal berat dalam hidupnya. Justru dari situlah perubahan Bahar terasa lebih masuk akal. Ia belajar dari kejadian-kejadian yang dialaminya sendiri. Lima pesan Buya perlahan menjadi bagian dari cara Bahar menjalani hidup.

Bahar memang pernah menjadi anak yang nakal dan melakukan kesalahan besar. Tetapi dari perjalanan hidupnya, saya belajar bahwa seseorang tidak selamanya harus dilihat dari kesalahan yang pernah dilakukan. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelahnya. Bahar membuktikan bahwa ia bisa berubah dan menepati janji yang pernah ia buat. Lima pesan dari Buya akhirnya menjadi seperti pusaka yang benar-benar ia bawa sepanjang hidupnya.

Bagian ini yang membuat saya paling mengapresiasi novel Janji. Bukan karena Bahar menjadi manusia yang sempurna, tetapi karena ia tetap berusaha memegang lima pesan tersebut meskipun hidupnya tidak selalu berjalan dengan mudah. Pada akhirnya, janji itu tidak hanya menjadi milik Bahar dan Buya, tetapi juga menjadi pesan bagi pembaca bahwa nasihat yang sederhana bisa memiliki arti besar jika benar-benar dijalankan.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image