Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alvin Qodri Lazuardy

Dunia Taubat

Agama | 2026-10-06 18:01:34
This photo illustration shows a portrait of 11th-century Muslim scholar and polymath al-Ghazali. (Shutterstock Photo – edited by Nizam Arslan)

Pagi ini saya membaca Minhāj al-‘Ābidīn, karya Imam al-Ghazali, dalam versi terjemahan yang sudah cukup lama dan menjadi salah satu koleksi buku lawas di rak perpustakaan pribadi. Buku terjemahan tersebut berjudul Meniti Jalan Kebahagiaan, karya terjemahan dan ringkasan KH. Achmad Sunarto (asal Demak - Rembang) dari kitab klasik Minhāj al-‘Ābidīn. Kitab ini pertama kali diterbitkan pada Februari 1992 oleh Wildan Press, Surabaya, dengan menghadirkan tujuh tahapan (‘aqabah) perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Disajikan dengan bahasa yang lebih ringkas dan mudah dipahami, pemikiran tasawuf al-Ghazali dalam kitab tersebut berhasil menghubungkan lebih dekat dengan kehidupan pembaca modern. Dari bab tawbah (taubat) yang saya baca pagi itu, saya menemukan banyak hal yang berkaitan dengan era Kiwari yang jauh dari kata kembali kepada Allah dan arah kehidupan.

Mungkin, di tengah keringnya dunia era sekarang, kajian-kajian semacam ini di kalangan pemuda—mereka yang baru berusia 17, 20, hingga 30 tahun dan sedang mengalami proses pembentukan kehidupan menuju fase 40 tahun—pembicaraan mengenai taubat menjadi sesuatu yang sangat relevan. Meskipun seringkali ketika kita membicarakan hal ini, kemungkinan besar akan dicibir yaitu itu hal-hal yang kuno, tidak relevan, “yang lain sudah membincangkan pergi ke bulan lah kita masih ngomongin tentang agama” ringkasnya: tidak memiliki kaitan dengan praktik kehidupan dan pola hidup yang semakin kapitalistik dan industrialistik.

Kepungan-kepungan di ranah sosial, berpengaruh kepada kajian-kajian keislaman, pendidikan Islam, bahkan keluarga-keluarga Islam, seakan menjadi komoditas bagi kapitalisme dan industrialisme. Segala sesuatu yang memiliki potensi untuk dianggap unik, kemudian digemari banyak orang, diglorifikasi, diputar menjadi komoditas, dan pada akhirnya dijadikan sekadar potensi ekonomi dan reputasi.

Pelan-pelan, kita meninggalkan sejengkal demi sejengkal—bahkan sehasta demi sehasta—esensi manusia itu sendiri yaitu esensi konektivitasnya dengan Tuhan, esensi keterhubungannya dengan keluarga, esensi keterhubungannya dengan Al-Qur’an, dan esensi keterhubungannya dengan segala sesuatu yang sebenarnya mencakup ‘alam al-syahadah (alam yang tampak) dan ‘alam al-ghaib (alam yang gaib).

Sampai kita menemui pada satu titik ketika melakukan amal, bisnis, dan menjalani kehidupan, semuanya seakan menjadi spektrum yang tidak memiliki keterhubungan dengan akhirat. Begitu pula sebaliknya. Ketika kita melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan ukhrawi, seakan-akan semua itu tidak memiliki hubungan dengan kejadian-kejadian dalam kehidupan kita, dalam struktur kehidupan duniawi.

Rasa-rasanya, membicarakan taubat—sebagaimana yang disampaikan al-Ghazali dalam buku yang saya baca—adalah upaya untuk menjembatani kembali pemahaman kita tentang makna taubat. Taubat adalah pengembalian diri, sebuah penyesalan yang harus dilandasi dengan ilmu.

Setelah seseorang mengerti bahwa dirinya salah, ia melakukan evaluasi terhadap dirinya. Dari sana lahir perbuatan-perbuatan yang didorong oleh iradah (kehendak) yang kuat, ditancapkan dengan ‘azam (tekad) yang kuat dalam dirinya. Ia membimbing nafsunya untuk memilih hal-hal yang lebih baik dalam kehidupan ini secara proporsional dan adil. Ia memahami kesalahan-kesalahannya, berupaya menebus kesalahan-kesalahannya (qodho) di hadapan Allah, sekaligus memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.

Hal-hal inilah yang sebenarnya menjadi poros utama kehidupan kita. Taubat adalah upaya penyelarasan diri kita yang sedang hidup dalam fase modern dan postmodern, ketika penafian keterhubungan spiritual dengan Tuhan serta konektivitas ukhuwah ar-rahimiyah dan silaturahim dengan sesama manusia seakan semakin terputus.
Keterhubungan itu terhimpit oleh kepentingan ekonomi, kepentingan politik, bahkan oleh urusan-urusan muamalah yang sebenarnya bisa diselesaikan secara legawa.

Al-Ghazali mengetuk kembali kesadaran kita bahwa kehidupan ini adalah sesuatu yang sangat dinamis, sesuatu yang sangat dekat dengan dunia dan akhirat sekaligus. Dunia dan akhirat bukan dua ruang yang sepenuhnya terpisah. Keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.

Pertemuan antara dua spektrum, dua dimensi ini, adalah sebuah fitrah yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Sejatinya, kita selalu menyadari hal itu agar kita tetap terhubung, tetap mengerti ke mana arah kehidupan harus dituju. Sebab, sering kali dalam urusan dunia, kita tidak mengerti arah mana yang harus diambil, keputusan apa yang harus dibuat, dan solusi apa yang harus ditempuh.

Dalam taubat, kita menemukan kembali koneksi dengan Tuhan. Di sana ada bimbingan ilham dari Allah subhanahu wa ta‘ala, petunjuk Al-Qur’an, syariat, ajaran Islam, iman, dan ihsan. Semua itu hakikatnya adalah bukan jalan terakhir. Namun justru itulah jalan utama yang sering kali kita lupa untuk melewatinya.

Al-Ghazali juga mengetuk kita semua bahwa untuk mencapai pertobatan yang nasuha, pertobatan yang total, ia tidak serta-merta cukup hanya diucapkan dengan lisan yang berupaya membasahi bibir dengan istighfar. Lebih dalam dari itu, al-Ghazali memberikan bimbingan kepada hati agar kita mengerti bahwa istighfar perlu dibuktikan dalam keselarasan iman, keyakinan, ucapan, dan perbuatan.

Iman bukan hanya sesuatu yang berhenti di dalam hati atau diucapkan oleh lisan. Ia harus menjelma dalam amal melalui anggota badan. Karena itu, taubat pun bukan sekadar pengakuan verbal bahwa kita telah melakukan kesalahan. Ia harus hadir dalam perubahan diri.

Namun, kembali lagi, manusia adalah makhluk yang memiliki esensi ruhiyyah, memiliki ruh. Allah memberikan kepada manusia kecenderungan kepada kebaikan ketakwaan sekaligus sebagai ujian Allah juga memberikan ke-fujuran. Kecenderungan inilah yang harus terus kita kuatkan melalui perbuatan-perbuatan takwa agar potensi-potensi kepada fujur terhenti.

Perbuatan takwa harus dilandasi dengan keilmuan, iradah, ‘azm yang kuat, serta panduan-panduan untuk menjalankan syariat. Hal Ini, berimplikasi pada hati kita terbebas dari penyakit-penyakit hati, atau setidaknya memiliki obat dan kemampuan untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut berkembang.

Sebab, penyakit hati sesungguhnya sangat memengaruhi kehidupan kita yaitu bagaimana kita menjalani kehidupan, menentukan sebuah solusi, menghadapi persoalan, bahkan mengambil keputusan ketika berhadapan dengan berbagai permasalahan.

Manakala hati kita bersih, di sana terdapat potensi ketenangan. Hati yang bersih akan lebih mudah mengingat Allah. Ia akan berpikir, mengevaluasi diri, dan kembali bertaubat kepada Allah. Ketika kehidupan kita terkoneksi dengan Allah, berbagai persoalan kehidupan yang semakin maju dan kompleks ini bukan berarti akan hilang, tetapi kita mendapatkan bimbingan untuk menyelesaikannya.

Sebab, sering kali ketuntasan kehidupan ini pada akhirnya hanya membutuhkan satu kali istirahat yaitu kematian. Maka, sesuai dengan pesan khatib Jumat di setiap pekan yang selalu kita dengarkan:
Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha haqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Sebagai penegasan, refleksi pagi ini tertaut erat dengan ayat: tūbū ilā Allāhi tawbatan naṣūḥā—bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Sebab, taubat bukan sekadar ucapan istighfār (memohon ampun), dilanjutkan dengan melakukan perubahan diri yang lahir dari ‘ilm (ilmu), irādah (kehendak), dan ‘azam (tekad) untuk kembali kepada jalan yang diridhai Allah.

Ia menjadi jalan untuk menyelaraskan kembali iman, keyakinan, ucapan, dan amal dalam kehidupan yang mempertemukan urusan dunia dan akhirat. Sebagaimana al-Ghazali mengingatkan melalui perjalanan spiritual seorang ‘ābid (hamba yang beribadah), kehidupan tidak berhenti pada pencapaian duniawi, tetapi harus diarahkan kepada perjumpaan dengan Allah. Maka, jangan sampai kita meninggalkan dunia ini tanpa membawa tawbah—taubat yang mengembalikan diri kepada Allah sebelum kematian menutup seluruh kesempatan untuk kembali.

Dokumen Pribadi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image