Bukan Keadaan, Tetapi Respons Kita
Agama | 2026-08-21 06:06:11
Ada satu doa yang mungkin paling sering kita panjatkan dalam kehidupan sehari-hari:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
Kita meminta hasanah kebaikan di dunia dan di akhirat. Namun, pernahkah kita bertanya lebih jauh: di mana sebenarnya letak kebaikan itu?
Apakah hasanah selalu berarti memiliki banyak harta, hidup tanpa masalah, memperoleh apa yang kita inginkan, atau berada dalam keadaan yang menyenangkan?
Jika direnungkan lebih dalam, mungkin tidak sesederhana itu. Sebab kehidupan tidak selalu menghadirkan keadaan yang kita inginkan. Ada saat ketika kita memperoleh nikmat, tetapi ada pula saat ketika kehilangan. Ada masa ketika urusan berjalan lancar, tetapi ada pula ketika rencana berantakan. Kita juga mengalami masa ketika mudah melakukan kebaikan, tetapi pada saat lain justru tergelincir dalam kesalahan.
Lalu, apakah hasanah hanya mungkin ditemukan ketika keadaan hidup berjalan sesuai harapan?
Di sinilah kita menemukan satu pelajaran penting dalam Islam: kebaikan tidak selalu terletak pada keadaan yang kita terima, tetapi dapat lahir dari cara kita merespons keadaan tersebut.
Kekayaan, misalnya, bukan dengan sendirinya menjadi hasanah. Ia dapat membuat seseorang rendah hati dan gemar berbagi, tetapi dapat pula menumbuhkan kesombongan dan kelalaian. Musibah juga tidak otomatis menjadi keburukan. Ia dapat membuat seseorang putus asa, tetapi dapat pula menjadi jalan menuju kesabaran, kedewasaan, dan kedekatan kepada Allah.
Dengan demikian, yang menentukan bukan semata-mata apa yang terjadi dalam kehidupan kita, tetapi apa yang kita lakukan terhadap apa yang terjadi.
Mengapa dua orang yang sama-sama memperoleh kekayaan dapat berakhir dengan karakter yang berbeda? Yang satu menjadi semakin rendah hati, sementara yang lain tenggelam dalam kesombongan. Mengapa dua orang yang sama-sama ditimpa musibah menempuh jalan yang tidak sama? Ada yang bangkit menjadi pribadi yang lebih kuat, tetapi ada pula yang kehilangan harapan.
Hal yang sama juga terjadi dalam ketaatan dan kedurhakaan. Ada orang yang semakin rajin beribadah justru semakin tawaduk, sementara yang lain merasa dirinya lebih suci daripada orang lain. Ada pula yang menjadikan dosanya sebagai titik balik menuju kebaikan, tetapi tidak sedikit yang terus mengulang kesalahan yang sama.
Ironisnya, cara berpikir yang mengukur nilai seseorang berdasarkan keadaan yang diterimanya bukanlah fenomena baru. Al-Qur'an telah mengoreksinya sejak lama. Dalam QS. Al-Fajr ayat 15–17, Allah ﷻ menjelaskan kecenderungan manusia menganggap kelapangan rezeki sebagai tanda kemuliaan dan kesempitan rezeki sebagai tanda kehinaan. Lalu Allah membantah anggapan itu dengan tegas: “Sekali-kali tidak!”
Keadaan, dengan demikian, tidak otomatis menunjukkan nilai seseorang di hadapan Allah. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana ia merespons keadaan tersebut.
Cara pandang inilah yang kemudian dijelaskan Rasulullah ﷺ melalui sebuah hadis yang sangat masyhur. Beliau bersabda bahwa seluruh urusan seorang mukmin adalah baik. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur sehingga nikmat itu menjadi kebaikan baginya. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar sehingga musibah itu pun menjadi kebaikan baginya.
Hadis tersebut seakan memberikan penjelasan praktis tentang bagaimana hasanah dapat hadir dalam kehidupan: bukan karena setiap keadaan yang kita alami menyenangkan, tetapi karena seorang mukmin mampu merespons setiap keadaan dengan sikap yang benar.
Nikmat dapat menjadi hasanah melalui syukur. Musibah dapat menjadi hasanah melalui sabar. Ketaatan dapat menjadi hasanah melalui ikhlas. Bahkan dosa yang disesali dan diikuti taubat dapat menjadi titik balik menuju kebaikan.
Maka, mungkin selama ini kita terlalu sibuk meminta kepada Allah agar keadaan hidup kita berubah menjadi lebih baik. Padahal, di samping meminta perubahan keadaan, kita juga perlu meminta agar hati kita mampu merespons setiap keadaan dengan benar.
Sebab boleh jadi hasanah yang kita minta itu tidak selalu berupa keadaan yang lebih mudah. Bisa jadi, hasanah itu hadir ketika kita menjadi pribadi yang lebih baik dalam menghadapi keadaan yang ada.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
