Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arifda Ayu SW, M.Si - Dosen Faperta Unand

Membeli Tanaman Menjadi Tren Gaya Hidup

Gaya Hidup | 2026-09-30 14:54:03

Dahulu, tanaman hias mungkin hanya dianggap sebagai pelengkap halaman rumah. Beberapa pot bunga diletakkan di teras, disiram setiap pagi, dan sesekali diberi pupuk. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tanaman mulai menempati posisi yang berbeda dalam kehidupan masyarakat. Tanaman tidak lagi sekadar penghias rumah, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan masyarakat perkotaan.

Fenomena ini mudah ditemukan di media sosial. Foto tanaman dengan daun yang unik, sudut rumah yang dipenuhi tanaman hijau, hingga video seseorang berburu tanaman hias menjadi pemandangan yang semakin lazim. Bahkan, tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang cukup besar untuk memperoleh tanaman yang dianggap menarik atau sedang populer.

Membeli tanaman kini bukan semata-mata memenuhi kebutuhan untuk memperindah rumah. Ada unsur kesenangan, kepuasan pribadi, bahkan kebanggaan yang menyertainya. Tanaman tertentu dapat menjadi simbol selera, kreativitas, dan identitas pemiliknya. Rumah dengan koleksi tanaman yang tertata rapi seolah mencerminkan gaya hidup yang dekat dengan alam dan memiliki perhatian terhadap keindahan.

Perubahan ini juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan media sosial. Platform digital membuat tanaman lebih mudah dikenal dan diperjualbelikan. Tanaman yang sebelumnya hanya dijumpai di kalangan kolektor dapat menjadi populer setelah fotonya tersebar luas. Rekomendasi kreator konten, video perawatan tanaman, dan unggahan koleksi pribadi turut membentuk minat masyarakat untuk memiliki tanaman serupa.

Di satu sisi, tren tersebut membawa dampak positif. Meningkatnya minat membeli tanaman dapat mendorong masyarakat untuk lebih mengenal dunia tumbuhan. Orang yang sebelumnya tidak tertarik pada tanaman mulai belajar tentang media tanam, penyiraman, pemupukan, hingga kebutuhan cahaya. Aktivitas yang awalnya hanya bertujuan memperindah ruangan dapat berkembang menjadi hobi yang memberikan pengalaman baru.

Merawat tanaman juga menghadirkan kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas. Menyiram tanaman, membersihkan daun, atau mengamati pertumbuhan tunas dapat menjadi kegiatan sederhana yang menyenangkan. Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut memberikan ruang untuk mengalihkan perhatian dari kesibukan sehari-hari. Kehadiran tanaman di rumah pun dapat membuat lingkungan terasa lebih asri dan nyaman.

Selain itu, tren tanaman membuka peluang ekonomi bagi petani, pembudidaya, dan pelaku usaha tanaman hias. Permintaan yang meningkat dapat menciptakan pasar baru, mulai dari penjualan bibit dan tanaman dewasa hingga pot, media tanam, dan perlengkapan perawatan. Jika dikelola dengan baik, minat masyarakat terhadap tanaman dapat menjadi peluang usaha yang berkelanjutan.

Namun, di balik popularitasnya, ada hal yang patut direnungkan. Ketika membeli tanaman menjadi tren, apakah ketertarikan masyarakat benar-benar tumbuh dari keinginan untuk merawatnya, atau sekadar mengikuti sesuatu yang sedang populer?

Tidak sedikit orang yang tertarik membeli tanaman karena bentuknya unik, harganya sedang naik, atau banyak diperbincangkan di media sosial. Ketika tren berganti, tanaman yang sebelumnya diburu bisa saja kehilangan daya tarik. Padahal, tanaman merupakan makhluk hidup yang membutuhkan perhatian secara berkelanjutan. Membelinya hanya karena mengikuti tren tanpa memahami kebutuhan perawatannya berisiko membuat tanaman terbengkalai, bahkan mati.

Persoalan lainnya adalah kecenderungan menjadikan tanaman sebagai simbol status. Harga yang tinggi terkadang membuat suatu tanaman dianggap lebih menarik daripada tanaman lain yang sebenarnya sama-sama memiliki nilai estetika. Akibatnya, kepuasan memiliki tanaman berpotensi bergeser dari pengalaman merawat menjadi kebanggaan karena berhasil memiliki sesuatu yang mahal atau sulit diperoleh.

Padahal, keindahan tanaman tidak selalu ditentukan oleh harga. Tanaman sederhana yang tumbuh subur di halaman rumah dapat memberikan kepuasan yang sama dengan tanaman koleksi bernilai tinggi. Bahkan, tanaman yang diperbanyak sendiri dari stek atau biji sering kali menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna karena pemiliknya terlibat langsung dalam proses pertumbuhannya.

Tren membeli tanaman sesungguhnya dapat menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak seharusnya berhenti pada transaksi jual beli atau sekadar menghasilkan foto yang menarik untuk media sosial. Ada tanggung jawab untuk memahami bahwa setiap tanaman yang dibeli membutuhkan ruang, air, nutrisi, dan perhatian.

Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan membeli tanaman sebagai bagian dari gaya hidup. Menikmati keindahan tanaman, mengoleksinya, atau menjadikannya sebagai hobi merupakan pilihan pribadi yang sah. Namun, akan lebih bermakna apabila kesenangan membeli juga diikuti dengan kesediaan merawat.

Sebab, nilai sebuah tanaman bukan hanya terletak pada keindahan daunnya, keunikan bentuknya, atau harga yang melekat padanya. Nilai itu juga tercermin dari bagaimana kita menjaganya agar tetap tumbuh. Ketika tren membeli tanaman mampu menumbuhkan kebiasaan merawat, masyarakat tidak hanya memperoleh keindahan di rumah, tetapi juga belajar menghargai kehidupan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image