Mengapa Orang Kota Suka Memamerkan Tanamannya di Media Sosial?
Gaya Hidup | 2026-09-30 13:41:33Pernahkah kita melihat seseorang mengunggah foto tanaman cabai yang mulai berbuah, monstera dengan daun yang mengilap, atau sayuran yang baru dipanen dari halaman rumah? Sekilas, unggahan semacam itu mungkin terlihat sederhana. Namun, jika diperhatikan, tanaman kini tidak hanya menjadi penghias rumah, tetapi juga bagian dari gaya hidup yang semakin sering dibagikan di media sosial.
Ada sesuatu yang menarik dari kebiasaan ini. Di tengah kehidupan perkotaan yang identik dengan gedung, kendaraan, pekerjaan, dan aktivitas digital, semakin banyak orang yang justru tertarik memperlihatkan tanaman yang mereka rawat. Bahkan, tidak sedikit yang membagikan proses menanam sejak benih hingga akhirnya dapat dipanen.
Lantas, mengapa tanaman menjadi begitu menarik untuk dipamerkan?
Salah satu alasannya mungkin karena berkebun memberikan pengalaman yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Kehidupan di perkotaan sering kali berjalan cepat. Pekerjaan, kemacetan, dan berbagai tuntutan membuat seseorang terbiasa mengejar sesuatu yang hasilnya harus segera terlihat. Sebaliknya, menanam mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat diperoleh secara instan.
Benih yang ditanam hari ini mungkin baru berkecambah beberapa hari kemudian. Tanaman yang dirawat berminggu-minggu belum tentu langsung menghasilkan buah. Ada proses menyiram, memberi pupuk, memangkas, bahkan menghadapi tanaman yang layu atau terserang hama. Ketika akhirnya tanaman tumbuh dengan baik, keberhasilan kecil itu terasa layak dirayakan.
Media sosial kemudian menjadi tempat untuk membagikan kebahagiaan tersebut. Foto tanaman yang tumbuh subur bukan sekadar gambar, melainkan juga dokumentasi dari proses yang telah dilalui pemiliknya.
Di sisi lain, tanaman juga menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup. Rumah dengan tanaman hijau sering diasosiasikan dengan suasana yang nyaman, asri, dan dekat dengan alam. Tidak mengherankan jika tanaman hias, kebun mini, hingga instalasi hidroponik kerap menjadi objek foto yang menarik. Bagi sebagian orang, merawat tanaman merupakan cara mengekspresikan selera sekaligus menunjukkan bagaimana mereka mengatur ruang tempat tinggal.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa aktivitas pertanian tidak selalu harus berlangsung di lahan yang luas. Balkon apartemen, teras rumah, bahkan ambang jendela dapat menjadi tempat untuk menanam. Cabai, tomat, kangkung, selada, dan berbagai tanaman herbal bisa dibudidayakan dalam wadah sederhana. Keterbatasan lahan ternyata tidak selalu menghalangi seseorang untuk menikmati kegiatan bercocok tanam.
Menariknya, kebiasaan membagikan tanaman di media sosial juga dapat menjadi sarana belajar. Seseorang yang mengunggah keberhasilan menanam cabai mungkin tanpa sadar memberikan inspirasi kepada orang lain. Begitu pula dengan mereka yang membagikan kegagalan, seperti tanaman yang terserang penyakit atau tidak tumbuh sesuai harapan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan diskusi dan pertukaran pengetahuan.
Dari sebuah unggahan, orang lain bisa mengenal teknik penyemaian, media tanam, pemanfaatan kompos, hingga cara merawat tanaman di ruang terbatas. Media sosial yang biasanya dipenuhi hiburan dan informasi singkat ternyata dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan pertanian.
Namun, ada sisi lain yang patut diperhatikan. Ketika berkebun mulai menjadi tren, tidak sedikit orang yang tertarik karena ingin mengikuti apa yang sedang populer. Tanaman tertentu dibeli karena banyak muncul di media sosial, bukan karena benar-benar sesuai dengan kondisi rumah atau kemampuan perawatannya. Akibatnya, tanaman yang semula diharapkan mempercantik rumah justru berakhir layu karena tidak terawat.
Di sinilah pentingnya membedakan antara sekadar mengikuti tren dan benar-benar menikmati kegiatan berkebun. Menanam membutuhkan perhatian, kesabaran, dan pemahaman terhadap kebutuhan tanaman. Tidak semua tanaman cocok ditempatkan di dalam ruangan, dan tidak semua tanaman dapat tumbuh dengan baik tanpa sinar matahari yang cukup.
Selain itu, kebiasaan memamerkan tanaman sebaiknya tidak berhenti pada penampilan. Ada nilai yang jauh lebih besar ketika seseorang mulai memahami bagaimana tanaman tumbuh, dari mana bahan tanamannya berasal, dan bagaimana kegiatan berkebun dapat memberikan manfaat bagi lingkungan maupun kehidupan sehari-hari.
Berkebun, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan anak-anak pada proses pertumbuhan tanaman dan pentingnya menjaga lingkungan. Kebun kecil juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sebagian kebutuhan dapur. Sementara itu, pemanfaatan sisa organik rumah tangga sebagai kompos dapat membantu mengurangi sampah sekaligus menyediakan bahan organik bagi tanaman.
Pada akhirnya, kebiasaan memamerkan tanaman di media sosial mungkin bukan sekadar tren sesaat. Di balik foto daun yang hijau atau buah yang mulai matang, ada perubahan cara sebagian masyarakat perkotaan memandang alam. Tanaman yang dahulu dianggap hanya sebagai penghias kini mulai dilihat sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari yang memiliki nilai estetika, rekreasi, edukasi, bahkan ekonomi.
Mungkin kita tidak perlu mempermasalahkan apakah seseorang menanam karena hobi, ingin mempercantik rumah, atau sekadar ingin mengunggah foto yang menarik. Selama kegiatan itu mendorong orang untuk lebih mengenal dan merawat tanaman, ada nilai positif yang dapat tumbuh darinya.
Sebab, bisa jadi, satu foto tanaman yang diunggah hari ini akan membuat orang lain tertarik menanam esok hari. Dari sebuah unggahan sederhana, mungkin akan tumbuh kebiasaan baru: lebih dekat dengan alam, lebih menghargai proses, dan lebih peduli terhadap lingkungan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
