Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Andika Prtm

Dinamika Identitas dan Tantangan Bahasa di Era Digital

Humaniora | 2026-02-18 16:02:04
https://www.freepik.com/free-vector/communication-concept-illustration-idea-discussion-interaction-exchanging_26477248.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=b5d2433e-6e15-4021-9a4a-2623bfdcac14&query=communication

Bahasa sejatinya berfungsi sebagai elemen fundamental dalam kehidupan manusia karena ia bertindak sebagai alat komunikasi utama sekaligus medium untuk mengekspresikan identitas budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena penggunaan bahasa di Indonesia saat ini menunjukkan dinamika yang menarik karena generasi muda cenderung menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Gaul secara bergantian dalam interaksi sehari-hari mereka. Media sosial, sebagai ruang dimana kebebasan ekspresi dalam mengutarakan pendapat melalui gaya berbahasa yang lebih bebas, tidak terikat aturan kesopanan, menjadi semakin masif perkembangannya dalam membangun paradigma bertutur kata.

Platform sosial media memberi fasilitas yang sangat cakap dan strategis demi memberi pengalaman berinteraksi lebih cair, baik kepada budaya yang sama, maupun yang beragam. Semua itu dimungkinkan terjadi di internet. Lalu, jika kita kembali menengok sejarah bagaimana bahasa itu diciptakan dari melayu kuno, diresmikan sesaat setelah proklamasi, dan dipraktikkan di keseharian kita, terdapat pola komunikasi yang berubah secara signifikan di antara kedua kutub zaman. Indonesia, negara yang dikenal dengan penduduk yang mengutamakan nilai-nilai kesejahteraan, kebersamaan, dan sopan santun sudah jadi hal ihwal jika pada praktik sosialnya tradisi tersebut masih berusaha untuk dilestarikan.

Perubahan paling mencolok dalam lanskap kebahasaan saat ini adalah percepatan proses leksikalisasi atau pembentukan kata baru yang didorong oleh algoritma media sosial. Apabila dahulu penyebaran dialek atau kosakata baru terhambat oleh batasan geografis dan waktu, maka kini hambatan tersebut telah runtuh. Sebuah istilah yang diciptakan di Jakarta pada hari Senin dapat langsung digunakan secara luas oleh remaja di Surabaya hingga Papua pada hari yang sama karena adanya konektivitas digital yang masif. Algoritma media sosial memprioritaskan konten yang menarik sehingga istilah yang muncul dalam konten viral akan menyebar dengan efek bola salju kepada jutaan pengguna dalam waktu singkat.

Otoritas penentu bahasa baku pun kini mengalami pergeseran signifikan dari lembaga resmi ke konsensus komunitas daring. Lembaga bahasa seperti penyusun KBBI secara konvensional yang seharusnya sebagai penentu kata baku, namun bagi Gen Z perlawanan sikap justru muncul dari para influencer dan kesepakatan komunitas di media sosial. Jika sebuah kata telah digunakan dan dimengerti dalam lingkaran digital mereka maka kata tersebut dianggap valid meskipun statusnya tidak terdaftar dalam kamus bahasa baku. Fenomena ini menunjukkan bahwa validitas bahasa mampu melebihi aturan preskriptif yang kaku serta mampu menunjukkan keluwesan yang lebih optimal pada penyebarannya.

Salah satu karakteristik utama bahasa Gen Z adalah penggunaan campur kode antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Praktik ini sering kali disalahartikan sebagai kekurangan kosakata padahal sebenarnya Gen Z melihat tren ini sebagai strategi komunikasi yang efisien dan efektif. Penggunaan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari menciptakan asosiasi penutur dengan karakteristik global dan modern sehingga berfungsi sebagai modal budaya bagi penggunanya. Dengan demikian mereka dapat membangun citra diri yang diinginkan sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat dunia yang terinformasi.

Penggunaan campur kode ini juga melahirkan fenomena elitisme verbal yang berfungsi sebagai mekanisme seleksi sosial dalam pergaulan digital. Istilah-istilah spesifik dalam Bahasa Inggris sering digunakan untuk menciptakan hubungan kelompok yang eksklusif karena pemakaian bahasa hanya dimengerti oleh mereka yang memiliki konteks pemahaman yang sama. Mereka yang tidak memahami slang terkini atau menggunakan istilah yang sudah ketinggalan zaman akan dianggap aneh dan berisiko terpinggirkan dari interaksi sosial yang dominan.

Selain aspek verbal yang lebih dominan, ada pula bentuk komunikasi nonverbal yang memungkinkan dilakukan karena fitur yang tersedia, yaitu emoji. Penggunaan emoji sudah akrab ditelinga kita sebagai representasi dari ekspresi yang dihaturkan untuk merespons tindak tutur tertentu atau daoat dipakai dalam ranah yang spesifik. Sebuah emoji dapat merubah makna kalimat yang tampak kaku menjadi sarkastis atau santai, ini bertujuan memitigasi risiko kesalahpahaman. Tanpa kehadiran elemen visual tersebut pesan teks kerap dianggap kurang ekspresif atau bahkan memicu konflik emosional yang tidak perlu.

Transformasi bahasa ini tentu membawa implikasi serius terhadap norma kebahasaan karena memunculkan dualitas antara bahasa baku dan bahasa digital. Kekhawatiran selain itu muncul dari pengaburan nilai-nilai budaya lokal yang sudah tergantikan dengan tren-komunikasi yang lebih fleksibel dengan sisipan nilai-nilai barat yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Hal ini cukup menjadi tantangan bagi kaum muda, karena semakin mereka terpapar dengan dunia medsos, dengan cakupan pergaulan dan gaya bahasa yang masif berkembang, mereka makin terasing dengan nilai-nilai otentik bahasa Indonesia yang semestinya harus dilestarikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image