Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image QUPRO Indonesia

Memeluk Takdir, Menjaga Nyala: Refleksi Akhir Ramadhan dan Pergolakan Dunia

Khazanah | 2026-03-11 13:44:26

Oleh: Ali Amril, Aktivis Gerakan Filantropi Dunia Islam dan Chairman AKSI (Aliansi Kemanusiaan Indonesia)


Sepuluh hari terakhir Ramadhan tahun ini datang membawa keprihatinan kemanusiaan yang amat pekat. Di dalam masjid, kita bercengkrama dengan keheningan i'tikaf dan sujud yang panjang. Namun saat melangkah keluar, dunia sedang tak baik-baik saja, dan penuh sesak oleh berita-berita sirine peringatan dan dentuman senjata pemusnah masal. Kita seolah berdiri tepat di persimpangan zaman, menyaksikan tatanan global yang kian tak teratur dan wajah dunia berubah dengan sangat cepat.


Menatap eskalasi perang terbuka saat ini antara koalisi Amerika Serikat-Israel dan Iran, kita seolah sedang membaca ulang nubuwat akhir zaman di depan mata kita. Sejak letusan pertama pada 28 Februari lalu, tragedi ini telah berjalan 12 hari dengan presisi kehancuran yang memilukan. Laporan resmi hingga pekan ini mencatat setidaknya 1.348 jiwa wafat di Iran, sebuah angka yang menyimpan kepedihan mendalam, termasuk tragedi gugurnya 175 siswi sekolah dasar di Minab akibat hantaman rudal.


Maka berlakulah adagium, bahwa perang senjata itu sejatinya tak akan pernah ada pemenang, karena kedua belah pihak maupun sekutunya juga menjadi bagian dari korban perang. Percikan apinya menjalar brutal tanpa kendali; duka merembet menelan korban jiwa di Lebanon, serta jatuhnya korban tewas di Kuwait, Suriah, Uni Emirat Arab, hingga Oman.


Sebagai manusia biasa, tentunya kita menolak skenario kehancuran ini meluas. Di malam-malam penghujung Ramadhan yang mustajab ini, ada harapan besar yang kita gantungkan kepada Penguasa Semesta agar badai pertempuran segera mereda.


Mengarungi takdir geopolitik yang mencekam ini, fondasi kita adalah mempertahankan positive vibes, sebuah keyakinan utuh bahwa di balik setiap kekacauan yang terjadi, takdir Allah bekerja dengan keadilan dan ketetapan-Nya sendiri.

Ketakutan adalah hal manusiawi, namun keputusasaan tidak boleh punya tempat di hati umat ini.


Melawan narasi kekerasan global tidak selalu diukur dari desing peluru. Pertahanan terkuat kita hari ini adalah mengaktifkan kembali radar spiritual di keheningan malam. Kita satukan frekuensi perlawanan lewat Doa Rabithah, mengikat batin umat di seluruh belahan dunia tanpa sekat teritorial. Di saat yang sama, lisan ini tak boleh putus merapalkan doa-doa sahih penangkal kezaliman, memohon agar tangan-tangan yang merusak tatanan kemanusiaan segera dilumpuhkan oleh campur tangan langit.


Pada akhirnya, kesadaran spiritual menuntut pembuktian di dunia nyata. Kepedulian adalah bahasa universal yang paling tajam. Energi kepedulian itu harus dialirkan, menyentuh mereka yang terlemah di sekitar kita, hingga menembus blokade menuju kiblat pertama umat Islam. Bisingnya perang kawasan ini pantang membuat kita abai pada derita menahun di Gaza dan Al-Quds.


Pada penghujung Ramadhan 1447 H, ikhtiar ini akan kita wujudkan melalui penyaluran program "Indonesia Jaga Nyala Palestina Tahap 1". Ini adalah komitmen kemanusiaan sekaligus pesan tegas: dalam kondisi dunia segelap apa pun, umat di Indonesia akan memastikan lentera harapan di Palestina tetap menyala.


Idul Fitri tinggal menghitung hari. Kita akan menyambutnya dengan jiwa yang tegar, dada yang lapang menerima takdir-Nya, dan tangan yang menolak lelah memeluk duka sesama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image