Saat Muraja'ah Terasa Berat, Hati Belajar Diam
Khazanah | 2026-01-26 21:24:01
Muraja’ah tidak selalu hadir dalam keadaan ikhlas. Ada masa ketika ayat terasa berat di lisan dan ingatan mudah goyah. Pada titik ini, muraja’ah berhenti menjadi sekadar rutinitas, lalu menjelma menjadi ujian kesetiaan, apakah tetap kembali meski harus melewati kesulitan. Dalam kelelahan itu, diam bukan kekalahan, melainkan bentuk kebijaksanaan.
Diam memberi ruang agar hati tidak tertinggal dari bacaan, sebab tidak semua kebaikan tumbuh dari langkah yang cepat, sebagian justru lahir dari kesabaran yang menahan diri agar tetap tenang. Khazanah Islam menempatkan nilai amal bukan pada banyaknya, melainkan pada ketekunan dan keikhlasan manusia. Muraja’ah yang dijaga dengan langkah kecil namun konsisten sering kali lebih bernilai daripada semangat besar yang cepat padam.
Di sinilah istiqamah menemukan wajah aslinya dengan bertahan dalam keadaan berat, bukan hanya bergerak saat mudah. Ada saatnya muraja’ah mengajarkan kejujuran pada diri sendiri, bahwa lelah adalah bagian dari perjalanan, bukan bagian dari kegagalan. Ujian sesungguhnya bukan pada lancarnya bacaan, tetapi pada kesediaan untuk kembali membuka mushaf, meski hati belum sepenuhnya pulih.
Pada muraja’ah yang terasa berat, hati dilatih untuk bersandar, bukan menuntut pada hasil, ia diajak merawat niat, menerima keterbatasan, dan menyadari bahwa setiap ayat yang diulang meski terbata - bata adalah bentuk penghambaan yang utuh pada sang pencipta. Pada akhirnya, muraja’ah bukan hanya semata menjaga hafalan agar tidak hilang, tetapi menjaga hati agar tidak jauh dari Al-Qur'an.
Dalam diam yang jujur dan usaha yang sederhana, ayat-ayat itu tetap hidup menjadi penuntun yang setia, meski langkah berjalan dengan sangat pelan. Di titik yang paling sunyi dari muraja’ah, hati belajar bahwa kedekatan dengannya tidak selalu lahir dari kelancaran. Kadang ia tumbuh dari kehadiran yang setia, dari duduk yang sabar di hadapan ayat-ayat meski tak seluruhnya mampu diraih. Sebab dalam upaya yang terus kembali, ada cinta yang diam - diam dipelihara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
