Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Faika

Ketika Masalah, Keinginan, dan Doa Bertemu

Khazanah | 2026-01-22 21:58:15

Hidup jarang memberi jeda. Masalah datang silih berganti, sering kali tanpa aba-aba. Di tengah himpitan itu, manusia tetap menyimpan keinginan tentang hidup yang lebih layak, hati yang lebih tenang, dan masa depan yang lebih pasti. Ketika masalah membesar dan keinginan terasa menjauh, doa kerap menjadi tempat terakhir untuk bersandar.

Masalah mengajarkan kita tentang batas. Ia memaksa kita mengakui bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Rencana yang disusun rapi bisa runtuh dalam satu kejadian, dan usaha yang dilakukan sepenuh tenaga tak selalu berbuah seperti yang diharapkan. Di titik inilah air mata sering hadir, bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai bentuk kejujuran paling manusiawi.

Keinginan, di sisi lain, adalah kekuatan yang membuat kita tetap bergerak. Ia tumbuh dari harapan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, keinginan juga kerap menjadi sumber luka ketika realitas tak kunjung sejalan. Kita ingin cepat berhasil, ingin segera keluar dari kesulitan, ingin didengar dan dimengerti. Sayangnya, hidup tidak selalu mengikuti ritme yang kita mau.

Lalu datanglah doa. Ia sering dipanjatkan dalam sunyi, di sela-sela kelelahan, atau di ujung malam ketika kata-kata tak lagi sanggup menampung beban pikiran. Doa bukan sekadar permintaan, tetapi pengakuan bahwa manusia punya keterbatasan. Dalam doa, masalah tidak selalu langsung hilang, dan keinginan tidak selalu langsung terkabul. Namun, doa memberi ruang untuk menerima, menguatkan hati untuk bertahan.

Ketika masalah, keinginan, dan doa bertemu, kita belajar satu hal penting: hidup bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita mau, tetapi tentang memahami apa yang perlu kita jalani. Ada keinginan yang harus ditunda, ada masalah yang harus dilewati perlahan, dan ada doa yang dijawab dengan cara yang tidak selalu kita duga.

Di titik pertemuan itu, manusia ditempa. Air mata menjadi saksi, masalah menjadi guru, keinginan menjadi pengingat arah, dan doa menjadi pegangan agar kita tidak sepenuhnya runtuh. Mungkin inilah cara hidup mengajarkan kedewasaan bukan dengan menghilangkan luka, tetapi dengan memberi makna di baliknya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image