Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Erina Aulia Syaharani

Sastra atau Linguistik? Salah Pilih Bisa Bikin Skripsi Seret

Sastra | 2026-02-19 09:12:10

Sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, ada satu fase yang lebih bikin pusing daripada rebutan colokan di kelas: menentukan peminatan. Sastra atau linguistik?

Masalahnya, keputusan ini sering diambil dengan alasan ikut teman, ikut dosen favorit, atau yang penting kelihatan “nggak ribet”. Akibatnya baru terasa di semester tua ketika skripsi mulai jalan di tempat, bimbingan terasa seperti sidang kecil tiap minggu, dan kita mulai mempertanyakan pilihan hidup sendiri.

Yang bikin runyam, perbedaan sastra dan linguistik sering dijelaskan terlalu normatif. “Sastra itu karya, linguistik itu bahasa.” Ya, terima kasih. Kami juga tahu itu sejak semester dua. Yang jarang dijelaskan adalah mana yang lebih bikin overthinking? Mana yang lebih rentan bikin revisi tanpa ujung? Mana yang cocok dengan tipe mental kita?

Karena saya juga pernah berdiri di persimpangan itu sambil pura-pura yakin, izinkan saya membongkar beberapa perbedaan yang lebih jujur dan membumi.

1. Sastra Menggali Makna, Linguistik Membongkar Mesin Bahasa

Kalau masuk sastra, kamu akan akrab dengan novel, cerpen, puisi, dan drama. Tugasmu bukan sekadar membaca, tapi mencurigai teks. Apa ideologinya? Representasi siapa yang disenyapkan? Kenapa tokohnya memilih diam?

Kamu akan berurusan dengan makna yang berlapis. Dan percaya atau tidak, makna itu bisa berkembang tergantung teori yang kamu pakai. Pakai pendekatan feminisme, hasilnya bisa berbeda dengan pendekatan strukturalisme atau poskolonial.

Di sinilah letak kenikmatannya sekaligus jebakannya. Kamu bisa tenggelam dalam tafsir tanpa sadar melebar ke mana-mana. Revisi sering terjadi bukan karena salah data, tapi karena argumen dianggap “kurang tajam” atau “kurang dalam”.

Di linguistik, kamu membongkar “mesin”-nya bahasa. Bunyi, kata, frasa, struktur kalimat, sampai pola wacana. Fokusnya bukan “apa maksudnya”, tapi “bagaimana sistemnya bekerja”.

Misalnya, kamu meneliti reduplikasi dalam bahasa daerah atau pola alih kode di media sosial. Kamu harus menunjukkan data, mengklasifikasikan, lalu menjelaskan berdasarkan teori. Kalau datanya tidak konsisten, ya kelihatan.

Kalau kamu tipe yang menikmati diskusi panjang tentang simbol dan tafsir, sastra terasa hidup. Kalau kamu puas ketika menemukan pola yang konsisten dan rapi, linguistik lebih memuaskan.

2. Sastra Cenderung Interpretatif, Linguistik Cenderung Analitis

Jujur saja, sastra sering dituduh “terlalu bebas”. Dua mahasiswa bisa meneliti novel yang sama, hasilnya sangat berbeda. Karena tafsir memang dipengaruhi sudut pandang dan kerangka teori.

Di satu sisi, ini menyenangkan. Kamu punya ruang kreatif dalam menyusun argumen. Tapi di sisi lain, ruang itu bisa membuatmu tidak pernah merasa cukup. Selalu ada teori baru yang bisa dipakai. Selalu ada sudut pandang lain yang bisa ditambahkan.

Linguistik relatif lebih ketat. Data bahasa diuji dengan teori tertentu. Salah analisis sedikit, bisa langsung dikoreksi. Ada rasa “eksak” di sana, walau tetap ilmu sosial.

Namun jangan salah. Ketat bukan berarti mudah. Justru karena lebih sistematis, kesalahan kecil bisa berakibat panjang. Salah klasifikasi, salah transkripsi, salah satu contoh revisi bisa berulang.

Kalau kamu tipe yang ingin pijakan metodologis yang terasa kokoh, linguistik biasanya memberi rasa aman. Kalau kamu menikmati ruang tafsir dan perdebatan makna, sastra menyediakan itu.

3. Skripsi Sastra Banyak Bergulat dengan Teks, Linguistik Bisa Turun ke Lapangan

Penelitian sastra sering kali berbasis teks. Kamu akrab dengan perpustakaan, PDF, dan stabilo warna-warni. Dunia kamu adalah halaman demi halaman.

Kedengarannya tenang. Tapi membaca satu novel berulang kali dengan fokus berbeda bukan perkara ringan. Apalagi kalau dosen pembimbingmu perfeksionis soal kedalaman analisis.

Di linguistik, tergantung topiknya, kamu bisa turun ke lapangan: merekam percakapan, menyebar angket, mewawancarai penutur, atau mengamati bahasa di media sosial. Artinya, kamu tidak hanya duduk membaca, tapi juga mengumpulkan data secara aktif.

Ini menarik bagi yang suka interaksi. Tapi juga melelahkan bagi yang tidak terbiasa berurusan dengan teknis pengumpulan data. Belum lagi kalau responden sulit dihubungi atau datanya tidak sesuai harapan.

Kalau kamu introvert yang bahagia sendirian membaca novel 300 halaman, sastra terasa bersahabat. Kalau kamu lebih bersemangat ketika bertemu orang dan mengolah data konkret, linguistik mungkin terasa lebih hidup.

4. Sastra Mengasah Sensitivitas Sosial, Linguistik Mengasah Ketelitian Logis

Belajar sastra membuatmu peka pada isu gender, kelas sosial, kekuasaan, identitas, dan relasi kuasa dalam teks. Kamu diajak membaca dunia lewat karya.

Sering kali, diskusi sastra tidak berhenti di teks. Ia merembet ke realitas sosial. Kamu belajar memahami konteks budaya dan sejarah di balik sebuah karya.

Linguistik mengasah ketelitian pada detail kecil. Satu fonem berbeda bisa mengubah makna. Satu afiks bisa menggeser kelas kata. Kamu dilatih untuk melihat pola dalam hal-hal yang tampak sepele.

Keduanya sama-sama penting. Tinggal pertanyaannya: kamu lebih menikmati diskusi panjang soal representasi perempuan dalam novel, atau lebih tertarik menganalisis pola morfologi bahasa daerah?

Yang Sering Tidak Dibicarakan: Soal Daya Tahan

Ini bagian yang jarang dijelaskan dosen.

Setiap peminatan punya tekanannya sendiri. Sastra menuntut kesabaran dalam memperdalam tafsir dan ketahanan mental menghadapi revisi konseptual. Linguistik menuntut ketelitian teknis dan konsistensi dalam analisis data.

Masalahnya, banyak mahasiswa memilih berdasarkan asumsi dangkal: sastra lebih santai, linguistik lebih ribet. Padahal, keduanya sama-sama bisa membuat skripsi seret kalau tidak sesuai dengan karakter kita.

Skripsi bukan sprint, tapi maraton. Kamu akan hidup dengan topik itu berbulan-bulan. Kalau sejak awal kamu tidak benar-benar tertarik, rasa lelahnya berlipat.

Jangan Pilih Karena Ikut Teman

Banyak mahasiswa memilih peminatan karena ikut-ikutan teman atau karena dosennya terkenal “baik”. Padahal yang akan menjalani proses panjang itu kamu sendiri.

Coba jujur pada diri sendiri. Kalau harus membaca teori sastra berulang-ulang selama enam bulan, kamu kuat? Atau kalau harus memeriksa data fonologi dan sintaksis berkali-kali, kamu telaten?

Peminatan bukan soal mana yang lebih keren. Ini soal kamu lebih tahan menderita di wilayah mana.

Pada akhirnya, sastra dan linguistik bukan dua kubu yang saling meniadakan. Keduanya sama-sama mempelajari bahasa dan manusia, hanya lewat pintu yang berbeda.

Yang bikin salah bukan pilihannya, tapi kalau memilih tanpa benar-benar mengenali diri sendiri.

Karena yang paling menyiksa bukan skripsi yang sulit melainkan skripsi yang sejak awal bukan wilayah minatmu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image