Marhaban Ya Ramadhan
Agama | 2026-02-18 23:45:27
Setiap tahun, umat Islam menyambut hadirnya bulan yang istimewa: Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Sebagai bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah, Ramadhan memiliki makna dan keistimewaan tersendiri yang membuatnya begitu berharga. Saat memasuki bulan Rajab, banyak umat Islam kembali melafalkan doa yang sering terdengar menjelang Ramadhan.
Lafadz doa Rajab :
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
"Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya'bana wa ballighna Ramadhan"
Artinya: "Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan." (HR At-Tirmidzi dan Ad-Darimi)
Do’a ini menjadi penanda awal persiapan ibadah yang lebih terarah dan sadar waktu. Di dalam doa ini tersimpan permohonan keberkahan, kesinambungan ibadah, dan harapan agar umur dipanjangkan hingga bertemu Ramadhan. Urutan Rajab, Syaban, lalu Ramadhan menunjukkan tahapan spiritual yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung.
Ucapan Marhaban Ya Ramadhan bukan sekadar tradisi, tetapi ekspresi kesiapan ruhani untuk memasuki madrasah kehidupan yang sarat nilai pembinaan iman, akhlak, dan kepedulian sosial. Ramadhan menghadirkan momentum perubahan, dari rutinitas menuju kesadaran, dari kelalaian menuju ketakwaan.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah pembentukan takwa—kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Ramadhan sebagai Madrasah Ruhani
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah proses pendidikan spiritual (tarbiyah ruhiyah) yang sistematis:
1. Puasa sebagai Latihan Pengendalian Diri
Puasa melatih disiplin, kesabaran, dan kejujuran. Dalam hadis disebutkan :
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)
Puasa menjadi instrumen pembersihan diri dari dosa sekaligus penguatan komitmen spiritual.
2. Al-Qur’an sebagai Sumber Pencerahan
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185).
3. Shalat Malam sebagai Penguat Kedekatan
Qiyamul lail (tarawih dan tahajud) adalah membangun relasi hubungan vertikal yang lebih intim antara hamba dan Rabb-nya. Malam-malam Ramadhan menjadi ruang refleksi dan muhasabah diri.
Diantara hadis yang sering kita dengar di bulan suci Ramadhan adalah :
ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
”Siapa yang melakukan qiyam di bulan Ramadan karena motivasi iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhori dan Muslim)
“Yang dimaksud qiyam adalah shalat, inilah makna asal qiyam, kemudian juga dzikir dan doa. Qiyamullail adalah memakmurkan malam dengan shalat, dzikir dan doa.
Dimensi Sosial Ramadhan
Ramadhan tidak berhenti pada kesalehan individual. Ia melahirkan kesalehan sosial.
1) Zakat, Infak, dan Sedekah
Solidaritas sosial meningkat signifikan di bulan ini. Kepedulian terhadap kaum dhuafa menjadi bukti nyata nilai takwa.
2) Memperkuat Ukhuwah
Tradisi berbuka bersama, silaturahmi, dan saling memaafkan memperkokoh persaudaraan. Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia, semangat Ramadhan memperkuat harmoni sosial.
3) Etos Kerja dan Integritas
Puasa bukan alasan untuk menurunkan produktivitas. Justru Ramadhan mendidik umat agar bekerja dengan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab, menjadikan ibadah sebagai energi moral dalam aktivitasnya.
Strategi Menyambut Ramadhan
Agar Ramadhan benar-benar menjadi momentum perubahan, diperlukan persiapan yang matang:
a) Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) – memperbanyak istighfar dan taubat sebelum Ramadhan tiba.
b) Perencanaan Ibadah – menyusun target tilawah, sedekah, dan amal sosial.
c) Penguatan Niat – meluruskan motivasi bahwa seluruh ibadah dilakukan karena Allah semata.
d) Komitmen Perubahan – menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perbaikan karakter jangka panjang.
Marhaban Ya Ramadhan adalah seruan kesiapan, bukan sekadar ucapan. Ramadhan hadir sebagai momentum tajdid (pembaruan) iman pribadi dan sosial. Ia adalah bulan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka.
Maka, mari kita sambut Ramadhan sebagai peluang emas untuk memperbaiki diri, memperdalam keimanan, dan memperluas manfaat bagi sesama.
Semoga Ramadhan kali ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih bertakwa, lebih bermakna, dan lebih diridhai Allah. Semoga Ramadhan kita penuh keberkahan. Ramadhan Mubarak.
Marhaban Ya Ramadhan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
