Menulis untuk Berbicara: Ekspresi Perlawanan dan Kebebasan dalam Puisi W.S. Rendra dan Wiji Thuku
Sastra | 2026-01-05 04:57:58Sastra Indonesia modern sering menjadi medium kritik sosial dan sarana ekspresi politik. Dua puisi yang menonjol dalam hal ini adalah “Aku Tulis Pamflet Ini” karya W.S. Rendra dan “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul. Meskipun lahir dari konteks dan gaya yang berbeda, kedua puisi ini menyoroti perjuangan manusia menghadapi ketidakadilan, penindasan, dan keterbatasan kebebasan.
W.S. Rendra menulis “Aku Tulis Pamflet Ini” pada tahun 1978, masa Orde Baru di mana kebebasan berpendapat dikontrol ketat oleh pemerintah. Rendra menggunakan puisi sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap pembungkaman ide, menekankan pentingnya komunikasi, debat, dan ekspresi kreatif dalam masyarakat.
Sementara itu, Wiji Thukul, melalui “Bunga dan Tembok”, menulis pada era 1980-an dengan fokus pada rakyat kecil yang menghadapi penindasan dan ketidakadilan sosial. Puisinya bersifat perjuangan dan revolusioner, menekankan keteguhan dan optimisme rakyat dalam menghadapi tirani.
kedua puisi menyoroti perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan sosial:
Tema dan Pesan Sosial
Rendra menekankan kebebasan intelektual dan ekspresi ide. “Pamflet” dan “merpati pos” menjadi simbol media komunikasi untuk melawan pembungkaman, menandakan bahwa manusia memiliki hak untuk menyampaikan pendapat secara bebas.
Thukul menekankan perjuangan rakyat kecil. Bunga yang menebar biji meski terhalang tembok simbolisasi keteguhan rakyat dalam menghadapi tirani
Sastra sebagai refleksi kondisi sosial
Puisi Rendra menampilkan masyarakat yang dibungkam oleh kekuasaan Orde Baru, di mana kritik dan kebebasan berekspresi dibatasi. Penulis menggunakan simbol komunikasi sebagai representasi keinginan individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik.
Puisi Thukul menampilkan masyarakat rakyat kecil yang tertindas oleh tirani, menggambarkan kondisi sosial-ekonomi yang timpang. Bunga dan tembok adalah alegori relasi antara rakyat dan institusi kekuasaan yang menindas.
Sastra sebagai bentuk kritik social
Rendra menggunakan cara halus: kritik melalui simbolisme intelektual, memfokuskan pada kebebasan berpikir dan hak individu untuk menyuarakan pendapat.
Thukul menggunakan cara tegas: kritik melalui alegori rakyat versus tirani, menekankan aksi sosial dan perlawanan kolektif.
Sastra sebagai agen perubahan social
Rendra mendorong pembaca untuk menyadari bahaya pembungkaman ide dan pentingnya diskusi bebas.
Thukul menekankan bahwa rakyat kecil, meski tertindas, memiliki potensi untuk mengubah struktur sosial yang tidak adil.
Simbolisme dan Strategi Sastra
Rendra: pamflet, merpati pos, bendera semaphore → simbol komunikasi bebas, ide, dan kreativitas intelektual.
Thukul: bunga dan tembok → simbol rakyat yang tertekan dan tirani yang menindas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
