Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Ketika Lonceng Masih Berbunyi, Tapi Tak Lagi Dijawab

Sastra | 2026-02-01 19:05:46
Ilustrasi

Di sebuah negeri bernama Lembah Penjaga, ada sebuah kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Setiap kali lonceng darurat berbunyi, para Penjaga akan berlari tanpa bertanya. Mereka membawa tali, lentera, perahu kecil, dan tangan yang terlatih untuk menarik siapa pun yang terjebak dari gelap. Tak ada yang menghitung ongkos saat itu, karena waktu selalu lebih mahal daripada emas.

Namun suatu hari, ketika musim muram datang lebih sering dari biasanya, para pemuka negeri berkumpul di aula yang hangat. Di sana, mereka berbicara panjang tentang penghematan lilin, tentang betapa mahalnya tali, dan tentang betapa sering lonceng berbunyi akhir-akhir ini. “Kita harus lebih bijak,” kata salah satu dari mereka, sambil menggoreskan angka-angka di atas kertas. “Tak semua lonceng perlu dijawab dengan berlari.”

Keputusan pun dibuat. Lentera dikurangi cahayanya, tali dipotong panjangnya, dan jumlah Penjaga dibatasi. Di atas meja, semua tampak masuk akal, rapi, efisien, dan terukur.

Masalahnya, malam tidak pernah membaca keputusan rapat.

Di pinggir lembah, mereka yang tinggal paling dekat dengan jurang mulai merasakan perubahan itu lebih dulu. Ketika jeritan minta tolong terdengar, Penjaga tetap datang, tetapi lebih lambat. Kadang hanya satu, bukan sepuluh. Kadang lentera padam sebelum tangan berhasil meraih tangan lain. Tidak ada yang berniat jahat, hanya saja mereka datang dengan bekal yang semakin tipis.

Para pemuka negeri heran ketika mendengar kabar itu. “Bukankah Penjaga masih ada?” tanya mereka. “Bukankah lonceng masih berbunyi?” Ya, semuanya masih ada. Hanya saja kehadiran tidak selalu sama dengan kesiapan.

Yang paling sering terjatuh adalah mereka yang rumahnya dibangun dari papan tipis, jauh dari pusat kota. Mereka tidak pernah diundang ke aula, tidak ikut menghitung lilin, dan tidak tahu bahwa tali kini dipotong lebih pendek. Bagi mereka, Penjaga bukan simbol atau cerita. Ia adalah perbedaan antara kembali pulang atau tidak sama sekali.

Seorang Penjaga tua pernah berkata lirih, “Kami diajari untuk menyelamatkan siapa pun yang bisa diraih. Tapi kini kami juga diajari untuk memilih sejauh mana kami boleh melangkah.” Ia tidak marah, hanya lelah. Sebab setiap langkah yang tidak diambil selalu meninggalkan pertanyaan sederhana namun menyakitkan, jika aku melangkah satu langkah lagi, apakah ia masih hidup?

Yang jarang dibicarakan di aula adalah ini. Setiap penghematan selalu memiliki alamat. Ia tidak jatuh di meja rapat, tidak menetap di tumpukan kertas, melainkan menemukan jalannya sendiri ke pinggir lembah, ke rumah-rumah paling rapuh, ke orang-orang yang tidak punya pilihan selain berharap lonceng itu masih berarti sesuatu.

Di dinding aula, terpajang semboyan besar tentang kewajiban melindungi seluruh lembah. Tulisan itu indah, dicetak dengan tinta terbaik. Namun di malam-malam panjang, semboyan tidak bisa menggantikan lentera, dan kata-kata tidak bisa mengikat simpul tali.

Kelak, Lembah Penjaga akan dikenang bukan dari berapa banyak lilin yang berhasil dihemat, melainkan dari siapa saja yang tidak sempat diraih ketika lonceng berbunyi. Sebab dalam urusan menyelamatkan, penghematan tanpa empati bukanlah kebijaksanaan. Ia hanyalah cara halus untuk mengatakan bahwa sebagian orang boleh dibiarkan jatuh.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image