Menitip Doa untuk Timur Tengah
Dunia arab | 2026-03-01 15:13:50Menitip Doa untuk Timur Tengah
M. Saifudin
Timur Tengah tidak pernah benar-benar tidur dari panggung sejarah dunia. Jika kita menengok ke belakang, wilayah ini seakan ditakdirkan menjadi pusat gravitasi perhatian global. Sejak era kuno, saat Kekaisaran Persia dan Romawi bersaing pengaruh, hingga dinamika modern hari ini, alasannya tetap serupa: posisi geografisnya yang merupakan "jembatan" vital penghubung antarbenua.
Secara historis, siapa pun yang memegang pengaruh di kawasan ini secara otomatis memegang kunci lalu lintas ekonomi dunia. Dahulu, magnet utamanya adalah jalur rempah dan sutra; kini, magnet itu beralih menjadi ketahanan energi, minyak, dan gas. Namun, di balik angka-angka ekonomi dan peta kekuatan tersebut, ada sisi kemanusiaan yang perlu kita renungkan bersama.
Bagi kita di Indonesia, setiap riak ketegangan di Timur Tengah bukan sekadar berita mancanegara yang jauh. Ia adalah urusan hati yang menyangkut ketenangan jutaan keluarga. Saat ini, eskalasi konflik di beberapa titik kawasan telah berdampak nyata pada stabilitas jalur udara. Meskipun kota suci Mekah dan Madinah relatif aman, penutupan ruang udara (airspace) secara mendadak di negara-negara sekitar kerap menjadi momok bagi kelancaran perjalanan jemaah umrah.
Rasa was-was serupa juga menghantui para calon jemaah haji yang telah mengantre puluhan tahun. Mereka mendambakan perjalanan ibadah yang khidmat, namun dinamika geopolitik memaksa munculnya rasa khawatir akan keamanan jalur transportasi udara yang menjadi urat nadi perjalanan suci mereka.
Kekhawatiran ini pun menjalar hingga ke asrama-asrama mahasiswa kita di Mesir, Arab Saudi, Yordania, hingga Maroko. Mereka adalah aset bangsa yang sedang menjemput ilmu demi masa depan. Di tengah hiruk-pikuk berita konflik, kita tentu berharap mereka dapat belajar dengan tenang tanpa harus selalu menoleh ke langit dengan rasa cemas.
Tak boleh dilupakan, ada jutaan pejuang keluarga—para pahlawan devisa—yang bekerja di Arab Saudi, UEA, dan negara-negara Teluk lainnya. Stabilitas kawasan adalah jaminan kelangsungan pekerjaan mereka. Ketika ketidaktentuan meningkat, beban batin itu tak hanya dirasakan oleh mereka yang bekerja di sana, tapi juga merambat hingga ke ruang tamu keluarga di kampung halaman.
Sejarah memang menunjukkan bahwa wilayah ini akan selalu dinamis karena kepentingannya yang terlalu besar bagi dunia. Namun, kita semua berharap agar setiap ketegangan dapat dikelola dengan diplomasi yang mengedepankan keselamatan warga sipil. Sebab, di atas segala kepentingan politik, ada hak setiap insan untuk hidup dengan tenang.
Timur Tengah akan tetap menjadi wilayah vital. Sebagai bangsa yang memiliki kedekatan emosional dan sejarah yang panjang, perlindungan terhadap warga negara kita—baik jemaah, pelajar, maupun pekerja—harus tetap menjadi prioritas utama. Di tengah situasi ini, mari kita titipkan keselamatan mereka kepada Sang Pemilik Kedamaian dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِهِمْ هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْهِمْ سَفَرَهُمْ هَذَا
"Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan mereka ini kebaikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan ini bagi mereka."
Semoga stabilitas di sana segera pulih, sehingga setiap langkah saudara kita yang sedang beribadah, belajar, maupun mengais rezeki, selalu berada dalam ketenangan dan lindungan Allah Ta’ala. Amin.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
