Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rama Kurnia Santosa

Empat Bilah Puisi Sebelum Mati Suri

Sastra | 2026-01-27 18:06:14

1

Ini puisi untuk pemula

kata-kata bebas bersahaja

katanya yang penting berima.

Duabelas jam menulis

tumpah juga ratusan tangis

gemetar dada sesak seperti bayi merindukan ais.

Seorang pemula menulis puisi

mencatatnya di halte yang lampunya mati.

2

Dua buah paradoks

adalah metafora untuk mereka

yang tiap hari pergi menjenguk dokter

meminta resep untuk obat sakit kepala.

Katanya obat tak lagi mempan

barangkali demam bukan sembarang demam

tapi sudah lama ia penyakitan

sembuh adalah ketidakmungkinan

bagi mereka yang mencari sehat

di dunia yang semakit sakit.

3

Bersilat lidah tiga manusia

dalam satu meja yang sama

ada yang memaki seorang wanita

ada yang menggoda

ada juga yang sedan meminta.

Ketiganya gagal menjadi manusia

besoknya kembali ke rute yang sama

mengubah jurus sesempurna permata di mal

dengan anggun ia bersiasat dalam tipu daya.

4

Empat bagian puisi paling tidak penting

setidaknya manusia masih bisa mengeja

atau paling tidak mencatat hal genting

sebab esok bisa saja kiamat datang tiba-tiba.

Ini adalah puisi urban

seorang remaja dengan gambar kecil-kecilan

tampak penuh di leher dan lengan

barangkali ia masih butuh kasih sayang

di dunia yang semakin berpenyakitan.

Bogor, 2025

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image