Puisi sebagai Teriakan Perlawanan terhadap Penindasan
Sastra | 2026-01-09 11:12:40
Puisi tidak selalu berbicara tentang keindahan. Dalam sejarah sastra Indonesia, puisi sering hadir sebagai teriakan protes, sebagai suara orang-orang yang selama ini diabaikan, dan sebagai bentuk terhadap keingintahuan. Dalam pendekatan sastra sosiologi, puisi dapat dilihat sebagai cermin sekaligus kritik atas kondisi sosial yang terjadi di masyarakat. Hal ini tampak jelas dalam puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan “Kau” karya Nuke Hanasasmit. Meski lahir dari konteks zaman yang berbeda, keduanya sama-sama menempatkan puisi sebagai alat kritik sosial, untuk menyoroti yang berlangsung, baik melalui sistem kekuasaan maupun melalui sikap dan moral para penguasa.
Menurut Wellek dan Warren sebagai tokoh yang membahas teori sosiologi sastra menyatakan bahwa studi sosiologi sastra mencakup tiga aspek utama, dalam bukunya yang berjudul teori sastra, yaitu: pengarang sosiologi, sosiologi karya sastra, dan sosiologi pembaca. Namun, dalam artikel ini hanya menggunakan dua aspek yaitu pengarang sosiologis dan sosiologi karya sastra. Status pengarang sosial mempunyai peran penting dalam membentuk tema, sudut pandang, dan sikap karya sastra yang dihasilkannya. Latar belakang sosial, pengalaman hidup, serta kedudukan pengarang dalam masyarakat mempengaruhi cara ia melihat dan merepresentasikan realitas sosial. Hal ini tampak jelas dalam puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit.
Penulis menilai terdapat hubungan aspek status sosial pengarang dengan tema puisi. Setelah membaca dan memahami isi puisi, ditemukan dua tema utama dalam puisi “Tembok dan Tenbok” dan “Kau” yang saling berkaitan, yaitu mencintai dan ketidakadilan sosial karena kedua puisi menggambarkan kondisi rakyat kecil yang hak-haknya dirampas dan penderitaannya diabaikan oleh pihak yang berkuasa. Selain itu, perlawanan dan harapan akan perubahan pada puisi “Bunga dan Tembok” menegaskan perlawanan kolektif terhadap tirani, sedangkan puisi “Kau” menampilkan perlawanan moral dan keyakinan akan keadilan.
Rasa dalam puisi “Bunga dan Tembok” adalah marah dan berani melawan, sedangkan puisi “Kau” menampilkan rasa pedih dan kecewa akibat ketidakadilan dan ketidakpedulian penguasa. Nada dalam kedua puisi sama-sama tegas dan kritis. Puisi “Bunga dan Tembok” bernada menantang dan penuh keyakinan terhadap perlawanan, sedangkan puisi “Kau” bernada menggugat dan menyentuh hati nurani melalui bahasa yang lugas dan emosional. Nada puisinya yang penuh semangat menunjukkan upaya untuk membangkitkan kesadaran dan kepekaan sosial pembaca terhadap kenyataan yang terjadi di sekitar. Penulis juga menemukan amanat yang terkandung dalam kedua puisi tersebut. Pada puisi “Bunga dan Tembok” dan “Kau”, tersampaikan pesan agar masyarakat tidak diam menghadapi ketidakadilan dan ketidakadilan. Puisi kedua ini mengajak pembaca untuk peka terhadap penderitaan rakyat kecil, berani bersuara, serta menjaga nurani dan keadilan dalam kehidupan sosial.
Puisi “Bunga dan Tembok” merupakan karya Wiji Thukul yang membahas mengenai dumping terhadap rakyat kecil oleh kekuasaan, khususnya perampasan ruang hidup dan hak-hak masyarakat atas nama pembangunan. Puisi ini menggambarkan konflik antara kaum tertindas dan penguasa, serta menegaskan semangat perlawanan dan keyakinan bahwa tirani pada akhirnya akan tumbang. Wiji Widodo, yang lebih dikenal sebagai Wiji Thukul seorang penyair Indonesia yang dikenal berani mencerminkan kehidupan rakyat kecil dan mengancam kekuasaan. Ia lahir di kampung Sorogenen, Solo, pada tanggal 26 Agustus 1963 dan dibesarkan dalam lingkungan sederhana yang membentuk kepeduliannya terhadap kaum tertindas. Pada masa Orde Baru, puisi-puisinya dianggap berbahaya karena berani mengungkap kebohongan dan ketidakadilan, hingga akhirnya ia menghilang secara paksa pada tahun 1998. Status sosialnya sebagai bagian dari masyarakat tertinda membuat puisinya berpihak secara tegas pada kaum marginal.
Dalam puisi “Bunga dan Tembok”, Wiji Thukul menggambarkan rakyat kecil sebagai “bunga” yang keberadaannya tidak dikehendaki oleh penguasa. Gambaran ini tampak jelas dalam larik:
“ seumpama bunga”
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh ”
Larik tersebut merefleksikan pengalaman sosial penyair yang menyaksikan secara langsung bagaimana rakyat sering kali disingkirkan atas nama pembangunan. Kekuasaan digambarkan sebagai “tembok” yang kaku dan menutup ruang kehidupan rakyat, lebih mementingkan kepentingan material dan proyek fisik dibandingkan kehidupan manusia, sebagaimana terlihat dalam larik
“engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah”
Namun, sebagai penyair yang berpihak pada rakyat kecil, Wiji Thukul tidak berhenti pada kritik semata. Ia juga menanamkan semangat perlawanan kolektif sebagai wujud kesadaran sosial kaum tertindas. Hal ini tercermin dalam larik
“tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji”
Kutipan ini menegaskan keyakinan bahwa bertekad tidak akan mematikan perjuangan, melainkan justru menumbuhkan perlawanan yang pada akhirnya akan meruntuhkan tirani.
Sementara itu, puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit juga lahir dari kepedulian terhadap realitas sosial masyarakat kecil. Posisi pengarang sosial sebagai pengamat sekaligus penyuarakan penderitaan rakyat ditunjukkan melalui penggunaan kata ganti “kami” dan “kau”, yang mempertegas jarak kelas sosial. Kata “kami” mewakili rakyat pekerja yang hidup dalam batasan, sebagaimana tergambar dalam larik
“ Kami mencoba kuat di atas kekurangan
Tak Lelah banting tulang ”
Sebaliknya, kata “kau” mewakili pihak berkuasa yang hidup berkecukupan dan tidak peduli terhadap penderitaan rakyat, seperti dalam larik
“Kau curi hak kami
Kau biarkan kamimenderita”
Berbeda dengan Wiji Thukul yang menutup puisinya dengan seruan perlawanan terbuka, Nuke Hanasasmit menampilkan bentuk perlawanan yang bersifat moral dan spiritual. Sikap ini tampak dalam keyakinan bahwa keadilan sejati akan ditegakkan oleh Tuhan.
“ Kami memang tak mampu membalas dirimu sendiri
Karena Tuhan yang akan membalas dirimu ”
Pada aspek status sosial pengarang, dapat disimpulkan bahwa kedua puisi ini lahir dari kepekaan yang sama terhadap kenyataan yang terjadi. Baik Wiji Thukul maupun Nuke Hanasasmit sama-sama menjadikan puisi sebagai ruang untuk menyuarakan pengalaman dan penderitaan rakyat kecil yang selama ini terpinggirkan. Perbedaannya terletak pada cara menyampaikan perlawanan. Wiji Thukul menampilkan perlawanan yang bersifat struktural dan kolektif, sementara Nuke Hanasasmit menghadirkan gugatan moral yang menyentuh nurani pembaca.
Latar belakang sosial budaya pengarang memiliki peran penting dalam membentuk isi dan arah karya sastra. Lingkungan tempat pengarang tumbuh, kondisi sosial yang dialami, serta realitas masyarakat yang disaksikan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tema, sudut pandang, dan sikap kritis dalam puisi yang ditulisnya. Wiji Thukul yang hidup dan berjuang di tengah rakyat kecil pada masa Orde Baru menggambarkan terjadinya melalui metafora yang sederhana namun kuat. Rakyat kecil dilukiskan sebagai “bunga”, sedangkan kekuasaan digambarkan sebagai “tembok” yang menyingkirkan mereka atas nama pembangunan, sebagaimana tampak dalam larik:
“kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh”
“engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah”
Meskipun menampilkan penderitaan, puisi ini tidak berhenti pada keluhan. Wiji Thukul juga menegaskan keyakinan dan semangat perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas, yang tercermin dalam larik:
“di mana pun – tirani harus tumbang!”
Sementara itu, puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit merefleksikan kondisi sosial masyarakat kecil yang hidup dalam kekurangan dan bekerja keras demi bertahan hidup, namun hak-haknya sering diabaikan. Gambaran tersebut terlihat jelas dalam larik:
“Kami mencoba kuat di atas kekurangannya
Tak lelah banting tulang”
Melalui bahasa yang lugas dan langsung, puisi ini menyampaikan gugatan terhadap ketidakpedulian pihak berwenang serta ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, melalui pendekatan sosiologi sastra, kedua puisi ini menunjukkan bahwa latar belakang sosial budaya pengarang sangat mempengaruhi puisi sebagai sarana kritik sosial dan sebagai suara perlawanan terhadap ketidakadilan.
Referensi
Avyliani, L. (2018). Aspek Sosiologi Pengarang Pada Struktur Batin Puisi Watashi Ga Ichiban Kirei Datta Toki. Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik), 7(1), 36-40.
Hidayat, MF (2025). Keadilan dan Usaha dalam Puisi “Al-'Adl Wa Al-Kasb” Karya Abdurrahman As-Syukri: Pendekatan Sosiologi Karya Sastra Wellek & Werren. An-Nas, 9(2), 137-152.
Thukul, Wiji. (2000). Aku Ingin Jadi Peluru. Tangerang: Indonesia TERA.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
