Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tommy Maolana

Doa-Doa Kecil di Negeri yang Bising

Agama | 2026-03-17 20:42:25
sumber: https://www.kontenislam.com/2023/02/keramat-shalawat-asyghil.html" />
sumber: https://www.kontenislam.com/2023/02/keramat-shalawat-asyghil.html

*Tommy Maulana

Lebaran kali ini, saya tidak pulang.

Bukan karena tiket yang mahal, bukan juga karena tak rindu rumah. Tapi ada tanggung jawab akademik yang belum selesai yang rasanya tak bisa ditunda, bahkan oleh hangatnya opor dan riuhnya ruang keluarga. Haha!

Jadi ya, untuk kedua kalinya, saya melewatkan momen mudik. Melewatkan juga satu ritual kecil yang belakangan jadi tren tahunan: ikut-ikutan memakai lagu “Taragak Pulang” berbahasa minang yang selalu ramai itu. Padahal jujur saja, tulisan ini saya buat sambil mendengarkan lagu tersebut sungguh ironis, ya. wkwk

Tapi sebenarnya, ini bukan tentang tidak pulang. Itu hanya pembuka.

Yang ingin saya tulis adalah tentang bagaimana rasanya hidup di negeri ini akhir-akhir ini. Mari kita berdoa bisa masuk surga via jalur WNI, wkw

Tentang kabar APBN yang defisit. Tentang peristiwa penyiraman air keras pada salah seorang aktivis yang menyisakan banyak tanya dan mungkin juga rasa takut. Tentang Indonesia yang ikut dalam pusaran global seperti BoP, dengan segala konsekuensinya yang tidak semua orang benar-benar pahami, tapi dampaknya pelan-pelan terasa.

Dan saya, di sini di lantai tiga sebuah gedung di tengah riuhnya kota Jakarta.

Menjelang subuh, atau tepatnya waktu imsak, terdengar lantunan sholawat Asyghil. Entah dari masjid atau mushola mana. Nyaring. Jelas. Seolah ingin memastikan bahwa semua orang mendengar.

Kita tahu arti sholawat itu. Bukan sekadar doa. Ada nada harap, ada juga nada getir. Ada semacam kelelahan kolektif yang tidak selalu bisa diucapkan secara terang-terangan.

Mungkin ini cara paling aman.

Karena jalur darat belakangan terasa makin berisiko. Orang bisa diserang, dibungkam, atau sekadar “diingatkan” dengan cara yang tidak manusiawi. Jadi ya, jalur langit jadi pilihan terakhir yang tersisa.

Lucu juga, ya. Di tengah segala kemajuan, kita kembali ke cara paling lama: berdoa lebih keras, berharap lebih dalam.

Dan di titik ini, saya sadar tidak pulang ke rumah mungkin bukan kehilangan terbesar. Mungkin suatu hari nanti, kita akan benar-benar bisa pulang, bukan hanya ke kampung halaman, tapi ke sebuah negeri yang tidak lagi membuat warganya berbisik dalam doa, dan takut saat bersuara.

*Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image