Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dila Ramadhani

Bullying dan Budaya Diam yang Memeliharanya

Edukasi | 2026-03-17 14:22:22
Ilustrasi bullying di lingkungan sosial, di mana korban menjadi pusat ejekan banyak orang. Sumber: azmeyart-design/Pixabay.

Bullying atau perundungan masih menjadi persoalan yang sering muncul di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Meski sudah banyak dibicarakan, kenyataannya kasus seperti ini masih saja terjadi. Yang menarik, dalam banyak situasi, tindakan bullying tidak hanya terjadi karena keberanian pelaku, tetapi juga karena adanya sikap diam dari orang-orang di sekitarnya. Tanpa kita sadari, sikap diam ini sering kali membuat perundungan terus berlangsung.

Bentuk bullying sangat beragam. Ada yang berupa ejekan, mempermalukan seseorang di depan umum, mengucilkan teman dari kelompok, bahkan sampai pada kekerasan fisik. Pada era sekarang, bentuk bullying juga bisa melalui media sosial. Tidak jarang seseorang dijadikan bahan olokan di grup chat, fotonya disebarkan tanpa izin, atau dihina secara terbuka di internet. Hal-hal seperti ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya bagi korban bisa cukup berat.

Sayangnya, dalam banyak kejadian, orang-orang yang melihat justru memilih untuk diam. Sebagian merasa itu bukan urusannya, sebagian lagi takut jika ikut campur malah akan menjadi target berikutnya. Ada juga yang menganggapnya hanya candaan biasa. Sikap diam seperti ini sering kali tanpa kita sadari membuat pelaku merasa tindakannya tidak benar-benar ditentang.

Menurut saya, di sinilah masalah yang sering kali tidak disadari. Ketika orang-orang di sekitar memilih diam, pelaku bullying seperti diberi ruang untuk terus mengulang perbuatannya. Sikap diam itu mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Tanpa adanya reaksi dari lingkungan, perundungan perlahan bisa dianggap sebagai hal yang biasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga sering melihat bagaimana ejekan antar teman dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Banyak orang beralasan bahwa itu hanya bercanda, padahal kata-kata tersebut sebenarnya bisa menyakitkan. Mungkin bagi sebagian orang terdengar biasa saja, tetapi bagi orang yang menerimanya, hal itu bisa membuatnya merasa tidak dihargai, bahkan tertekan.

Karena itu, menurut saya lingkungan sekitar perlu lebih peka terhadap situasi seperti ini. Tidak semua orang harus berhadapan langsung dengan pelaku, tetapi setidaknya kita bisa menunjukkan bahwa perilaku seperti itu tidak pantas. Kadang sikap sederhana, seperti tidak ikut menertawakan ejekan atau memberi dukungan kepada korban, sudah bisa sangat berarti.

Selain itu, peran sekolah dan keluarga juga sangat penting. Lingkungan yang sehat seharusnya menjadi tempat di mana setiap orang bisa merasa aman menjadi dirinya sendiri. Jika sejak awal ada sikap tegas terhadap tindakan perundungan, besar kemungkinan perilaku seperti itu tidak akan berkembang lebih jauh.

Pada akhirnya, menghentikan bullying bukan hanya soal menegur pelaku, tetapi juga tentang mengubah kebiasaan kita sebagai masyarakat. Selama masih banyak orang yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan, perundungan akan selalu menemukan ruang untuk terus terjadi. Karena itu, menurut saya langkah kecil seperti berani bersuara atau menunjukkan empati bisa menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image